Cuaca dan Iklim - Pengertian, Unsur, Jenis dan Contohnya Lengkap

Cuaca dan Iklim – Pengertian, Unsur, Jenis dan Contohnya Lengkap

Pengertian, Unsur, Jenis dan Contoh Cuaca dan Iklim

Pengertian Cuaca dan Iklim

Cuaca adalah keadaan atmosfer sehari-hari dan terjadi di daerah yang sempit. Adapun iklim adalah keadaan rata-rata cuaca dalam periode yang lama (umumnya sekitar 30 tahun) meliputi daerah yang luas. perbedaan iklim di bumi disebabkan oleh adanya pengaruh rotasi dan revolusi bumi serta perbedaan letak lintang. Berdasarkan definisi tersebut, antara cuaca dan iklim hanya berbeda dalam hal waktu dan wilayah cakupan. Karena cuaca dan iklim merupakan fenomena atmosfer maka tidak ada perbedaan antara unsur-unsur cuaca dan iklim.

Pengertian Cuaca dan Iklim

Ilmu yang mempelajari tentang cuaca disebut meteorologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut klimatologi.

Unsur-unsur Cuaca dan Iklim

Unsur-unsur cuaca dan iklim meliputi suhu udara, tekanan udara, angin, kelembapan udara, perawan, dan curah hujan.

Suhu Udara

Matahari adalah sumber panas utama bagi bumi dan atmosfernya. Namun, panas Matahari yang sampai ke permukaan bumi berbeda-beda di setiap tempat. Hal itu menyebabkan suhu udara di setiap tempat berbeda-beda pula. Faktor-faktor yang meyebabkan perbedaan suhu udara, antara lain sebagai berikut.

Sudut Datang Sinar Matahari

Kita tentu sudah mengetahui bahwa bumi berbentuk bulat. Dalam bentuk yang demikian sudut datang sinar Matahari ke setiap daerah di bumi tidak sama karena terkait dengan letak lintang suatu wilayah. Sudut datang sinar Matahari di wilayah yang berada di lintang rendah lebih besar daripada di wilayah yang berada di lintang tinggi. Oleh karena itu, di daerah khatulistiwa suhunya lebih tinggi daripada di daerah subtropis dan kutub. Sudut datang sinar Matahari adalah sudut yang dibentuk oleh arah datangnya sinar Matahari dengan permukaan bumi.

Berdasarkan hasil pengamatan, fluktuasi suhu tahunan berbeda-beda antara daerah yang satu dan daerah yang lain. Karena suhu udara berkaitan dengan lintang bumi, fluktuasi suhu udara di permukaan bumi dapat dibedakan menjadi tiga pola sebagai berikut.

  • Pola Khatulistiwa

Fluktuasi temperatur tahunan di daerah khatulistiwa kecil, lebih kecil daripada fluktuasi temperatur harian. Pola khatulistiwa mempunyai dua maksimum dan dua minimum, yaitu pada saat Matahari berada di atas suatu daerah dan pada saat berada di garis balik.

  • Pola Daerah Sedang

Fluktuasi temperatur tahunan di daerah mi besar, lebih besar daripada fluktuasi temperatur harian. Fluktuasi temperatur mi akan lebih besar jika suatu daerah terletak di tengah benua dan akan lebih kecil jika berdekatan dengan laut. Dalam pola ini ada satu maksimum dan satu minimum.

  • Pola Daerah Kutub

Fluktuasi temperatur tahunan di wilayah kutub sangat besar. Pola mi hanya mempunyai satu maksimum dan satu minimum.

Lamanya Penyinaran Matahari

Lamanya penyinaran Matahari di khatuistiwa sebenarnya diukur selama 12 jam sejak Matahari terbit hingga terbenam. Namun, dengan adanya faktor penghalang misalnya pohon dan bangunan tinggi, pengukuran tersebut sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, di Indonesia lamanya penyinaran Matahari diukur selama 8 jam mulai dan pukul 8.00 sampai dengan pukul 16.00.

Lamanya penyinaran Matahari biasanya dinyatakan dalam persen (%). Dengan demikian lamanya penyinaran Matahari = 100% jika Matahari menyinari suatu daerah selama 8 jam dan berarti di daerah tersebut langit cerah atau tidak tertutup awan.

