Tenaga Geologi (Endogen dan Tektonis) : Pengertian, Macam, Jenis dan Prosesnya Lengkap

Tenaga Pengubah Bentuk Muka Bumi Yang Berasal Dari Dalam Bumi, Tenaga Geologi (Endogen dan Tektonis)

Bentuk permukaan bumi yang kita saksikan tidak rata serta akan selalu berubah meskipun secara perlahan dan dalam jangka waktu yang lama. Perubahan bentuk permukaan bumi disebabkan oleh adanya tenaga alam yang disebut tenaga geologi. Ilmu yang mempelajari tentang proses perubahan bentuk permukaan bumi adalah geomoifologi.

Tenaga Pengubah Bentuk Muka Bumi Yang Berasal Dari Dalam Bumi

Berdasarkan asalnya tenaga geologi dibedakan menjadi dua, yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen.

Tenaga Endogen

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dan dalam bumi dan bersifat membangun permukaan bumi. Tenaga endogen terdiri atas tenaga tektonis, vulkanis, dan gempa bumi.

Tenaga Tektonis

Tenaga tektonis merupakan tenaga dan dalam bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan letak lapisan permukaan bumi secara mendatar atau vertikal, baik yang mengakibatkan putusnya hubungan batuan maupun tidak. Gerakan tektonis dibedakan menjadi dua , yaitu tektonis epirogenesa dan tektonis orogenesa.

Tektonis Epirogenesa

Tektonis epirogenesa adalah proses perubahan bentuk da:atan yang disebabkan oleh tenaga yang lambat dan dalam dengan arah vertikal, baik ke atas maupun ke bawah meliputi wilayah yang Iuas. Gerakan tektonis epirogenesa ada dua macam, yaitu epirogenesa positifdan epirogenesa negatif.

  • Epirogenesa positif adalah gerakan dengan arah ke bawah menyebabkan daratan mengalami penurunan dan seolah-olah permukaan laut menjadi naik. Penyebab gerakan itu adalah adanya tambahan beban, misalnya adanya sedimen yang sangat tebal di suatu lembah yang sangat luas di kulit bumi (geosinklinal) atau karena tertutup glasial yang sangat tebal. Contohnya adalah pada periode Pleistosen saat terjadi Zaman Es yang meluas ke arah ekuator dan menyebabkan beberapa daerah mengalami penurunan. Karena ujung selatan Louisiana di muara Mississippi mengalami proses pengendapan sangat cepat, akibatnya daerah geosinklinal di Indonesia tertutup endapan sampai ribuan meter.
  • Epirogenesa negatif adalah gerakan dengan arah ke atas menyebabkan naiknya permukaan daratan dan seolah-olah permukaan laut menjadi turun. Penyebab gerakan itu adalah pengurangan beban lapisan kerak bumi, misalnya lapisan es yang mencair. Contohnya adalah Pantai Stockholm yang naik rata-rata 1 m setiap 100 tahun. Banyak pula plato yang terbentuk karena pengangkatan dataran rendah secara perlahan-lahan, misalnya Plato Colorado mengalami pengangkatan sekitar 1.000 meter sejak 50 juta tahun yang lalu.

Tektonis Orogenesa

Tektonis orogenesa adalah pergerakan lempeng tektonis yang sangat cepat meliputi wilayah yang sempit. Tektonik orogenesa merupakan proses pembentukan gunung atau pegunungan akibat adanya tabrakan lempeng benua, tabrakan sesar bawah benua dengan lempeng samudra, perekahan kontinen, atau pergeseran punggung samudra dengan benua. Tektonis orogenesa biasanya disertai proses pelengkungan (warping), lipatan (folding), patahan (faulting), dan retakan (jointing) serta adanya penerobosan batuan beku dan pembentukan batuan malihan. Salah satu contoh hasil tektonis orogenesa adalah deretan Pegunungan Mediterania yang memanjang dan pegunungan Atlas di Afrika sampai wilayah Indonesia.

  • Lipatan (Fault)

Struktur batuan akan mengalami pelipatan jika terkena suatu tekanan yang lemah, tetapi berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama. Besarnya tekanan masih di bawah titik patah batuan sehingga dapat ditahan oleh sifat plastis batuan.

Bagian puncak lipatan disebut antiklinal, sedangkan bagian lembah disebut sinklinal. Daerah pegunungan lipatan besar biasanya dihasilkan oleh tekanan horizontal dan arah yang berlawanan yang puncaknya masih mengalami pelipatan kecil-kecil, demikian juga bagian lembah.

