Jumat, 02 Juni 2017

Memasyarakatkan Al-Qur'an dan Meng-Qur'an-kan Masyarakat Menuju ‘Muslim Jeruk Manis’

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Musa Al-Asy’ari bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah jeruk, rasanya manis dan harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma rasanya manis tetapi tidak memi-liki aroma. Perumpamaan orang yang berbuat maksiat tetapi membaca Al-Qur’an seperti minyak wangi yang harum aromanya tetapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang yang berbuat maksiat dan tidak membaca Al-Qur’an seperti labu yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.”
Shutterstock.com

Pembaca Al-Qur'an ternyata bukan terdiri dari orang shalih semata. Ternyata orang yang berbuat maksiat (al-Faajir, dalam riwayat lain menggunakan redaksi "al-munaafiq") pun ternyata turut membacanya. Ini lah yang perlu menjadi kewaspadaan kita, hanya membacanya tanpau mau berusaha mengamalkannya.

Apa yang disampaikan Nabi tentang tipologi mukmin dalam kaitannya dengan Al-Qur'an, sepatutnya tidak hanya dipahami sebagai sebuah prediksi atau ramalan semata, melainkan sebagai kritik atas
kondisi umat Islam (kritik internal/otokritik) seperti halnya kritik Nabi pada kesempatan yang lain terkait dengan umat Islam yang banyak tapi layaknya "buih" yang pernah diulas oleh Gus Nadir (Nadirsah Hoosen). Sabda-sabda semacam ini, berfungsi sebagai kontrol dan bahkan kritik sosial.

Hadis tersebut menegaskan bahwa muslim atau mukmin ideal adalah tipe "Muslim Utrujji" (Muslim Jeruk Manis), yang membaca atau menghafal Al-Qur'an, memahami kandungannya, dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata (Al-Qur'an in Everyday Life). Tipologi muslim inilah, tentunya tipe Muslim yang kita idam-idamkan.

Sayang, realitas yang ada cenderung menunjukkan, bahwa Muslim Indonesia kebanyakan baru sampai pada level "Muslim Raihaani" (Muslim Parfum) yang aromanya semerbak namun rasanya pahit. Bahkan masih sedikit kiranya yang mencapai level "Muslim Tamri" (Muslim Kurma) yang mengamalkan ajaran dan pesan moral al-Qur'an kendati belum atau tidak hafal Al-Qur'an. Lebih-lebih sangat minim sekali yang bertipe "Muslim Utrujji" (Muslim Jeruk Manis). Bahkan tidak menutup kemungkinan mayoritas umat Islam justru berkategori "Muslim Handhalah" (Muslim Labu/ Kamarogan), yaitu Muslim yang tak pernah membaca Al-Qur'an dan tidak pula mengaplikasikan ajaran yang dikandung di dalamnya. Mungkin kondisi ini lah yang memantik keprihatinan beberapa pemikir Muslim. Syaikh Amir Syakib Arslan misalnya, pernah mengajukan pertanyaan fundamental, Mengapa umat Islam mundur, sementara non Islam justru maju? Lantas ia jawab sendiri pertanyaan tersebut, "Karena mereka (non muslim) mempraktekkan ajaran kita, sementara kita justru mempraktekkan ajaran mereka".

Kesemarakan pendidikan Al-Qur'an memang mulai merebak di mana-mana yang ditandai oleh berdirinya lembaga-lembaga Al-Qur'an semisal Rumah Tahfidz, Rumah Qur'an, Pendidikan Tinggi Al-Qur'an dan sebagainya. Di satu sisi tentu kenyataan ini sangat positif dan sekaligus membanggakan. Pada sisi yang lain, tentu kita tidak boleh menutup mata dan abai atas realitas umat Muslim yang masih saja terpuruk yang bisa jadi diakibatkan oleh prilaku kita yang justru bertentangan dengan ajaran-ajaran Al-Qur'an.

Karenanya, mendesak kiranya untuk segera merealisasikan program yang tidak saja  "Memasyarakatkan Al-Qur'an, namun juga Meng-Qur'ankan Masyarakat". Memasyarakatkan Qur'an berarti upaya membumikan Qur'an di tengah-tengah masyarakat. Al-Qur'an oleh karenanya, begitu semarak di mana-dimana, di tengah tengah kehidupan masyarakat. Sementara Meng-Qur'an kan Masyarakat berarti menjadikan prilaku dan sikap hidup masyarakat sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur'an. Upaya yang kedua ini tentu saja meniscayakan tahapan-tahapan tertentu sebagai proses menuju masyarakat yang Qur'ani, sebuah masyarakat yang tidak sekedar membaca dan memahami Al-Qur'an, namun juga  mengimplementasikan ajaran- ajaran agung yang dikandungnya dalam kehidupan nyata. Upaya pertama lebih identik dengan apa yang disebut "Al-Qur'an Seremonial", sementara upayaca kedua mengarah kepada apa yang diebut "Al-Qur'an Aktual". Semoga...!

Wallahu A'lam bi al-Shawwab...
Yogya, 25/12/2016
Best Regard
Al-Faqiir Ahmad Syafi'i SJ.

Baca juga:
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top