Sabtu, 03 Juni 2017

Filsafat Stoik dan Ajarannya tentang Kebijaksanaan Hidup

Filsafat merupakan salah satu tema pembahasan yang oleh sebagian orang dianggap rumit, membosankan, dan tidak berguna. Padahal, di dalam filsafat ada banyak pelajaran yang kita ambil tentang kebijaksanaan hidup. Salah satu madzhab filsafat Yunani Kuno yang punya pengaruh besar bahkan hingga saat ini adalah Stoikisme. Madzhab Stoikisme lahir Athena pasca Aristoteles, dilahirkan oleh seorang filosof bernama Zeno of Citium (332-262 SM.). Zeno adalah seorang filosof yang mengajarkan bahwa manusia harus mendapatkan kedamaian diri melalui cara hidup yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.

Ketika itu, Athena menjadi pusat pembelajaran. Zeno sebagai salah satu pengajar di Athena (pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Socrates), menyebarluaskan ajarannya ke masyarakat Athena. Tidak hanya berlangsung di kelas, tapi juga di luar kelas seperti di beranda-beranda rumah. Karena itulah kemudian muncul istilah Stoa dan Stoik. Stoa merupakan bahasa Yunani dari beranda rumah, sedangkan Stoik merujuk pada orang-orang yang belajar di beranda rumah.


Stoikisme menjadi aliran filsafat yang cukup populer di Romawi, terutama bagi mereka yang menyukai keseimbangan dan sederhanaan dalam menjalani kehidupan. Dua Stoik Romawi yang termasyhur adalah Cicero dan Seneca.

Ajaran Stoikisme yang berfokus pada etika dan kebijaksanaan, membantu kita dalam meraih kebahagiaan dan kebijaksanaan diri dalam kehidupan; sesuatu yang bisa digunakan seseorang untuk menjalani kehidupan yang hebat, di mana di dalamnya kita menemukan beberapa kearifan terbesar dalam sejarah dunia filsafat.

Ajaran tentang pentingnya menghargai waktu

Di zaman ini akan ada gangguan tanpa henti mulai dari panggilan telepon, email, kedatangan tamu, atau kejadian-kejadian tak terduga. Booker T. Washington mengamati bahwa "jumlah orang yang siap mengkonsumsi waktu seseorang tanpa tujuan, hampir tidak terhitung jumlahnya."

Seorang filsuf, di sisi lain, tahu bahwa keadaan normal mereka harus menjadi salah satu refleksi dan kesadaran batin. Inilah sebabnya mengapa mereka dengan tekun melindungi ruang dan pikiran pribadi mereka dari gangguan dunia. Mereka tahu bahwa beberapa menit kontemplasi (tafakkur atau refleksi diri) lebih berharga daripada pertemuan atau laporan apapun. Mereka juga tahu betapa sedikit waktu yang benar-benar kita dapatkan dalam hidup.

Seneca mengingatkan kita bahwa meski kita mungkin bisa melindungi properti fisik yang kita miliki seperti rumah, kendaraan, dll., kita terlalu lemah dalam menegakkan batas mental kita. Properti dapat diperoleh kembali; Ada cukup banyak di luar sana. Tapi bagaimana dengan waktu? Waktu adalah aset kita yang paling tak tergantikan. Kita tidak bisa membeli lebih banyak waktu. Kita hanya bisa berusaha menyia-nyiakan sesedikit mungkin.

Seneca mengatakan "jangan sampai ada seorang pun yang mencuri waktuku walau sehari, di mana tidak ada yang akan membuat pengembalian penuh atas kerugian itu."

Orang menghabiskan lebih banyak uang ketika mereka menggunakan kartu kredit daripada ketika mereka harus mengeluarkan uang fisik. Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa perusahaan kartu kredit dan bank mendorong pembuatan kartu kredit dengan sangat agresif? Karena semakin banyak kartu kredit yang Anda miliki, semakin banyak yang akan Anda belanjakan.

Apakah kita memperlakukan hari-hari kehidupan kita seperti kita memperlakukan uang kita? Karena kita tidak tahu pasti berapa hari kita akan hidup, dan karena kita berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan fakta bahwa suatu hari nanti kita akan mati, kita terlalu liberal dalam menghabiskan waktu.

"Bukannya kita punya waktu yang singkat untuk hidup, tapi kita membuang banyak waktu secara percuma dalam hidup. Hidup sudah cukup lama, dan itu diberikan oleh Tuhan dalam ukuran yang cukup untuk melakukan banyak hal hebat jika kita memanfaatkannya dengan baik. Tapi ketika digunakan untuk kesenangan hawa nafsu dan kelalaian, tanpa terasa telah banyak umur yang kita habiskankita. Kita tidak menerima kehidupan yang singkat, tapi kita yang membuatnya terasa singkat.

Seneca mengatakan, "Hidup itu lama jika Anda tahu bagaimana cara menggunakannya." Sayangnya, kebanyakan orang tidak melakukannya - mereka menyia-nyiakan hidup yang telah diberikan. Baru setelah terlambat, mereka mencoba mengimbangi dengan harapan sia-sia untuk bisa memberi lebih banyak waktu bermanfaat setiap saat.

Manusia Purna

Orang-orang Stoa tidak berpikir bahwa ada orang yang bisa mencapai tingkat kesempurnaan. Gagasan untuk menjadi seorang bijak sebagai aspirasi tertinggi seorang filsuf adalah gagasan yang tidak realistis. Namun, mereka memulai setiap hari dengan harapan bisa sedikit mendekati tingkatan itu. Ada banyak keuntungan dalam usaha mencoba.

Dapatkah Anda benar-benar hidup hari ini seperti hari terakhir Anda? Mungkinkah mewujudkan kelengkapan atau kesempurnaan dalam etos (karakter) kita, dengan mudah melakukan kebaikan selama dua puluh empat jam penuh? Mungkinkah lebih dari satu menit? Mungkin tidak. Tapi kita bisa belajar dari orang-orang Stoa.

Mengapa takut mati?

Sebagian besar dari kita takut mati. Tapi terkadang ketakutan ini menimbulkan sebuah pertanyaan: Apa yang sebenarnya membuat kita enggan untuk mati? Bagi banyak orang, jawabannya adalah: berjam-jam di depan televisi, bergosip, bersenang-senang, membuang-buang potensi, melaporkan pekerjaan yang membosankan, dan terus-menerus seperti itu. Kecuali, dalam arti yang paling ketat, apakah ini benar-benar sebuah kehidupan? Apakah kehidupan semacam ini layak untuk kita cengkeram begitu erat?

Tidak ada yang tahu berapa lama kita hidup, tapi kita bisa yakin satu hal: kita akan menyia-nyiakan banyak waktu dalam kehidupan kita.

Image: Shutterstock
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top