Berdasarkan sumbu lipatannya, terdapat 4 tipe pelipatan yang umum, yaitu lipatan tegak, lipatan miring, lipatan menggantung, dan lipatan rebah.

  • Patahan (Fold)

Struktur batuan mengalami patahan jika terjadi tekanan yang kuat melampaui titik patah batuan dan berlangsung sangat cepat. Batuan tidak hanya retak-retak, tetapi dapat terpisah. Daerah sepanjang patahan biasanya merupakan pusat gempa bumi karena selalu mengalami pergeseran.

Terdapat 3 jenis patahan yang khas akibat adanya gerakan lempeng.

  • Norma/Fault, yaitu patahan yang arah lempeng batuannya turun mengukuti arah gaya berat.
  • Reserve Fault, yaitu patahan yang arah lempeng batuannya naik berlawanan arah dengan gaya berat.
  • Strike Slip Fault, yaitu patahan yang arah lempeng batuannya horizontal dan berlawanan.

Berbagai tipe patahan tersebut dapat menghasilkan bentuk permukaan bumi, yaitu sebagai berikut.

  • Graben atau Slenk (tanah turun), yaitu suatu depresi yang terbentuk antara dua patahan sehingga blok batuan yang berada di tengah kedua patahan mengalami penurunan.
  • Horst (tanah naik), yaitu jika bagian di antara dua patahan mengalami pengangkatan lebih tinggi dan daerah sekitarnya.
  • Fault Scrap, yaitu dinding terjal (cliff) yang dihasilkan oleh patahan dengan salah satu blok bergeser ke atas menjadi lebih tinggi. Sering kali fault scrap tidak tampak lagi karena sudah mengalami erosi.
Baca Juga :  Interpretasi Citra : Pengertian, Unsur Dan Contoh Beserta Penjelasannya Lengkap

Retakan (Joint)

Struktur retakan terjadi karena pengaruh gaya renggangan sehingga batuan retak-retak, tetapi masih sambung. Retakan biasanya ditemukan pada batuan yang rapuh di daerah puncak antiklinal dan dikenal dengan nama tectonic joint.

Pelengkungan (Warping)

Gerak vertikal yang tidak merata pada suatu daerah, khususnya yang berbatuan sedimen akan menghasilkan perubahan struktur lapisan yang semula horizontal menjadi melengkung. Jika melengkung atas akan membentuk kubah (dome), sedangkan jika melengkung ke bawah membentuk cekungan (basin).

Tenaga Vulkanis

Vulkanis atau bersifat gunung api dapat diartikan sebagai suatu gejala atau akibat adanya aktivitas magma di dalam litosfer hingga keluar sampai ke permukaan bumi. Magma adalah bahan batuan pijar yang dapat berupa benda padat, cair, dan gas yang berada di dalam kerak bumi. Ilmu yang mempelajari Gunung berapi adalah vulkanologi.

Terdapat 2 gerakan magma, yaitu intrusi dan ekstrusi.

  • Intrusi Magma

Intrusi magma adalah proses penerobosan magma melalui rekahan-rekahan (retakan) dan celah pada lapisan batuan pembentuk litosfer, tetapi tidak sampai keluar ke permukaan bumi. Proses intrusi terjadi akibat tekanan gas-gas yang terkandung di dalam magma itu sendiri. Karena adanya proses pendinginan akibat penurunan suhu, magma dapat membeku dan membentuk bongkah-bongkah batuan yang sangat keras.

  • Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma adalah proses keluarnya magma ke permukaan bumi. Ada 2 cara proses keluarnya magma tersebut, yaitu meleleh dan mendesak.

  1. a) Meleleh (erupsi efusif) melalui retakan-retakan pada badan gunung api.
  2. b) Mendesak tubuh gunung api (erupsi eksplosif) sehingga menghancurkan sebagian badan gunung api tersebut.

Berdasarkan bentuknya, gunung api dibedakan menjadi tiga, yaitu strato, maar, dan perisai.

  • Gunung Api Strato

Gunung api strato berbentuk kerucut. Kerucut itu terbentuk karena materi letusan gunung api merupakan campuran antara erupsi efusifdan erupsi eksplosif. Letusan itu terjadi berulang-ulang hingga membentuk lapisan—lapisan badan gunung. Hampir seluruh gunung api yang ada di Indonesia merupakan gunung api strato. Contohnya, Gunung Merapi di Jawa Tengah.