Lamanya penyinaran Matahari diukur dengan menggunakan alat Heliograf. Heliograf dipasang dengan ketinggian 2 meter di atas permukaan tanah. Heliograf terdiri atas bola gelas padat dengan diameter 4 inchi (10,1 cm) yang dipasang di dalam bidang lengkung. Dengan demikian sinar Matahari dapat dikumpulkan pada satu titik. Sinar itu akan membakar kantu yang dipasang pada alat tersebut sehingga membentuk tanda memanjang yang menunjukkan lamanya penyinaran Matahari.

Ketinggian Tempat

Kita tentu pernah merasakan perbedaan suhu udara di daerah dataran rendah dengan daerah dataran tinggi atau pegunungan. Suhu  udara di daerah dataran rendah lebih tinggi daripada di daerah dataran tinggi atau pegunungan. Keadaan tersebut sesuai dengan karakteristik atmosfer, terutama pada lapisan troposfer, yaitu setiap kenaikan 100 meter suhu udaranya turun 0,5 °C.

Kejernihan Atmosfer

Kejernihan atmosfer mempengaruhi besarnya panas Matahari yang sampai ke permukaan bumi. Hal itu disebabkan gas-gas di dalam atmosfer berpengaruh terhadap pemantulan dan penghamburan sinar Matahari. Di daerah yang atmosfernya kotor hanya menerima panas secara langsung dalam jumlah sedikit, sedangkan di daerah yang tidak berawan akan menerima panas secara langsung dalam jumlah yang banyak.

Jarak ke Laut

Suatu tempat yang dekat dengan laut atau danau suhu udara rata-rata hariannya tinggi, sedangkan tempat yang jauh dengan laut atau danau suhu udara rata-rata hariannya rendah. Keadaan tersebut dipengaruhi oleh sifat air dan tanah (daratan) dalam menerima panas. Air lebih lambat menerima dan melepaskan panas, sedangkan daratan lebih cepat dalam menerima dan melepaskan panas.

Pengukuran suhu udara pada saat tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan termometer, sedangkan suhu udara rata-rata harian diukur selama satu hari (siang dan malam) dengan termograf Hasil pencatatannya disebut termogram.

Baca Juga :  8 Pola dan Bentuk Persebaran Desa Beserta Gambarnya Lengkap

Di dalam stasiun cuaca terdapat dua jenis termometer, yaitu termometer maksimum dan termometer minimum. Termometer maksimum berisi cairan air raksa dan berfungsi untuk mengukur suhu maksimum pada malam hari. Adapun termometer minimum berisi cairan alkohol dengan bejana alkohol berbentuk garpu atau bola. Termometer minimum akan menunjukkan temperatur minimum selama waktu pemasangan sampai pembacaan.

Tekanan Udara

Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara setiap satuan luas bidang datar dan permukaan bumi sampai batas atmosfer. Makin tinggi suatu tempat makin rendah kerapatan udaranya. Oleh karena itu, tekanan udara makin ke atas makin rendah.

Sebaran tekanan udara di suatu daerah dapat digambarkan dalam peta yang ditunjukkan oleh isobar. Isobar adalah garis yang menghubungkan tempat—tempat yang mempunyai tekanan udara yang sama pada saat yang sama pula.

Angin

Angin adalah udara yang bergerak karena adanya perbedaan tekanan udara antara satu tempat dan tempat yang lain. Adapun penyebab perbedaan tekanan udara adalah intensitas panas Matahari. Udara yang terkena panas Matahari akan mengembang sehingga tekanan udara menjadi rendah, sedangkan daerah yang tidak mendapat sinar Matahari tekanan udaranya tinggi. Oleh karena itu, udara bergerak dan daerah yang bertekanan udara tinggi menuju daerah yang bertekanan udara rendah.

Di permukaan bumi daerah yang mempunyai tekanan udara rendah adalah di daerah khatulistiwa karena selalu mendapat sinar Matahari. Adapun di daerah kutub utara dan kutub selatan tekanan udaranya lebih tinggi. Oleh karena itu, aliran udara bergerak dan daerah kutub menuju daerah khatulistiwa. Hubungan antara tekanan udara dan arah angin dinyatakan dalam, Hukum Buys Ballot bahwa udara mengalir dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Arah angin akan membelok ke kanan di belahan bumi utara dan membelok ke kiri di belahan bumi selatan.

Kecepatan Angin

Besar kecilnya kecepatan angin ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut.

