3 Konsep Wilayah dan Perwilayahan Beserta Penjelesannya Lengkap

3 Konsep Wilayah dan Perwilayahan Beserta Penjelesannya Lengkap

3 Konsep Wilayah dan Perwilayahan Beserta Penjelesannya

KONSEP WILAYAH

Penyajian konsep wilayah secara sistematik baru dimulai sejak abad ke-  19, yaitu pada saat para ahli geografi berpendapat bahwa unit politik belum dapat dijadikan dasar penggambaran suatu wilayah.

Konsep Wilayah dan Perwilayahan

Beberapa konsep wilayah antara lain sebagai berikut.

  • Wilayah alamiah (natural region). Konsep ini lebih mengutamakan pada unit alamiah dalam penggarnbaran wilayahnya sehingga disebut wilayah alamiah (natural region).
  • Wilayah budaya (cultural region). Penggolongan wilayah yang didasarkan atas tingkat kebudayaan penduduknya. Misalriya wllayah agraris dan wilayah industri.
  • Wilayah kenampakan tunggal (single feature region). Peggolongan wilayah ini didasarkan pada adanya kenampakan tunggal (single feature region), misalnya kenampakan iklim, vegetasi, dan hewan.

Wilayah alamiah dan wilayah kenampakan tunggal seperti yang telah dikemukakan di atas merupakan konsep wilayah sebelum Perang Dunia (PD) I.

Konsep wilayah tersebut terus berkembang di antara PD I dan PD II. Konsep wilayah kenampakan tunggal yang pada awalnya menggolongkan permukaan bumi menjadi beberapa wilayah, setelah PD I lebih memusatkan pada penggolongan ke dalam wilayah sebagian permukaan bumi saja. Sebagai contoh, penggolongan wilayah iklim yang dibuat Thornthwaite dan penggolongan wilayah fisiografis yang dibuat oleh Fenneman.

  • Pada tahun 1937 Geographical Association membuat kiasifikasi wilayah. Yaitu berdasarkan jenis (generic region) dan berdasarkan kekhususannya (spectIc region).
  • Klasifikasi wilayah menurut jenisnya (generic region) menekankan pada jenis suatu wilayah, misalnya wilayah iklim, wilayah pertanian, dan wilayah vegetasi.
  • Klasifikasi wilayah menurut kekhususannya (specIc region) merupakan suatu wilayah yang memiliki ciri-ciri geografi yang khusus dan ditentukan oleh lokasinya dalam hubungannya dengan wilayah lain, misalnya wilayah kawasan Asia Tenggara. Daerah mi merupakan daerah tunggal dengan ciri-ciri geografi yang khusus antara lain lokasi, penduduk, adat, dan bahasa.
  • Wilayah seragam (unform region). Pada wilayah mi terdapat keseragaman atau kesamaan pada kriteria-kriteria tertentu. Sebagai contoh adalah wilayah pertanian yang di dalamnya terdapat keseragaman atau kesamaan antara petani atau daerah pertanian. Kesamaan tersebut menjadi sifat yang dimiliki oleh elemen-elemen yang membentuk wilayah.
  • Wilayah nodus (nodal region). Wilayah nodus adalah wilayah yang dalam banyak hal diatur oleh pusat-pusat kegiatan yang saling dihubungkan dengan jalur jalan melingkar. Di dalam wilayah nodus tersebut terdapat hubungan fungsional antar pusat kegiatan. Oleh karena itu, G. W. S. Robinson menyebutnya sebagai wilayah fungsional (functional region).
Baca Juga :  Pewilayahan (Regiomalisasi) - Pengertian, Generatisasi dan Klasifikasi Lengkap

Sementara itu, Whittlessey membagi region menjadi tiga jenis, yaitu region topik tunggal (single topic region), region topik gabungan (multiple topic region), dan total region.

  • Region topik tunggal lebih mudah ditentukan karena yang menjadi acuan tidak banyak. Region topik tunggal barn bermakna, antara lain karena berikut ini.
  • Region tersebut mempunyai koinsidensi dengan wilayah homogen yang lain.
  • Region tersebut mempunyai koneksi kausal dengan wilayah-wilayah lain.
  • Region topik gabungan terbagi atas:
  • Region formal (uniform region) dengan ciri-ciri pokok keseragaman (homogenitas) atau perniangan pola yang sejenis.
  • Region fungsional [functional region) adalah adanya hal-hal berikut ini.
  • Bahwa semua bagian region berpusat pada suatu tempat tertentu yang disebut tempat pusat (central place).
  • Tempat pusat tersebut dihubungkan dengan wilayah sekitarnya dalam berbagai cara.
  • Pola sirkulasi yang mengikat pusat tersebut dengan wilayah sekitarnya.
  • “Total” region belum merupakan keseluruhan ruang yang utuh (spatial totality), tetapi meliputi semua ciri atau bentuk, baik fisik, biotik, maupun sosial dan lingkungan yang secara fungsional berasosiasi dengan pemanfaatan bumi oleh manusia.

Menurut Daidjoeni dalam bukunya Pengantar Geografi Sosial, suatu wilayah (region) dipandang memiliki homogenitas dalam hal bentuk bentang alamnya (landscape) dan corak kehidupan masyarakatnya (mata pencaharian dan mentalitas masyarakat). Sebagai contoh daerah Gunung Kidul di Yogyakarta yang merupakan daerah karst. Daerah tersebut dapat digeneralisasikan dengan tanah yang gersang dan agak tandus (cengkar), penduduk miskin, gizi buruk, dan dorongan migrasi sangat kuat.

Baca Juga :