  • Gunung Api Maar

Gunung api maar berbentuk seperti danau kecil. Bentuk seperti danau itu disebabkan oleh letusan gunung yang bersifat eksplosif, namun tidak terlalu kuat dan hanya terjadi sekali. Contohnya, Gunung Lamongan di Jawa Timur.

  • Gunung Api Perisai

Gunung api perisai berbentuk seperti perisai. Bentuk seperti perisai itu disebabkan oleh letusan gunung api dengan bahan-bahan yang dikeluarkan berupa lava yang sangat cair. Contohnya, gunung api di Kepulauan Hawaii.

Berdasarkan tipe letusannya, gunung api dibedakan sebagai berikut.

  • Tipe Hawaii

Magma yang dikeluarkan sangat cair dengan tekanan gas rendah berasal dan dapur magma yang dangkal. Contohnya, Gunung Kilauea dan Mauna Loa di Kepulauan Hawaii.

  • Tipe Stromboli

Erupsi yang terjadi tidak terlalu eksplosif, tetapi berlangsung lama. Sering terjadi letusan kecil dan banyak mengeluarkan eflata. Magma yang dikeluarkan cair dengan tekanan gas sedang berasal dan dapur magma yang agak dalam. Contohnya, Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Vesuvius di Italia.

  • Tipe Vulkano

Magma yang dikeluarkan kental dengan tekanan gas sedang sampai tinggi, berasal dan dapur magma yang dangkal sampai agak dalam. Contohnya, Gunung Raung di Jawa Timur dan Gunung Etna di Italia.

  • Tipe Perret

Mempunyai ledakan yang sangat dahsyat disertai material yang menyembur ke angkasa karena tekanan gas yang sangat tinggi. Contohnya, Gunung Krakatau di Selat Sunda.

  • Tipe Merapi

Magma kental dan mengalir secara perlahan karena tekanan gas yang rendah sehingga membentuk sumbat kawah. Akibatnya, tekanan gas makin kuat hingga kawah tersebut terangkat dan pecah yang disertai keluarnya awan panas. Contohnya, Gunung Merapi di Jawa Tengah.

  • Tipe St. Vincent

Magma kental dengan tekanan gas sedang berasal dan dapur magma yang dangkal. Contohnya, Gunung Kelud di Jawa Timur dan Gunung St. Vincent di Kepulauan Antiles.

  • Tipe Pelee

Magma kental dengan tekanan gas yang tinggi berasal dan dapur magma yang dalam. Contohnya, Gunung Pelee di Amerika Tengah.

Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran yang dapat dirasakan di permukaan bumi karena adanya gerakan, terutama yang berasal dan dalam lapisan-lapisan bumi.

Gempa bumi merupakan aktivitas lempeng tektonik yang sering terjadi. jika semua goncangan, mulai dan yang lemah sampai yang keras dihitung, gempa bumi terjadi sekitar sejuta kali setiap tahun.

Secara umum penyebab terjadinya gempa bumi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gempa tektonis, gempa vulkanis, dan gempa runtuhan.

Gempa Tektonis

Sebagian besar gempa bumi disebabkan oleh proses tektonik, yaitu gerakan yang terjadi di dalam kulit bumi secara tiba-tiba, baik berupa patahan maupun pergeseran. Menurut teori lempeng tektonik, pusat gempa tektonis terdapat di zona subduksi, yaitu pertemuan antara lempeng benua dan lempeng samudra. Pinggir depan lempeng samudra masuk ke bawah lempeng benua.

Gempa Vulkanis

Gempa vulkanis adalah gempa yang disebabkan oleh adanya letusan atau retakan yang terjadi di dalam struktur gunung berapi. Gempa vulkanis terjadi karena magma atau batuan yang meleleh menerobos ke atas kerak bumi. Gempa bumi vulkanis sangat terasa di daerah sekitar gunung berapi, tetapi pengaruhnya tidak terasa pada jarak yang cukup jauh. Hal itu disebabkan intensitas gempa bumi vulkanis berkisar dan lemah sampai sedang.

Baca Juga :  6 Lapisan Atmosfer : Pengertian, Fungsi, dan Jenisnya Lengkap

Gempa Runtuhan

Terjadinya gempa runtuhan antara lain disebabkan oleh adanya longsoran massa batuan, misalnya dan lereng gunung atau dan atas atau sisi gua, dan adanya tanah ambles. Intensitas gempa runtuhan sangat kecil sehingga tidak terasa pada jarak yang jauh. Gempa runtuhan disebut juga gempa terban.

