Keruangan Kota – Pengertian, Struktur, Ciri, Faktor, Tahap, Teori dan Tahap Perkembangan Kota

 Pengertian, Struktur, Ciri, Faktor, Tahap, Teori dan Tahap Perkembangan Kota

Dalam kehidupan sehari-hari, bayangan kita tentang kota adalah sebuah wilayah yang selalu sibuk dengan segala aktivitasnya. Kota selalu dipandang sebagai pusat pendidikan, pusat kegiatan ekonomi, dan pusat pemerintahan. Namun, berdasarkan sejarahnya perkembangan kota itu berasal dan tempat-tempat permukiman yang sangat sederhana.

Perkembangan Kota

Pengertian Kota

Berbagai ahli memandang kota berdasarkan keahliannya masing-masing sehingga memunculkan perbedaan definisi tentang kota. Pengertian kota antara lain sebagai berikut.

  • Kota adalah suatu sistem janngan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis.
  • Kota adalah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan matenialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.
  • Max Weber. Suatu tempat dapat disebut kota jika sebagian besar penduduknya telah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan pasar setempat (pasar lokal). Sementara itu, sebagian besar barang-barang yang terdapat di pasar tersebut juga dibuat di daerah setempat dan hanya sebagian kecil saja yang dibawa dan desa.
  • Max Weber lebih menekankan bahwa ciri suatu kota yang paling utama adalah pasarnya.
  • Kota merupakan pusat pelayanan yang berfungsi sebagai penyelenggara dan penyedia jasa-jasa bagi wilayah sekitarnya. Jadi, pada mulanya kota bukan merupakan permukiman, melainkan pusat pelayanan. Seherapajauh kota menjadi pusat pelayanan bergantung pada seberapajauh daerah-daerah di sekitarnya (desa) memanfaatkan jasa kota.
  • Louis Wirth. Kota adalah permukiman yang relatifbesar, padat, dan permanen dengan penduduk yang heterogen kedudukan sosialnya. Oleh karena itu, hubungan sosial antar penghuninya serba longgar, acuh, dan relasinya bukan pribadi (impersonal relations).
  • Harris dan Ullmart. Kota merupakan pusat permukiman dan pemanfaatan bumi oleh manusia. Di tempat itu manusia unggul dalam mengeksploitasi bumi. Hal itu dibuktikan oleh pertumbuhan kota yang sangat pesat dan pemekaran secara terus-menerus.
  • Marx dan Engels. Kota adalah perserikatan yang dibentuk untuk melindungi hak milik dan untuk memperbanyak alat produksi guna mempertahankan diri dan para penduduknya.
  • Kota adalali suatu pemusatan keruangan dan tempat thiggal dan tempat kerja manusia, pertumbuhannya sebagian besar disebabkan oleh pendatang, serta mampu melayani kebutuhan barang dan jasa bagi wilayah yang letaknya jauh.

Struktur Kota

Merupakan kenyataan bahwa kota merupakan tempat segala aktivitas, terutama pada siang han. Oleh karena itu, pada siang han kota benar-benar merupakan roda penghidupan penduduk kota dan sekitarnya sehingga sangat ramai, sedangkan pada malam han kota menjadi sunyi dan tenang.

Struktur kota dapat dilihat dan jenis-jenis mata pencaharian penduduk atau warga kota. Sudah jelas bahwa mata pencaharian penduduk kota adalah nonagranis. antara lain bidang perdagangan, pengangkutan, dan bidang jasa. Oleh karena itu, struktur kota dan jenis mata pencaharian akan mengikuti fungsi dan suatu kota. Sebagai contoh, jika yang dibangun adalah kota industri maka struktur penduduk kota tersebut akan mengarah atau cenderung ke  jenis industri. Akan tetapi, jarang sekali suatu kota hanya mempunyai fungsi tunggal. Biasanya ada fungsi lain yang mendukung fungsi utama kota. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa struktur penduduk kota dan segi mata pencaharian akan mengalami penambahan jenis.