  • Besar kecilnya gaya gradien barometris. Gaya gradien barometris adalah besarnya perbedaan tekanan udara antara 2 isobar yang berjarak 111 km dan dinyatakan dalam milibar (mb). Makin besar perbedaan tekanan udara tersebut, makin cepat angin bergerak.
  • Banyak sedikitnya hambatan. Faktor-faktor yang dapat menjadi hambatan gerakan angin antara lain relief permukaan bumi, gedung-gedung (bangunan), dan pohon-pohon. Makin banyak rintangan yang menghalangi laju gerakan angin, makin lambat kecepatan angin tersebut.

Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin adalah anemometer. Ada beberapa jenis anemometer, salah satu je nisnya adalah anemometer mangkok. Pada anemometer terdapat peralatan elektronik yang berfungsi mencatat gerakan angin. Pembacaan alat itu harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu, misalnya harian.

Jenis Angin

Tekanan udara berbeda-beda antartempat dan pada tempat tertentu dapat berubah secara dinamis. Perbedaan tekanan udara itu menyebabkan terjadinya angin.  Oleh karena itu, angin juga sangat beragam bergantung tempatnya. Angin selalu diberi nama sesuai dengan arah asalnya. Ragam angin di bumi antara lain sebagai berikut.

  • Angin Barat

Angin barat bertiup dan lintang 35 °LU/LS menuju 60°LU/LS . Karena pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), angin barat mengalami pembelokan. Di belahan bumi utara angin itu menjadi angin barat daya, sedangkan di belahan bumi selatan menjadi angin barat laut.

  • Angin Kutub

Angin kutub berembus dan daerah bertekanan udara tinggi di sekitar kutub ke arah daerah sedang. Di belahan bumi utara, angin tersebut berembus dan arah timur laut menjadi angin timur laut, sedangkan di belahan bumi selatan angin tersebut berembus dan arah tenggara menjadi angin tenggara.

  • Angin Pasat

Angin pasat berembus dan daerah subtropis (30 °LU/LS) menuju daerah khatulistiwa. Angin itu terbentuk karena adanya ruang kosong di daerah khatulistiwa akibat pengembangan udara oleh sinar Matahari. Ruang kosong itu kemudian diisi udara yang bertekanan tinggi dan daerah subtropis. Karena pengaruh gaya coriolis, udara yang bergerak dan belahan bumi utara dibelokkan ke kin sehingga disebut angin pasat timur laut. Adapun udara yang bergerak dan belahan bumi selatan dibelokkan ke kanan sehingga disebut angin pasat tenggara. Di Indonesia pada bulan Juli terjadi angin pasat tenggara dan pada bulan Januari terjadi angin pasat timur laut.

Di daerah khatulistiwa, karena massa udara yang selalu ringan akibat pengembangan udara, udara akan bergerak naik yang disebut angin anti pasat. Angin anti pasat kemudian turun sebagai angin kering di daerah lintang 25 °LU/LS — 30 °LU/LS. Keadaan itulah yang meyebabkan terbentuknya gurun-gurun di daerah subtropis.

  • Angin Siklon

Angin siklon terjadi jika suatu daerah yang bertekanan udara rendah dikelilingi oleh suatu daerah yang mempunyai tekanan udara tinggi. Akibatnya, udara akan mengalir dan daerah bertekanan udara tinggi menuju daerah yang bertekanan udara rendah. Karena pengaruh gaya coriolis, arah angin mengalami pembelokan. Jika angin siklon terjadi di belahan bumi utara, arah angin berputar searah dengan arah putaran jarum jam. Jika angin siklon terjadi di belahan bumi selatan, arah angin berputar berlawanan dengan putaran jarum jam.

  • Angin Anti Siklon

Angin anti siklon terjadi jika suatu daerah yang bertekanan udara tinggi dikelilingi oleh daerah yang bertekanan udara rendah. Di permukaan bumi daerah anti siMon terutama berada di atas laut atau lautan pada lintang 30 °LU/LS. Karena pengaruh gaya coriolis, putaran angin anti sikion di belahan bumi utara searah dengan putaran jarum jam, sedangkan di belahan bumi selatan putaran angin anti siklon berlawanan dengan arah putaran jarum jam.

  • Angin Musim
Baca Juga :  Pewilayahan (Regiomalisasi) - Pengertian, Generatisasi dan Klasifikasi Lengkap

Angin musim merupakan suatu angin regional yang bertiup di daerah tropis. Angin musim itu terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok antara daratan dan lautan. Pada periode April – Oktober, saat Matahari berada di belahan bumi utara, benua Asia mengalami pemanasan maksimal. Akibatnya, Benua Asia mempunyai tekanan udara rendah. Adapun di belahan bumi selatan (Benua Australia) mempunyai tekanan udara yang lebih tinggi sehingga angin bertiup dan Benua Australia menuju Benua Asia dan disebut angin muson tenggara. Angin itu hanya membawa sedikit uap air sehingga pada periode ini di Indonesia mengalami musim kemarau.