Gerakan kerak bumi menyebabkan adanya gelombang gempa bumi dengan intensitas dan yang sangat lemah sampai sangat kuat. Gerakan kerak bumi yang lemah sulit untuk dirasakan. Adanya gerakan itu baru dapat diketahui dengan menggunakan alat pengukur gerakan yang peka, yaitu seismograf Seismograf dapat mencatat getaran-getaran dan gerakan gelombang gempa bumi serta dapat digunakan untuk menunjukkan pusat terjadinya gempa.

Sebuah seismograf pada dasarnya adalah suatu bandul (pendulum) yang bekerja berdasarkan prinsip kelembaman atau ketahanan terhadap perubahan gerakan. Massa benda pada ujung bandul akan tetap diam ketika tanah bergerak ke bawah. Sebuah pena pencatat yang diikatkan pada pemberat bandul akan mengikuti getaran di atas kertas yang bergerak bersama tanah.

Seismograf ada dua macam, yaitu seismografvertikal dan seismograf horizontal. Seismograf vertikal adalah seismograf yang mencatat getaran dengan arah vertikal, sedangkan seismograf horizontal adalah seismograf yang mencatat getaran dengan arah horizontal.

Kertas yang dipakai untuk mencatat dililitkan di sekeliling tabung yang terus berputar dan bergerak maju di bawah pencatat, selanjutnya pena akan menggambarkan suatu garis yang tidak putus-putus di atas kertas. Intensitas kekuatan gempa dapat diketahui dengan menggunakan skala Richter dan skala Mercalli.

Istilah-istilah yang berhubungan dengan gempa bumi antara lain sebagai berikut.

  • Hiposentrum yaitu pusat terjadinya gempa bumi. Hiposentrum terletak di lapisan bumi bagian dalam.
  • Episentrum yaitu pusat gempa bumi yang terletak di permukaan bumi tegak lurus dengan hiposentrum.
  • Seismograf yaitu alat pencatat gempa bumi yang terdiri atas seismograf vertikal dan horizontal.
  • Seismogram, yaitu gambaran getaran gempa bumi yang dicatat oleh seismograf dalam bentuk grafik pada pita.
  • Pleistoseista, yaitu garis yang membatasi daerah yang mengalami kerusakan terhebat terletak di sekitar episentrum. Pleistoseista merupakan isoseista yang pertama setelah episentrum.
  • Homoseista, yaitu garis yang menghubungkan daerah-daerah yang dilalui gelombang getaran gempa yang sama dalam waktu yang sama pula.
  • Isoseista, yaitu garis yang menghubungkan tempat-tempat dengan kekuatan getaran yang sama.

Secara geologis wilayah Indonesia merupakan pertemuan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng India-Australia. Pertemuan kedua lempeng tektonik tersebut membentuk dua jalur pegunungan lipatan yang melalui wilayah Indonesia, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik. Oleh karena itu, di Indonesia banyak dijumpai gunung api yang masih aktifserta sering terjadi gempa bumi.

Sirkum Mediterania

Sirkum Mediterania berawal dan Pegunungan Alpen di Eropa kemudian menyambung ke Pegunungan Himalaya di Asia dan masuk ke Indonesia melalui Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara. dan Maluku. Di wilayah Indonesia Sirkum Mediterania terbagi menjadi dua jalur, yaitu busur  dalam dan busur luar

  • Busur Dalam

Busur dalam dan Sirkum Mediteranja merup akan jalur vuIkanis. Wilayah yang termasuk busur dalam meliputi Pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu, di wilayah-wilayah  tersebut banyak dijumpai gunung api yang  aktif, antaranya lain Gunung Leuser, Gunung Krakatau, Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

  • BusurLuar

Busur luar dan Sirkum Mediterania merupakan jalur nonvulkanis yang sebagian besar terdapat di dasar laut. Wilayah yang termasuk busur luar meliputi wilayah pantai barat Sumatra, pantai selatan, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Sirkum Pasifik

Sirkum Pasifik berawal dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan kemudian menyambung ke Pegunungan Rocky di Amerika Utara, Jepang, Filipina masuk ke wilayah Indonesia melalui Pulau Sulawesi bersambung ke Pulau Halmahera sampai ke Pulau Papua.

Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dan luar bumi dan bersifat merusak. Tenaga eksogen terdiri atas pelapukan, erosi, pengangkutan, dan sedimentasi.