Struktur penduduk kota dan segi umur menunjukkan bahwa mereka lebih banyak tengolong dalam usia produktif. Kemungkinan besar mereka yang berumur lebih dan 65 tahun dan mereka yang telah pensiun lebih menyukai suasana kehidupan yang lebih tenang. Suasana tersebut terdapat di daerah perdesaan atau daerah pinggiran kota (sub urban). Sementara itu, perkembangan yang terjadi di kota terutama di bagian dalam inti kota, menyebabkan kota menjadi pusat kerja penduduk usia produktif.

Ciri-Ciri Kota

Kota memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ciri-ciri fisik dan ciri-ciri sosial.

Ciri-ciri fisik kota antara Lain sebagai berikut.

  • Adanya tempat-tempat khusus untuk pasar dan pertokoan. Pasar selalu menjadi titik fokus bagi sebuah kota. Jika dulu pasar merupakan daerah yang terbuka, kini pasar berada di dalam gedung-gedung yang serba tertutup. Kota bahkan menjadi pusat-pusat perdagangan aneka barang yang dikenai sebagai pusat perbelanjaan (shopping centers). Sementara itu, menurut Arthur B. Gaffion dan Simon Eisner (1963 dalam Bintarto, 1989), shoping centers dapat digolongkan menjadi tiga kategori berdasarkan segi pelayanannya, yaitu sebagai berikut.
  • Neighborhood centers, adalah pusat perbelanjaan yang dapat melayaru 7.500 sampai 20.000 orang.
  • Community centers, adalah pusat perbelanjaan yang dapat melayani 20.000 sampai 100.000 orang.
  • Regional centers, adalah pusat perbelanjaan yang dapat melayam 100.000 sampai 250.000 orang.
  • Adanya tempat-tempat untuk parkir. Daerah-daerah yang menjadi pusat kegiatan di kota dapat berjalan karena adanya sarana dan prasarana transportasi, baik untuk manusia maupun barang. Kendaraan tidak selalu bergerak, tetapi kadang berhenti pada suatu tempat untuk berbagai keperluan. Oleh karena itu, muncullah tempat-tempat parkir sebagal stasiun pemberhentian.
  • Adanya tempat-tempat rekreasl dan olahraga. Ruang untuk tempat rekreasi digolongkan menjadi tiga, yaitu halaman bermain, halaman bermain kelompok tetanggaan, dan lapangan bermain.
  • Halaman bermain (playlot) disediakan untuk anak-anak yang masih bersekolah Lingkat tarnan kanak-kanak. Halaman mi ukurannya antara 100 m2 sampai 200 m2.
  • Halaman bermain kelompok tetanggaan (neighborhood playground) disediakan untuk anak-anak umur 6 sampal 14 tahun.
  • Lapangan bermain (play field) disediakan untuk para remaja dan orang dewasa.
Baca Juga :  Dialog Interaktif - Pengertian dan Contohnya Lengkap

Ciri-ciri sosial kota antara Lain sebagai berikut.

Terjadinya pelapisan sostal ekonomi. Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menirnbulkan suatu keadaan yang heterogen. Sementara itu, heterogenitas memacu adanya persaingan terlebih lagi jika jumlah penduduk makin bertambah.

Munculnya sifat individualisme. Perbedaan status sosial, ekonomi, dan kultur dapat menimbulkan sifat individualisme. Sifat gotong royong yang murni tidak dapat lagi dijumpai di kota. Hubungan antarindividu jugajarang terjadi karena komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan telepon.

Toleransi sosial. Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya pada sesama. Jika kondisi seperti tersebut berlangsung berlebihan dapat memunculkan sifat acuh tak acuh  dan kurang memiliki sifat toleransi. Namun, permasalahan tersebut dapat diatasi dengan dibentuknya organisasi sosial kemasyarakatan.

