Jangan Mencampuri Hak Allah

"Laailaha illa anta, subhanaka inni kuntu minadz dzalimin." Inilah doa nabi Yunus as tatkala ia berada dalam kegelapan. Kegelapan yang berlipat-lipat adanya. Kegelapan malam, kegelapan lautan, kegelapan perut ikan yang menelannya saat ombak laut membuat kapalnya oleng hingga mengharuskan ia menceburkan diri. "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim." Sebuah pengakuan tulus menghinakan diri dalam kesendirian. Yang ia tahu saat itu hanya ada dia di hadapan Allah menyesali kedzalimannya. Ia malu pada kerikil laut yang selalu bertasbih pada Allah. Sedih jiwanya semakin dalam, sedu sedannya kian menjerit, kecewa batinnya bertambah-tambah. "Tidak ada Tuhan selain Engkau," katanya. "Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim."

Siapa yang bisa menolongnya saat itu? Kuasa apa yang dia miliki untuk menyelamatkan diri? Apa yang bisa ia lakukan? Meminta tolong pada siapa ia? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat nabi Yunus semakin sadar, "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim."

Batinnya sesak menyadari kesalahannya. Pikirannya amat dihantui perasaan berdosa. Tak seharusnya ia pergi meninggalkan kaumnya dengan marah-marah. Tidak sepatutnya ia kecewa dengan dua pengikut sebagai hasil payah dia 30 tahun berdakwah. Bagaimanapun tugas ia hanya berdakwah. Perkara hidayah hanyalah urusan Allah. Tak seharusnya ia mengurusi sesuatu yang sejatinya itu adalah hak Allah. Punya daya apa memangnya dia? Punya kuasa apa? Di dalam perut ikan itu ia terus menghinakan diri kepada Allah. Ia akui kesalahannya. Ia memohon ampun semohon-mohonnya. "Tidak ada Tuhan selain Engkau," katanya. "Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim."

Sahabat Abu Bakar As-Shiddiq ra berdoa dalam pidato pertama keterpilihannya sebagai Khalifah, "Ya Allah.. janganlah sekali-sekali Kau biarkan aku mengurusi dunia dengan kuasaku sendiri meskipun sedetik." Tak ada daya yang kita miliki kecuali dari Allah. Ketika mencoba mengurusi suatu perkara dengan mengandalkan kuasa sendiri, akan kecewalah kita pada akhirnya. Maka janganlah sekali-kali menyandarkan pengharapan kita pada selain Allah. Terbebani, berat hati, putus asa, adalah tanda-tanda bahwa kita tak seutuhnya menyandarkan pengharapan kita pada Allah. Padahal apa yang kemudian menjadi beban tatkala kita menyadari bahwa tugas kita hanyalah berusaha? Apa yang kemudian membuat putus asa jika kita menyadari bahwa setelah berusaha tugas kita hanyalah pasrah? Selebihnya itu urusan Allah, kuasa Allah, wewenang Allah yang tak bisa kita mencampurinya. "Tidak ada Tuhan selain Engkau," katanya. "Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim."


Setelah sekian lama berdzikir, Allah terima pengakuan nabi Yunus. Allah telah yakin bahwa nabi Yunus sudah memahami pelajaran yang diberikan-Nya lewat permasalahan itu. Oleh karenanya diselamatkanlah ia. "Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit," (QS. As-Shaffat: 144-143).

Kemudian kembalilah ia pada kaumnya. Semakin ia hujamkan tekad untuk bersetia dalam jalan dakwah seberapapun lamanya. Namun ketika telah tiba di kampung halaman, seluruh penduduknya telah beriman. Allah tunjukkan keberwenangannya. "Tidak ada Tuhan selain Engkau," yakinnya. "Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim."

Cerpen by Lukman Maulana
Wikipendidikan
Back To Top