Sabtu, 03 Juni 2017

Literasi Ramadan

LITERASI RAMADAN: Melangkahkan Hati

Gusti yang maha-memahami, dalam naungan puasa ramadan yang mendekap nurani, kali ini kami tak melangkahkan kaki dan hati ke rumah ilahi, dan mengumandangkan tadarus berlapis suara betapa indah sekali. Kami terseret arus sukma tak terpahami, menjelajahi pinggir kali yang berhuni kaum tak berdaya ekonomi, dan tak teraih suara-suara merdu yang datang dari rumah ibadah megah sekali. Subhanallah, astaga, suara mereka cuma lirih berbunyi, dan tak sanggup menembangkan harapan yang bisa menghapus air mata jadi bunyi indah tak terperi. Di situ kami justru saksikan kehadiran-Mu ya Gusti, karena di rumah ilahi kami cuma bertemu tadarus dari keping cakram yang disetel sepanjang hari. Di situ kami benar-benar bersama-Mu ya Gusti, karena di rumah ilahi kami acap bersua suara kilah dan bantah yang dikendali silang sengkarut isi media sosial masa kini.

Gusti yang maha-mengerti, di tengah kehangatan peluk puasa ramadan ini, kami buka dan baca ayat-ayat kauni yang terserat di wajah-wajah kemiskinan dan ketimpangan yang mengiris hati. Wajah-wajah terlupakan di tengah ingar-bingar janji dari mulut-mulut seolah suci, dan berbusana gemerlap sekali seolah terlapisi malaikat penjaga surgawi. Subhanallah, astaga, kami malah seperti berada di kedamaian abadi terjanji, dan bersama keindahan-Mu yang melampaui segala rangkai edipeni. Di situ kami malah masuk ke dalam esensi kitab suci. Gusti, ampuni kami, berpaling kami tak mampu lagi, sebab kami malah menemukan rumah ilahi dan jamaah tulus hati di tempat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, dan bukan di bangunan megah yang acap disebut rumah ilahi yang kalau malam pintu dan pagarnya rapat dikunci.


LITERASI RAMADAN: Membaca Tanda

Bacalah, bacalah tanda-tanda rabani: di jantung kitab abadi pula di gelaran semesta suci. Berseru ramadan melewati urat arteri ketenangan hari: juga hening cipta di dada tiap insani. Lalu langit tersibak terang seperti awan-awan tersapu angin musafir bumi: muncul bayangan dampar luas yang hanya dihuni rajutan huruf keramat sejak asali. "Duh, bagaimana mungkin bisa terbaca indah sekali: sementara rimbun semak belukar kejumawaan diri dan keringgian hati mengalingi mata hati sebagian insani?!", batinku berbisik lirih sekali.

Berjagalah, berjagalah sepanjang malam yang melawat ke rerumpun tanda yang tercipta dari sabda-sabda: di situ kamu bersua suara-suara cahaya yang tiba dari sidratul muntaha. Berkata ramadan melewati napas huruf-huruf berasal dari keabadian masa: yang menggoda dan menyilaukan mata hidup manusia. Lantas terbuka buku-buku kitab yang terjaga keaslian tandanya: yang cuma didaras oleh sari-sari ketulusan dada. "Duh, mungkinkah kuraih makna puasa tatkala diri tercemplung kubangan kedunguan seorang hamba?", nuraniku was-was menerka.

LITERASI RAMADAN: Pendakian

Sebelum lindap di pandangan mata: sahabatnya bersapa
“hai...kemana pergi: pakai bersuci dan baca wirid hidayat jati?”
“aku hendak mendaki Ihya Ulumuddin al-Ghazali”, tegasnya bersaksi
Para sahabatnya ternganga: “hati-hati kau bisa sirna jika tak suci jiwa”

Suara insan telah mental di telinga: sebab sudah dijaga doa-doa
Dan dia begitu sigap menyusuri jalur menuju puncak damba
Demikian banyak puncak antara: semua membikin dada prana
Tersebab indah dan agung melampaui kata-kata
Juga aneka jurang mengancam nyawa: bila sukma tak waspada

Tak terasa bertahun sudah dia teguh mendaki: berjuta wirid ditata rapi
Puncak Ihya al-Ghazali menjulang tinggi: belum terjejaki
Padahal makin menipis bekal yang dibawa jiwa dan hati

Dia percepat langkah menapaki jalur mencapai puncak paling tinggi
Dengan lantunan doa dan zikir makin kuat, bergema, dan tanpa henti
Sebelum sempat teriak bangga tatkala mencapai puncak Ihya al-Ghazali
Dia telah sirna dibakar cahaya laduni yang terpancar dari ajaran suci
Dan dia pun sirna: bersatu dengan cahaya abadi

LITERASI RAMADAN: Musim Berbaik Hati

Musim kering berdebu tak ada di sini, tak hendak turun di sini: jejak didih panas membakar segala cuma datang di sana, nun jazirah jauh yang teberkahi. Di tempatku tak kutahu kenapa musim begitu berbaik hati: menebari teduh cuaca alam saban hari. Kepada hati, kepada nurani: bara angkara dan pijar merah nafsu pun padam sebelum nafiri puasa ramadan dimulai.

"Maka pepujian semata layak kamu khusuk daraskan di seantero bumi, berhulu rajutan makna yang mukim di kitab suci! ", ramadan bersaksi. "Tapi, kenapa sebagian di antara kamu justru memfestivalkan kesumat dan kebencian tak terperi? Dunia jadi ingar kehilangan hening sejati. Tapi, kenapa kobar keangkaraan dan kedurjanaan tak kamu sudahi? Kesabaran terkulai hilang arti: diterkam taring-taring tinggi hati, dan laku paling benar sendiri". Terbayang ramadan tinggal ritus tanpa julang tangga naik ke langit tak ternamai.

LITERASI RAMADAN: Menapaki Puasa

Hari yang basah, menangkal segenap gerah, waktu menghela puasa terasa tanpa bunyi langkah, hingga insan terkesiap di ujung senja yang tiada memerah. "Puasamu betapa mudah, di negeri teberkahi kenikmatan berlimpah ruah, musim yang begitu akrab bagi niat berserah", ujar ramadan selembut satin indah.

Lalu tandas ramadan, "Lihat, lihatlah negeri seberang, insan-insan berpuasa seperti melintasi luas gersang padang, musim terentang begitu panjang, hingga jam-jam berputar dengan matahari tetap terang, dan jarak buka dengan sahur alangkah dalam berlubang. Masihkah kau umbar sergah garang?". Seketika suara mulutku hilang, keluh tiba-tiba terhadang, tapi syukur tak pula deras datang, mungkin lantaran jiwa kurang timbang, rasa kemanusiaan cuma umbi di dalam liang.

"Puasa itu laku kesadaran kemanusiaan", terang ramadan gamblang, "bersumbu ketuhanan". Seluruh diriku terguncang, seperti sampan mungil dihantam badai gelombang, di tengah lautan kebiruan. Kemudi niat bergetaran, entah berapa takaran, tak tercatat di angka-angka berlintasan, sebab puasa kegaiban yang menakjubkan.

By: Prof. Djoko Saryono

Baca juga:
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top