Jarak sosial. Kepadatan penduduk di kota pada umumnya cukup tinggi. Oleh karena itu, secara fisik jarak antar warga sebenarnya berdekatan, tetapi jarak sosialnya berjauhan. Hal itu disebabkan oleh perbedaan kebutuhan dan kepentingan.

Penilaiaan sosial. Perbedaan status dan kepentingan serta situasi dan kondisi kehidupan kota berpengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda terhadap setiap gejala yang timbul di kota.

Jenis-Jenis Kota

Secara umum jenis kota dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu jenis kota berdasarkan fungsinya dan jenis kota berdasarkan jumlah penduduknya.

Jenis kota berdasarkan fungsinya antara lain sebagai berikut.

Kota sebagai pusat produksi. Kota pusat produksi biasanya letaknya dikelilingi daerah-daerah penghasil bumi atau hasil tambang. Oleh karena Itu dapat terjadi dua macam kota, yaitu kota pengahasil bahan mentah dan kota industri.

Kota sebagai pusat perdagangan. Sebenarnya di setiap kota terdapat tempat tempat berdagang, tetapi tidak semua kota didominasi oleh kegiatan perdagangan. Kota tersebut ada yang hanya sebagai penyalur kebutuhan warga kota sehari-hari, adajuga yang merupakan perantara bagi perdagangan nasional ataupun internasional yang sering disebut dengan enterpot.

Kota sebagai pusat pemerintahan. Pada umumnya kota jenis ini banyak dijumpai pada zaman sebelum terjadinya revolusi industri. Banyak kota pada waktu itu berfungsi sebagai pusat-pusat politik atau pusat-pusat pemerintahan.

Kota-kota sebagai pusat kebudayan. Memiliki seni dan budaya yang sangat tinggi. Kota ini biasanya terdapat di daerah pegunungan yang udaranya relatifmasih bersth dan suhu yang sejuk. Kota-kota seperti ini pada waktu tertentu banyak didatangi oleh wisatawan. daerah berhawa sejuk saja, tetapi juga dilakukan di tempat lain misalnya pantai.

Jenis kota berdasarkan jumlah penduduknya adalah sebagai berikut.

Menurut National Urban Development Strategic (NUDS), kota berdasarkan Jumlah penduduknya dibedakan menjadi lima jenis, yaitu sebagai berikut.

  • kota metropolitan populasi >1.000.000 jiwa.
  • kota besar populasi 500.000 – 1.000.000 jiwa.
  • kota sedang populasi 200.000 – 500.000 jiwa.
  • kota kecil populasi 20.000 – 200.000jiwa.
  • kota kecamatan populasi 3.000 – 20.000 jiwa.

Pemekaran Fisik Kota

Pemekaran kota adalah perluasan wilayah kota akibat terjadinya perkembangan dan pertumbuhan kota. Pemekaran kota bertujuan untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan ruang kota. Di kota-kota yang sudah modern kota tidak hanya mengalami pemekaran secara horizontal, tetapi juga secara vertikal. Ciri khas yang terdapat pada kota modern adalah telah berdirinya gedung-gedung bertingkat.

Pemekaran kota dapat menimbulkan berbagai masalah, antara lain masalah perumahan, sampah, lalu lintas, pendidikan, dan pemanfaatan lahan. Pada intinya, permasalahan yang timbul akibat pemekaran kota meliputi semua aspek dalam geografi, yaitu fisik, sosial, dan budaya.

Arah pemekaran kota berbeda-beda bergantung pada kondisi kota dan kondisi wilayah sekitarnya. Kondisi alam seperti perbukitan dan lautan dapat menghentikan laju pemekaran kota. Daerah-daerah yang menjadi penghambat pemekaran kota tersebut dianggap sebagai daerah lemah. Sementara itu. daerah-daerah yang memiliki potensi ekonomi yang baikm dapat menjadi daerah yang Pelabuhan ekspor- memiliki daya yang yang kuat untuk pemekaran kota. Daerah-daerah seperti itu dapat dikatakan sebagai daerah kuat.

