Dokumentasikan Karya Tulismu, 7 Langkah Praktis Menerbitkan Buku

Banyak menulis di sosmed, tapi tidak dibukukan sangat disayangkan. Apalagi kita tidak tahu, apa benar terjadi sosial media seperti facebook akan ditutup oleh kominfo suatu hari nanti.

Membuat buku sebenarnya mudah, tahapannya ialah sebagai berikut:

1. Kumpulkan karya tulismu ke dalam file dokumen Ms. Word, ukuran A5, margin; 2-2-2-2, font: TNR atau Cambria, size:10,5 atau 11. Masukan semua karya tulismu sebanyaknya, minimal 50 halaman, maksimal tidak dibatasi. Biar tidak terlalu tebal cukuplah sampai 200 halaman.

2. Editing, rapikan tulisan yang masih ada kesalahan typologi, eyd, atau ada kalimat rancu dan kata kurang dimengerti.

3. Buat kelengkapan naskah, seperti: judul buku, halaman balik judul, kata pengantar, daftar isi, dan biodata penulis. Jika ada masukan daftar pustaka atau referency bagi tulisan ilmiah.

4. Mengatur naskah tulisan di buku. Tata letak tulisan, besar kecil huruf untuk judul dan sub judul, nomor halaman, kalau perlu berikan ilustrasi gambar grafis yang mempercantik bukumu nanti.

5. Buat cover buku yang menarik, dengan ilustrasi gambar original hasil karyamu atau hasil jepretan sendiri. Buatlah layaknya cover buku yang keren dan menarik untuk dilihat. Di cover depan terdiri dari judul buku dan nama penulis. Di cover belakang bisa kamu isi penggalan isi tulisanmu, atau sinopsis bukumu, agar pembaca tertarik untuk membaca isi buku di dalamnya.

Jika sudah selesai semua, naskah bukumu disimpan dengan baik. Lalu save as ke format PDF. Sudah jadi tuh ebook, yang bisa kamu bagikan ke teman. Dan bisa dibaca di handphone mereka.


Jika ingin jadi buku fisik...

6. Print out dengan printer yang bagus, semisal Epson. Bisa perhalaman, bisa juga kamu atur saat ngeprint bolak-balik, untuk 2 halaman dalam 1 lembar kertas. Karena sulit cari kertas bookpaper, pakai saja kertas HVS A4. Jika punya kenalan percetakan buku, kamu cetak saja bukumu dipercetakan.

7. Jilid buku hasil printout, bisa dengan heckter, dikasih lem aibon, tempelkan cover buku (dari kertas foto juga bisa), rapikan dan potong dengan cutter bagian pinggirnya agar rapi.

Selesai.

Yang namanya biaya pengeluaran, pasti ada dan harus keluar, meski kita membuat buku hasil karya sendiri. Dari mulai waktu, tenaga, kertas, tinta, kertas foto, heckter, lem aibon, dst.

Untuk masalah isbn, itu tidak wajib. No isbn untuk mengindentifikasi judul buku yang masuk katalog perpustakaan nasional. Tanpa isbn pun, buku hasil karyamu sudah pantas untuk dipublikasikan.

Jangan pernah mencuri atau mengambil nomor isbn orang lain, lalu ditempel di buku kamu. Buat apa coba? Tidak penting itu. Malah melanggar peraturan perundang-undangan.

Untuk mendapatkan isbn di perpusnas, kamu bisa mengajukan sendiri, selama prosedural syaratnya terpenuhi. Mendapatkan no isbn memang gratis, akan tetapi, ada peraturan perundangan yang mewajibkan bagi penerima isbn untuk menyetorkan buku fisiknya ke mereka; 2 eksemplar ke perpusnas, 1 eksemplar ke perpusda. (UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 1990 TENTANG SERAH-SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM. Bab II, Pasal 2).

Jadi, dianggap tidak gratis juga untuk dapat isbn, karena harus serah simpan karya cetak buku kita ke mereka lagi. Jika 3 eksemplar bukumu dihargai 100-150rb, wajar jika ada penerbit yang "menjual" isbn dengan harga segitu. Meskipun jual beli isbn dilarang dan melanggar.

Setelah buku fisikmu selesai, untuk menggandakannya kamu bisa pakai jasa fotocofy-an. Yang penting rapi dan tidak memalukan. Dijual murah atau dibagikan keteman, saudara, atau sekadar untuk disimpan di rumah sebagai dokumentasi karya tulismu, itu sudah cukup, kamu menghargai karya tulismu yang tersebar di sosmed yang bisa saja hilang atau diplagiasi. Ketika ada yang plagiasi karya tulismu, buku fisikmu itu bisa jadi bukti bahwa karya tulis itu hak cipta milik kamu original.

Semoga bermanfaat.

Menulis sampai mati, lalu bukukan karya
tulismu.

Ditulis oleh: Dhani Sugesti, Direktur CV.Arashi Group.

0 Komentar Dokumentasikan Karya Tulismu, 7 Langkah Praktis Menerbitkan Buku

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top