Minggu, 18 Juni 2017

Tantangan Menulis Puisi Religi

Menulis puisi bertema religi memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilahirkan. Saya mengalaminya sendiri. Pada puisi jenis ini sangat dibutuhkan konsentrasi dan penghayatan secara mendalam, perjalanan rohani, kedalaman rasa dalam memilih diksi dipengaruhi oleh pengalaman yang benar-benar dialami oleh penulis, hal ini sangat mempengaruhi.

Apakah hanya penulis berusia lanjut saja yang bisa menulis puisi religi? Jawabnya, "Tidak juga...." Penulis muda pun mampu melahirkan puisi religi dengan baik. Saya bukanlah penilai, akan tetapi penikmat, ketika membaca puisi perasaan itu menuntun menyelami makna yang tersirat dalam tubuh puisi hingga ke jantungnya.
Tulisan terkait: Kumpulan Puisi Islami Ramadan Terbaik 2017
Banyak puisi religi atau mendekati religi ditampilkan, beberapa di antaranya bisa menyentuh kalbu dan selebihnya sedang berproses, seperti tulisan saya sendiri. Kadangkala ditemukan diksi yang dilebih- lebihkan sehingga tanpa disadari kalimat itu jadi menimbulkan efek kepura-puraan atau diada-adakan. Bahkan terjadi mubazir makna.

Tidak harus memilih majas bertingkat-tingkat, akan tetapi sesuatu yang lugas dan mengalir dalam kemurnian rasa menuju ruang di mana bermacam-macam keinginan ditumpahkan, bisa sebagai doa, ajakan mendekatkan diri, bertaubat dan percakapan antara penulis dengan sang khalik.

Baca juga: 10 Aturan Menulis Puisi yang Tidak Banyak Diketahui
Saya belajar mengungkapkan rasa dalam satu bait puisi religi, masih belum sempurna dan dangkal makna di bawah ini. Sujud jiwaku menyebut asmaMu Di antara malam larut dalam sunyi Berdzikir kutenangkan hati yang sakit mengaduh Ya Allah wahai Engkau sang Maha Teduh PadaMu kukembalikan duniaku Segala keinginan semu membelenggu tubuh. (Dwi Retno RJ/@rumahliterasi)

0 Komentar Tantangan Menulis Puisi Religi

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top