Baca Juga :  3 Batas Wilayah Laut indonesia : Zona Teritorial, Kontinental, dan Ekonomi Eksklusif

Perkembangan Kota

Perkembangan kota adalah terjadinya perubahan kota, baik cara kualitas maupun kuantitas menjadi lebih modern. Perkembangan kota menyangkut sebuah proses, baik bersifat alami maupun nonalami yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Akan tetapi, faktor nonalami terutama oleh manusia merupakan yang dominan.

Sejak ribuan tahun yang lalu kota sudah dikenal meskipun di berbagai macam suku dan bangsa kehidupan kota mempunyai arti yang berbeda-beda. Berdasarkan sejarah, dapat diamati bahwa dinamika kota dipengaruhi oleh perkembangan masyarakatnya. Demikian sebaliknya, perkembangan kota juga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya.

Kota bukan merupakan sesuatu yang bersifat statis, melainkan dinamis. Hal itu kareria sebuah kota memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan masyarakat sebagai penghuni di dalamnya. Oleh karena itu, dinamika perkembangan kota pada prinsipnya baik dan alamiah karena merupakan ekspresi dan perkembangan masyarakat kota sendiri.

Secara umum dikenal tiga cara perkembangan dasar dalam kota, yaitu perkembangan horizontal, perkembangan vertikal, dan perkembangan interstisial.

Perkembangan horizontal. Cara perkembangan ini adalah mengarah ke luar. Artinya, daerahnya bertambah, sedangkan ketinggian dan kuantitas lahan yang terbangun (coverage) tetap. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pinggir kota. Hal itu dikarenakan harga lahan masih lebih murah dan deka jalan raya yang mengarah ke kota yang banyak keramaian.

Perkembangan vertikal. Cara perkembangan ini adalah mengarah ke atas. Artinya. daerah pembangunan dan kuantitas lahan yang terbangun tetap sama. sedangkan ketinggian bangunan bertambah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota dan di pusat-pusat perdagangan yang memiliki nilai ekonomi. Hal itu dikarenakan harga lahan di daerah tersebut mahal.

Perkembangan interstisial. Cara perkembangan ini adalah dilakukan ke dalam. Artinya, daerah dan ketinggian bangunan rata-rata tetap sama, sedangkan kuantitas lahan yang terbangun betambah. Perkembangan dengan cara ini sering terjadi di pusat kota serta antara pusat dan pinggir kota yang kawasannya sudah dibatasi dan hanya dapat dipadatkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kota

Telah dijelaskan di atas bahwa kota bukan merupakan sesuatu yang bersifat statis, melamnkan dinamis sehingga selalu terjadi perkembangan terhadap kota tersebut. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan sebuah kota, antara lain faktor alam, penduduk, dan sosial budaya.

Faktor Alam. Faktor alam yang dimaksud adalah berhubungan dengan unsur-unsur alami dan kota, misalnya morfologi, iklim, jenis tanah, dan sumber air. Faktor alam tersebut bersifat lebih statis sehingga pengaruhnya terhadap perkembangan kota sangat kecil dan lama.

Faktor Penduduk. Faktor penduduk yang dimaksud berhubungan dengan kualitas dan kuantitasnya, yaltu pengetahuan dan jumlahnya.

  • Kualitas penduduk yang dimaksud adalah pengetahuan penduduk sesuai dengan tingkat pendidikan dan wawasannya. Pengetahuan dan wawasan penduduk mampu mempengaruhi perkembangan kota. Hal itu dapat dibuktikan dengan perencanaan-perencanaan yang dibuat oleh penduduk dalam rangka perkembangan kota, misalnya perencanaan tata ruang.
  • Kuantitas penduduk yang dimaksud adalah berhubungan dengan jumlah penduduk. baik berhubungan dengan pertumbuhan alami maupun karena urbanisasi. Bertambahnya penduduk kota sudah barang tentu berpengaruh terhadap situasi dan kondisi kota, misalnya kota menjadi semakin padat.

