Rabu, 28 Juni 2017

3 Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lebaran di Indonesia

loading...
Menjelang lebaran hingga beberapa hari setelah lebaran semua lembaga pendidikan di Indonesia dalam setiap jenjangnya diliburkan. Apakah hal itu juga bermakna bahwa proses belajar kita berhenti? Tentu saja tidak. Libur lebaran hanya berlaku bagi lembaga pendidikan yang tersistem, entah itu sekolah, madrasah, maupun perguruan tinggi. Namun pada hakikatnya, proses pendidikan tetap terus berjalan, sebagaimana ungkapan Ki Hajar Dewantara yang berbunyi: "setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah perguruan".

Lebaran atau idul fitri merupakan salah satu hari besar umat islam yang diperingati setiap tanggal 1 syawwal. Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi seluruh umat islam di dunia. Lebaran juga biasa diartikan sebagai hari kemenangan dan fitrah, yaitu hari di mana setiap muslim sukses berperang melawan hawa nafsunya selama satu bulan penuh di bulan ramadhan. Ketika lebaran tlah tiba, ia laksana orang yang bersih dari dosa-dosa.

Memaknai substansi nilai pendidikan dalam idul fitri/lebaran, Muhammad Arrizky Alamsyah mentipologikan nilai pendidikan yang terkandung dalam lebaran menjadi tiga, yaitu pendidikan tentang nilai pengetahuan, sosial, dan spiritual.

Nilai pendidikan pengetahuan dalam lebaran terdapat dalam tradisi seperti mudik dan bersilaturahmi antar keluarga dan kerabat. Orang-orang bertemu, berinteraksi, dan berbagi pengalaman satu sama lain dengan sesama anggota keluarga maupun tetangga. Pertemuan yang terjadi antar keluarga, teman, kerabat, maupun tetangga akan memunculkan pola interaksi di mana akan terjadi pertukaran pengalaman antara satu dengan yang lainnya. Dari sinilah kemudian orang akan belajar dan mendapatkan pengetahuan yang berharga dari pengalaman-pengalaman orang lain.

Pendidikan tentang nilai sosial dalam lebaran terwujud dengan adanya tradisi saling memberi "sangu". Ketika lebaran tiba, ada tradisi saling memberi di kalangan masyarakat Indonesia yang dalam istilah orang jawa disebut "sangu". Pemberian itu bisa berupa uang, makanan, maupun benda. Budaya semacam ini merupakan sebuah bentuk empati dan kepedulian dari orang-orang yang mempunyai rezeki berlebih terhadap orang-orang yang kurang mampu. Kebiasaan tahunan ini selain merupakan bentuk empati yang mengandung nilai kepedulian sosial, sekaligus merupakan teladan nilai pendidikan sosial untuk anak-anak dan remaja agar mereka menyadari bahwa datangnya rezeki hanya dari Tuhan dan ketika kita diberi kelebihan rezeki sudah seharusnya saling berbagi kepada mereka yang kekurangan. Dari kesediaannya untuk berbagi itulah ia dapat mengukur kualitas keihkhlasan atas apa yang ia berikan.

Ilustrasi: Newteknoes.com
Pendidkan tentang nilai spiritual dalam lebaran terdapat dalam budaya saling maaf memaafkan. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh ajaran islam bahwa pada hari raya idul fitri atau lebaran, semua umat islam di perintahkan untuk saling maaf-memaafkan satu sama lain, baik dalam konteks individual maupun kelompok. Saling maaf-memaafkan merupakan cara umat islam membersihkan diri dan jiwanya dari dosa yang berkaitan dengan hak adamy selama setahun. Apabila nilai maaf memaafkan ini benar-benar dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat lebaran saja, maka proses penyucian/pembersihan dosa tidak harus menunggu lebaran tiba. Dan kehidupan umat pun akan penuh dengan kedamaian karena tingginya tingkat kesadaran untuk saling meminta maaf dan memaafkan.

Demikianlah, selalu ada nilai pendidikan yang kita gali dari setiap sisi kehidupan, termasuk dalam idul fitri. Kami dari pengelola situs wikipendidikan.com mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri" mohon maaf lahir dan batin.
loading...

0 Komentar 3 Nilai Pendidikan dalam Tradisi Lebaran di Indonesia

Posting Komentar

loading...
Wikipendidikan
Back To Top