Pada periode Oktober-April, saat Matahari berada di belahan bumi selatan, Benua Australia mengalami pemanasan maksimal. Akibatnya, Benua Australia mempunyai tekanan udara rendah. Adapun di belahan bumi utara (Benua Asia) mempunyai tekanan udara yang lebih tinggi sehingga angin bertiup dan Benua Asia menuju Benua Australia dan disebut angin muson timur. Karena bertiup melalui Samudra Hindia, angin itu banyak mengandung uap air sehingga pada periode tersebut di Indonesia mengalami musim hujan.

  • Angin Darat dan Angin Laut

Angin darat dan angin laut terjadi akibat adanya perbedaan sifat pemanasan antara daratan dan lautan. Pada malam hari, karena temperatur laut lebih tinggi daripada daratan, tekanan udara di laut lebih tinggi daripada tekanan udara di darat. Oleh karena itu, terjadi pergerakan udara dan darat menuju ke laut yang disebut angin darat. Bagi nelayan tradisional, angin itu digunakan untuk melaut.

Pada siang hari karena temperatur daratan lebih tinggi daripada lautan tekanan udara di daratan lebih kecil daripada tekanan di lautan. Oleh karena itu, terjadi pergerakan udara dan laut menuju ke darat dan disebut angin laut. Bagi nelayan tradisional angin itu digunakan untuk kembali ke darat.

  • Angin Lembah dan Angin Gunung

Angin lembah dan angin gunung terjadi karena adanya perbedaan pemanasan di daerah pegunungan. Perbedaan pemanasan itu disebabkan oleh perbedaan luas lereng gunung dan lembah sehingga terdapat perbedaan jumlah panas yang diterima pada satu satuan waktu.

Siang hari pemanasan lebih cepat terjadi pada lereng gunung sehingga temperaturnya lebih tinggi daripada di lembah. Oleh karena itu, tekanan udara di lereng gunung menjadi lebih rendah daripada di lembah sehingga terjadi pergerakan udara dan lembah menuju ke lereng gunung. Pergerakan udara itu disebut angin lembah.

Malam hari terjadi keadaan sebaliknya, yaitu suhu udara di lereng gunung lebih rendah daripada di lembah sehingga tekanan udara di gunung lebih besar daripada di lembah. Oleh karena itu, terjadi pergerakan udara dan lereng gunung menuju lembah. Pergerakan udara itu disebut angin gunung.

  • Angin Fohn

Angin fohn terjadi apabila ada gerakan massa udara yang menaiki suatu pegunungan dengan ketinggian lebih dan 2.000 meter. Massa udara yang mencapai puncak pegunungan akan mengalami kondensasi dan akhirnya timbul hujan pada satu sisi lereng. Adapun pada lereng yang lain tidak terjadi hujan karena terhalang tingginya pegunungan. Daerah yang tidak mengalami hujan disebut daerah bayangan hujan.

Pada daerah bayangan hujan itu angin dan atas pegunungan akan bergerak menuruni lereng pegunungan dengan kecepatan tinggi. Hal itu menyebabkan naiknya suhu udara karena setiap turun 100 meter udara naik 1 °C. Dengan demikian angin yang turun bersifat panas dan kering. Angin itulah yang disebut angin lokal atau anginfohn atau angin terjun.

Angin fohn yang terjadi di Indonesia antara lain sebagai berikut.

  • Angin Bohorok di Deli. Angin itu dapat merusak perkebunan tembakau.
  • Angin Kumbang di Tegal dan Cirebon. Bagi daerah tersebut angin kumbang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman bawang karena di daerah sekitarnya menjadi tidak lembap.
  • Angin Gending di Pasuruan dan Probolinggo, Jawa Timur.
  • Angin Brubu di Sulawesi Selatan.
  • Angin Wambraw di Biak, Papua.

Kelembapan udara digunakan untuk menyatakan banyaknya kandungan uap air di dalam udara. Sebenarnya jumlah uap air di dalam udara hanya sekitar 2% dan massa atmosfer. Akan tetapi, uap air merupakan komponen utama yang sangat penting dan segi cuaca dan iklim. Hal itu disebabkan sebagai berikut.