Faktor Sosial Budaya. Faktor sosial budaya berhubungan dengan pola dan gaya hidup penduduk kota. Berbeda dengan penduduk desa yang memiliki sifat gotong-royong, penduduk kota lebih bersifat individualis. Hal itu berpengaruh terhadap gaya hidup dengan lingkungan sekitarnya.

Tahap-Tahap Perkembangan Kota

Meskipun kota bersifat dinamis hingga mengalami perkembangan, tetapi perkembangan kota tidak begitu saja berubah secara langsung menjadi kota yang lebih modern. Akan tetapi, perkembangan kota pada umumnya melalui tahap-tahap tertentu, sebagai berikut.

Tahap-tahap perkembangan kota menurut Griffith Taylor (1958) adalah stadium infantile, stadium juvenile, stadium mature, dan stadium senile.

Stadium infantile. Pada stadium ini batas antardaerah tidak tampak jelas. Sebagai contoh batas antara daerah pemukiman dan daerah perdagangan serta batas antara daerah miskin dan daerah kaya. Ciri yang tampak pada stadium ini adalah masih menyatunya antara pertokoan dan perumahan pemilik toko.

Stadium juvenile. Pada stadium mi tampak adanya desakan terhadap perumahan-perumahan lama oleh perumahan-perumahan yang baru. Berbeda dengan pada stadium infantile, pada stadium mi pertokoan dan perumahan pemilik toko sudah mulai terpisah.

Stadium  mature. Pada stadium ini dicirikan oleh banyaknya daerah-daerah baru yang muncul mengikuti rencana tata ruang, misalnya kawasan industri, perdagangan, dan perumahan. Artinya setiap wilayah pada stadium ini dikembangkan melalui perencanaan.

Baca Juga :  [TRIK CERPEN] Rahasia Menulis Cerpen Dari Penulis Legendaris

Stadium  senile. Pada stadium ini setiap kawasan kurang mendapatkan pengawasan dan pemeliharaan sehingga mengalami kemunduran-kemunduran. Oleh karena itu, stadium ini juga disebut stadium kemunduran kota.

Karakteristik perkembangan kota menurut J.M. Houston adalah melalui tiga tahap, yaitu stadium pembentukan inti kota, stadium formatif, dan stadium modern.

Stadium pembentukan inti kota (nuclear phase) . Stadium ini merupakan tahap pembentukan kawasan pusat bisnis yang dikenal dengan Central Business Distric (CBD). Tahap ini merupakan tahap pembangunan gedung-gedung penggerak kegiatan. Pada tahap ini kenampakan kota yang terbentuk hanya meliputi wilayah yang sempit.

Stadium formatif (formative phase). Pada stadium ini inti kota mulai berkembang seiring dengan perkembangan industri dan teknologi. Perkembangan industri berpengaruh pula terhadap terjadinya perluasan wilayah, khususnya untuk kawasan industri dan perumahan.

Stadium Modern. Pada stadium ini kenampakan kota jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan stadium pembentukan intl kota dan stadium formatif. Pada stadium ini muncul gejala terjadinya penggabungan antarpusat kegiatan.

Perkembangan kota, baik secara fisik maupun secara sosial budaya dikemukakan oleh Lewis Munford. Menurutnya perkembangan kota meliputi enam tahap, yaitu tahap eopolis. polis, metropolis, megalopolis, tiranopolis, dan nekropolis.

Tahap eopolis. Tahap ini ditandai oleh adanya perkampungan yang makin maju, meskipun masih didasarkan pada kegiatan dalam bidang pertanian.

Tahap volis. Pada tahap ini ditandai oleh munculnya kegiatan-kegiatan industri, meskipun pengaruhnya terbatas. Pada tahap ini kenampakan kota sudah mulai tampak, meskipun dalam skala yang masih kecil.

Tahap metropolis.  Pada tahap ini kenampakan kota sudah berkembang cukup besar. Fungsi-fungsi kota pada tahap mi mendominasi kota-kota kecil di sekitarnya.

