Wikipendidikan

Portal Pendidikan Indonesia

Sabtu, 08 Juli 2017

Saat Menulis Cuma Jadi Ajang untuk Mengejar Popularitas

loading...
Setiap orang ingin diakui eksistensi dirinya, tak terkecuali seorang penulis. Karena sekarang lagi trend belajar menulis di grup-grup kepenulisan di sosial media, banyak penulis pemula yang merasa gundah dan kecewa karena tulisannya di dunia maya tidak mendapatkan respon sesuai apa yang dia inginkan. Nulis panjang-panjang, ngetik cape-cape, bikin ide cerita sungguh-sungguh yang ngelike cuma tujuh orang, itu pun yang lima saudaranya semua. Duanya lagi akun kloningan.

Nampaknya kegundahan hati semacam itu muncul karena merasa tidak diperhatikan atau tidak dihargai keberadaannya. Seakan-akan semua rang mengganggapnya kecil bak debu yang begitu cepat hilang ditiup angin. Orang-orang dikiranya sering mengabaikannya dan memandangnya sebelah mata (padahal mata setiap orang itu ada dua, ya!).


Apakah salah bersikap begitu? Saya kira, cukup manusiawi. Manusia seperti kita, saya atau anda, pasti memiliki rasa ingin diperhatikan dan dihargai. Wajar saja, kok. Tentu saja asalkan tidak menjadi kebiasaan yang ujung-ujungnya ngambek dan mogok menulis.

Kalau banyaknya tanda "like" dan komentar yang menjadi prioritas utama maka sesungguhnya anda sudah gagal menjadi penulis sebelum berjuang sama sekali. Tanya kenapa? Itu artinya anda menulis untuk sekedar mengejar popularitas. Padahal popularitas dengan sendirinya akan diraih setelah anda berhasil memproduksi tulisan-tulisan berbobot dan disukai berjuta pembaca.

Andai ego anda masih juga kesengsem pingin dapetin "like" dan komenan berjibun hingga ada ratusan bahkan ribuan, anda bisa memakai jalan "hacking" terhadap akun-akun aktif di efbi ini. Ada aplikasi "auto-like" yang mampu membuat tulisan anda menjadi ramai di-like dan dikomentari oleh banyak pembaca. Tutorialnya begitu melimpah bisa anda pelajari di You Tube.

Apakah seperti itu yang anda inginkan? Jika jawabannya "ya" berarti anda tidak punya bakat dan potensi buat jadi seorang penulis! Barangkali lebih pantas dianggap sebagai parasit an sich. Makanya bila bermimpi menjadi penulis hebat, ayo kita (saya dan anda) berjuang untuk terus mengasah kemampuan menulis tanpa mengeluh dan bersikap lebay kayak anak yang ingusnya meler-meler nutupin bibirnya. (Achmad Sholikin/kbm)
loading...
Back To Top