Pelapukan

Pelapukan merupakan proses perusakan dan penghancuran massa batuan yang disebabkan oleh pengaruh cuaca, angin, dan organisme. Berdasarkan proses terjadinya, pelapukan dibedakan menjadi tiga, yaitu pelapukan mekanik, kimiawi, dan organik.

Pelapukan Mekanik

Pelapukan mekanik adalah proses penghancuran batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil tanpa mengubah susunan kimia batuan. Faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan mekanik antara lain sebagai berikut.

  • Perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Kondisi itu umumnya terjadi di daerah gurun. Pada slang han suhu udara di daerah tersebut sangat tinggi sehingga batuan mengalami pemuaian, sedangkan pada malam hari suhu udara sangat rendah sehingga batuan mengerut. Perubahan suhu itu menyebabkan batuan mudah retak dan alchirnya pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
  • Pembekuan air di dalam celah-celah batuan. Air dalam keadaan cair akan meningkat volumenya jika membeku menjadi kristal-kristal es. Oleh karena itu, air yang membeku di dalam celah- Erosi oleh angin dan hujan terhadap batuan di celah-celah batuan dapat menekan batuan sehingga pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Baca Juga :  Pengertian dan Jenis-Jenis Proyeksi Peta Beserta Penjelasannya

Pelapukan Kimiawi

Pelapukan kimiawi merupakan proses penghancuran massa batuan yang disertai perubahan struktur kimia batuan. Pelapukan ini terjadi karena adanya pelarutan. Air hujan yang mengandung CO2, dan asam amoniak sangat besar daya pelarutannya. Selain itu, suhu udara yang tinggi dan curah hujan yang besar mempercepat proses pelapukan kimiawi.

Pelapukan kimiawi dapat kita tern ukan pada daerah kapur. Curahan air hujan disertai suhu udara yang tinggi mempercepat pelarutan batuan kapur. Bentuk-bentuk hasil pelapukan kimiawi di daerah kapur antara lain dolina, gua atau sungai di bawah tanah, serta stalaktit dan stalakmit.

Pelapukan Organik

Pelapukan organik merupakan proses penghancuran massa batuan yang disebabkan oleh binatang dan tumbuhan. Contohnya adalah proses penghancuran batuan yang dilakukan oleh akar tanaman yang menempel pada batuan.

Erosi

Erosi atau pengikisan adalah proses terlepasnya partikel batuan secara alamiah oleh tenaga pengangkut yang ada di permukaan bumi, antara lain angin dan air. Erosi yang berlangsung secara alamiah dapar dikatakan tidak mengganggu keseimbangan lingkungan karena partikel-partikel tanah yang diendapkan seimbang dengan tanah yang terbentuk di tempat-tempat yang lebih rendah. Adapun erosi yang terjadi akibat kesalahan manusia dalam mengelola lahan dapat menimbulkan bencana. Misalnya, penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor.

Erosi Aliran Permukaan

Erosi aliran permukaan dapat terjadi apabila intensitas dan atau lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi. Oleh karena itu, laju erosi permukaan dipengaruhi oleh kecepatan dan turbulensi aliran.

Erosi Angin

Proses pengikisan batuan atau tanah yang dilakukan oleh angin disebut deflasi. Erosi angin banyak terjadi di daerah gurun. Angin kencang yang membawa kerikil dan pasir mengikis batuan yang dilaluinya Bentuk-bentuk lahan yang dapat diamati akibat erosi angin antara lain batu jamur.

Erosi Gletser

Erosi gletser sering disebut erosi glasial, yaitu erosi yang terjadi akibat pengikisan massa es yang bergerak menuruni lereng. Erosi gletser dapat terjadi di pegunungan tinggi yang tertutup salju, misalnya di Pegunungan Himalaya, Pegunungan Alpen, dan Pegunungan Rocky.

Ciri khas bentuk lahan akibat erosi gletser adalah adanya alur-alur lembah yang arahnya relatifsejajar. Erosi gletser yang berlangsung lama dapat membuat lembah-lembah yang dalam dengan bentuk seperti huruf U.

Erosi Air Laut

Erosi oleh air laut disebut abrasi atau erosi marine. Erosi air laut disebabkan oleh gelombang yang mampu mengikis batuan yang ada di pantai, kemudian diendapkan di sekitar pantai tersebut. Makin besar gelombang air laut makin kuat pula tenaga untuk mengikis batuan.

Beberapa bentuk lahan akibat erosi air laut antara lain sebagai berikut.