  • Besarnya uap air merupakan potensi terjadinya hujan (presipitasi).
  • Uap air mempunyai sifat menyerap radiasi sehingga menentukan cepatnya kehilangan panas. Dengan demikian uap air ikut mengatur temperatur.
  • Makin besar uap air di dalam udara, makin besar jumlah energi potensial yang tersedia di dalam atmosfer dan merupakan sumber atau awa terjadinya hujan angin (storm = badai)

Kandungan uap air di dalam udara diukur dengan menggunakan psychrometer (higrometer jenis lain). Di dalam alat itu terdapat 2 termometer yang serupa (termometer thermocouple), yaitu termometer bola basah dan termometer bola kering. Bola pada termometer bola basah dibungkus dengan kain tipis dan dibasahi dengan air bersih, sedangkan bola pada termometer bola kering dibiarkan tetap kering. Psychrometer itu diletakkan di bagian belakang sangkar meteorologi agar terlindung dan penyinaran Matahari dan ada ventilasi yang memadai, terutama untuk termometer bola basah.

Kelembapan udaranya dapat dinyatakan dalam dua cara, yaitu kelembapan relatif dan kelembapan absolut.

Kelembapan relatif

Kelembapan relatif adalah perbandingan antara jumlah uap air yang dikandung udara dan jumlah uap air maksimal (jenuh) di dalam udara pada temperatur dan tekanan udara yang sama.

Kelembapan Mutlak

Kelembapan mutlak adalah jumlah uap air per satuan volume udara dan dinyatakan dalam g/m3 udara. Kelembapan absolut tidak umum dipakai dalam perhitungan karena dapat berubah-ubah akibat perubahan suhu udara.

Baca Juga :  61 Keunikan Indonesia Dibanding Negara Lain

Per-awanan (Cloudness)

terbentuk sebagai akibat adanya kondensasi, yaitu proses perubahan wujud dan uap air menjadi titik-titik air. Jadi, awan adalah kumpulan ttik-titik air atau kristal-kristal es yang melayang-layang di atmosfer. Titik-titik air atau es itu bukanlah air murni, melainkan ttik-titik air yang mengumpul di sekeliling inti kondensasi berupa kristal – kristal garam berukuran 0,1 —1 mikron yang berasal dari deburan ombak pantai (surf),debu serta asap pabrik dan kendaraan bermotor.

Pada tahun 1894, Komisi Cuaca Internasional membagi bentuk awan menjadi 4 kelompok utama, yaitu awan tinggi, awan sedang, awan rendah,dan awan dengan perkembangan vertikal.

Kelompok Awan Tinggi (6— 12 km) ditandai dengan kata siro atau sirus.

  • Sirus

Awan yang berwarna putih tipis pada siang hari dan mengkilat karena banyak mengandung kristal es. Awan itu sering berwarna merah atau kuning cerah menjelang dan saat Matahari terbit atau setelah Matahari terbenam.

  • Sirokumulus

Awan yang berbentuk gumpalan-gumpalan kecil dan tampak seperti sisik ikan. Awan itu relatif jarang muncul dan selalu bergabung dengan Sirus atau Sirostratus.

  • Sirostratus

Awan yang berwarna putih tipis dan tampak seperti tirai kelambu yang sangat halus. Oleh karena itu, awan itu dapat membuat langit kelihatan seperti susu atau memperlihatkan susunan berserat. Jika terkena sinar Matahari awan itu akan menimbulkan bayangan di tanah.

Kelompok Awan Sedang (2 – 6km) ditandai dengan kata alto.

  • Altokumulus

Awan yang berwarna putih atau kelabu dan tampak seperti gumpalan kapas pipih. Altokumulus terutama terdiri dan tetes air, namun pada suhu yang sangat rendah dapat berbentuk kristal es. Altokumulus dapat membentuk suatu lapisan yang seragam dan cukup luas (strafi formis).

  • Altostratus

Awan yang berlapis-lapis seperti pita dan berwarna kelabu. Jika awan itu terkena sinar Matahari atau Bulan tidak akan menimbulkan bayangan.

Kelompok Awan Rendah (0,8 – 2 km) ditandai dengan kata strato.

  • Stratokumulus

Awan yang bergumpal-gumPal lembut berwarna abu-abu. Stratokumulus terdiri dan tetes awan dan kadang-kadang mengandung tetes hujan. Awan jenis mi kadang-kadang juga disertai curahan hujan, namun intensitasnya kecil.