Tahap megalopolis.    Pada tahap mi ditandal oleh adanya perubahan perilaku manusia yang selalu berorientasi pada materi. Pemberian standar setiap hasil produk industri pada tahap mi lebih diutamakan dan pada pengembangan usaha-usaha kerajinan.

Tahap tiranopolis. Pada tahap ini tolak ukur budaya tampak hanya pada sesuatu yang tampak, misalnya kekayaan (dalam bentuk materi).

Tahap nekropolis. Pada tahap ini terjadi kemunduran-kemunduran pada fungsi-fungsi kota sehingga menunjukkan gejala-gejala kehancuran. Kemunduran tersebut diakibatkan oleh adanya peperangan, wabah penyakit. dan terjadinya kelaparan.

Teori-Teori Perkembangan Kota

Teori Konsentris (Concentric Zone Theory)

Teori konsentris dikemukakan oleh Burgess berdasarkan penelaahan yang dilakukannya atas kota Chicago pada tahun 1920-an. Menurut Burgess kota tersebut memekarkan din bermula dan pusat aslinya sehingga ketika terjadi pertambahan penduduk secara bertahap meluas ke wilayah-wilayah tepi dan keluar. Pola keruangan yang terbentuk adalah berbentuk lingkaran berlapis dengan pusatnya adalah wilayah Central Business Distric (CBD) atau inti kota. Secara berturut-turut lapisan-lapisan dalam teori konsentris adalah CBD, Zone of Transition (daerah peralihan), Zone of Workirtgmens Home (wilayah pemukiman sederhana), Zone of Better Residence (kawasan pemukiman elit), dan yang paling luar adalah Zone of Commuter. Tiap zone akan mewujudkan Pemukiman Sederhana “natural area” dan melingkari area lain dari dalam dan luar kawasan.

Teori Sektor

Teori sektor dikemukakan oleh Homer Hoyt yang mengemukakan pertumbuhan kota lebih berdasarkan sektor-sektOr tertentu daripada lingkaran. Teori sektor menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi di dalam kota secara berangsur menghasilkan kembali karakter yang dimiliki oleh sektor-sektor yang sama terlebih dahulu. Salah satu intl dan teori konsentris adalah fungsi Industri yang makin ke pusat kota makin berkurang. Namun, sebaliknya industri berkembang pesat di pinggir kota yang memiliki sektor lebih besar.

Pola permukiman meluas ke arah tertentu, selanjutnya diisi oleh aneka kegiatan sosial-ekonomi tertentu; misalnya pertokoan. lokasi hiburan, dli. Gambaran konsep ini memberikan kesan serba melengkapi dan menyenangkan.

Teori Banyak Inti atau Teori Pusat Kegiatan Berganda (Multiple Nuclei Theory)

Teori ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Harris dan Ullman dalam bukunya Readings in Urban Geography. Menurut mereka, meskipun pola konsentrasi dan sektoral dalam kota ada, tetapi faktanya lebih kompleks dan yang sekadar diteorikan sebelumnya.

Harris dan Ullman menjelaskan secara khusus bahwa pertumbuhan kota yang bermula dan suatu pusat bentuknya menjadi rumit. Hal Itu disebabkan oIeh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan berfungsi menjadi kutub pertumbuhan. Sementara itu, di sekitar inti yang baru akan mucul kelompok tata guna lahan yang bersambungan secara fungsional.

Meskipun masing-masing teori tidak dapat diterapkan terhadap suatu kota, tetapi teoni-teori tersebut berguna sebagai tuntunan dalam rangka memahami tata guan lahan di perkotaan.

Pada tiap kawasan dan bagian kota terdapat fungsi tertentu yang ditetapkan dengan dasar tertentu, sehingga akan berkembang suatu kawasan pertokoan, pemukiman, sarana perbankan. dan lain-lain sesuai dengan fungsi serta kegiatan ekonominya.

Baca Juga :