  • Cliff yaitu pantai yang berdinding curam sampai tegak.
  • Relung, yaitu cekungan-cekungan yang terdapat pada dinding cliff.
  • Dataran abrasi, yaitu hamparan wilayah yang datar akibat abrasi dan dapat terlihat jelas pada saat pasang surut.

Mass Wasting

Mass wasting (tanah bergerak) adalah perpindahan massa batuan atau tanah karena pengaruh gaya berat. Proses terjadinya mass wasting hampir sama dengan proses erosi, yaitu melalui tahapan pelepasan massa batuan atau tanah dari batuan induknya, pemindahan batuan yang terkikis (transportasi), dan pengendapan (sedimentasi).

Bentuk-bentuk mass wasting antara lain sebagai berikut.

  • Tanah longsor (landslide).
  • Tanah amblas atau ambruk (subsidence).
  • Tanah nendat (slumping), yaitu proses longsoran tanah yang gerakannya terputus-putus sehingga hasilnya memperlihatkan bentukan seperti teras.
  • Tanah mengalir (earth flow), yaitu gerakan tanah yang jenuh air pada lereng-lereng yang landai.
  • Lumpur mengalir (mud flow), yaitu sejenis tanah mengalir dengan kadar air yang tinggi.
  • Rayapan tanah (soil creep), yaitu gerakan tanah yang sangat lambat pada lereng yang landai.

Sedimentasi

Sedimentasi adalah pengendapan material hasil erosi karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang (menjadi lambat). Karena media pengangkut materi berbeda-beda, sedimentasi juga menghasilkan bentukan alam yang berbeda pula.

Sedimentasi Fluvial

Sedimentasi fluvial adalah proses pengendapan materi-materi yang diangkut oleh air sepanjang aliran sungai. Tempat-tempat pengendapannya antara lain   Proses pengendapan yang terjadi di sepanjang aliran sungai memperlihatkan sifat yang khas, yaitu makin ke hilir makin kecil ukuran butiran batuan yang diendapkan. Pada bagian hulu, batuan yang diendapkan berupa batu besar. Pada bagian tengah, materi yang diendapkan adalah batu-batu dengan ukuran yang lebih kecil, kerikil, dan pasir kasar, sedangkan pada bagian hilir sampai muara sungai materi yang diendapkan berupa pasir halus dan lumpur.

Bentuk-bentuk endapan fluvial antara lain sebagai berikut.

  • Delta, yaitu endapan di muara sungai, baik danau maupun laut. Delta terbentuk jika material yang diendapkan cukup banyak serta arus dan gelombang tidak besar. Berdasarkan bentuknya, delta dibedakan menjadi 4, yaitu delta runcing, delta cembung, delta pengisi estuarium, dan delta kaki burung.
  • Bantaran Sungai, yaitu daratan yang terdapat di tengah-tengah badan sungai atau pada kelokan dalam sungai sebagai hasil pengendapan. Bantaran sungai biasa ditemui di daerah hilir sungai yang arus airnya sangat lambat sehingga dapat terjadi pengendapan.

Sedimentasi Aeolis

Sedimentasi aeolis merupakan proses pengendapan materi-materi yang dibawa atau diangkut oleh angin. Proses pengendapan batuan atau tanah banyak terjadi di daratan, misalnya gurun dan pantai. Oleh karena itu, sedimentasi aeolis disebut juga sedimentasi terestrial.

Bentukan alam hasil pengendapan angin antara lain gumuk pasir (sand dunes), yaitu gundukan-gundukan pasir yang terdapat di daerah pantai atau gurun. Ukuran sand dunes bermacam-macam, ada yang kecil dan ada yang besar sehingga menyerupai bukit. Di Indonesia gumuk pasir terdapat di pantai Parangtritis, Yogyakarra. Adapun bentuk-bentuk gumuk pasir antara lain menyerupai bulan sabit (barkhan) dan memanjang (whale back).

Sedirnentasi Marine

Sedimentasi marine merupakan pengendapan materi hasil abrasi di sepanjang pantai. Adapun bentuk-bentuk sedimentasinya antara lain sebagai berikut.

  1. a) Gosong, yaitu timbunan pasir hasil pengikisan oleh air laut.
  2. b) Tombolo, yaitu gosong yang menghubungkan pulau karang dengan pulau utama.

Baca Juga :

Tenaga Geologi (Endogen dan Tektonis) : Pengertian, Macam, Jenis dan Prosesnya Lengkap | hasbimutsani | 4.5