  • Stratus

Awan-awan seragam yang berlapis-lapis seperti kabut tipis. Jika awan itu melewati Matahari atau Bulan, garis bentuk Matahari atau Bulan dapat dilihat. Awan itu menjadi kabut jika menyentuh permukaan bumi.

  • Nimbostratus

Suatu lapisan awan rendah berwarna abu-abu gelap, tidak berbentuk, dan kelihatan basah. Oleh karena berwarna gelap dan tebal sehingga Matahari yang ada di baliknya tidak terlihat. Pada cuaca buruk suatu lapisan nimbostratus dapat bergabung dengan awan rendah yang berada di bawahnya.

Kelompok Awan dengan Perkembangan Vertikal (< 2 km).

  • Kumulus

Awan padat yang berkembang secara vertikal berbentuk kubah atau menyerupai bunga kol dengan lengkungan bulat berwarna putih cemerlang jika terkena sinar Matahari. Bagian dalam yang hampir horizontal berwarna gelap. Di atas daratan kumulus biasanya muncul pada pagi han dan menghilang sebelum malam.

  • Kumulonimbus

Awan besar yang berkembang secara vertikal berbentuk seperti gunung atau menara. Pada bagian atas awan kumulonimbus berserat dan sering menyebar. Komulonimbus mengandung tetes hujan yang besar sehingga dapat menimbulkan terjadinya hujan secara tiba-tiba.

Curah Hujan (Presipitasi)

Hujan adalah peristiwa jatuhnya butir-butir air dalam bentuk cair atau padat menuju bumi. Hampir seluruh hujan di daerah tropis berbentuk cair, sedangkan di daerah kutub berupa es atau salju. Saiju berbentuk karena sublimasi uap air pada temperatur di bawah titik beku, sedangkan es terbentuk karena butir —butir air terangkat sampai di tempat yang temperaturnya di bawah titik beku.

Besar kecilnya curah hujan antara lain dipengaruhi oleh arus udara, besarnya perairan, intensitas panas Matahari, topografi, serta banyak sedikitnya asap pabrik dan kendaraan bermotor. Oleh karena itu, besarnya curah hujan berbeda-beda menurut waktu dan tempat. Besarnya curah hujan dapat diukur dengan gelas ukur (rain gauge). Alat itu ada dua macam, yaitu alat pengukur curah hujan biasa dan alat pengukur curah hujan otomatis. Tujuan pengukuran curah hujan adalah untuk mengetahui jumlah dan intensitas curah hujan yang turun di permukaan yang datar tanpa memperhatikan adanya air yang meresap, mengalir, dan menguap. Satuan yang digunakan adalah laju curah hujan dalam jangka waktu tertentu, misalnya mm/jam. Berdasarkan besarnya curah hujan, hujan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hujan gerimis/rintik-rintik (kurang dan 2,5 mm/jam), hujan sedang (2,6 – 7,5 mm/jam), dan hujan lebat (lebih dan 7,5 mm/jam).

Berdasarkan proses terjadinya, hujan dikelompokkan menjadi 3, yaitu hujan konveksi, hujan orografis, dan hujan frontal.

Jenis – Jenis Hujan

Hujan Konveksi

Hujan konveksi terjadi karena pemanasan radiasi Matahari sehingga udara permukaan akan memuai dan naik secara vertikal. Hujan konveksi disebut juga hujan tropik atau hujan zenital karena terjadi di daerah ekuator (tropik) saat Matahari berada di titik zenit. Jika massa uap air banyak, maka akan terbentuk awan cumulonimbus yang menjulang tinggi. Hal itu akan mengakibatkan terjadinya hujan lebat (heavy shower), tetapi tidak berlangsung lama dan hanya mencakup daerah sempit. Hujan konveksi tidak efektifuntuk pertumbuhan tanaman karena air hujan sebagian besar dalam bentuk arus permukaan.

Hujan Orograjis

Hujan orografis terjadi karena udara yang mengandung uap air naik ke daerah pegunungan. Makin ke atas suhu udara makin dingin sehingga terjadilah proses kondensasi dan kemudian terjadi hujan di lereng pegunungan, sedangkan lereng di sebelahnya bertiup angin terjun yang kering dan panas. Daerah tempat terjadinya angin terjun itu disebut daerah bayangan hujan (rain shadow).

Hujan Frontal

Hujan frontal terjadi karena pertemuan massa udara panas dan massa udara dingin. Daerah pertemuannya disebut daerah front. Oleh karena massa udara panas kurang padat sehingga naik di atas massa udara dingin dan terjadi kondensasi, kemudian menjadi hujan.

Baca Juga :