Cara Amar Ma'ruf Nahi Mungkar terhadap Pelaku Maksiat

Akhir-akhir ini semakin banyak kelompok-kelompok umat islam yang getol dengan gerakan amar ma’ruf nahi mungkar. Entah bagaimana pemahaman mereka tentang konsep amar ma’ruf nahi mungkar dalam islam, yang jelas cara yang mereka gunakan jauh dari misi islam itu sendiri yang merupakan agama pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta sebagaimana yang tercermin dalam akhlak rasulullah saw. Memang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dianjurkan dan mempunyai banyak keutamaan, tapi bukan dengan cara-cara yang galak dan membabi buta.


Dalam kitab beliau Nasaaihuddiniyyah, Syaikh Abdullah Ba'alawi al Haddaad, mengulas panjang lebar tentang keagungan amar ma'ruf nahi munkar yang merupakan jalan para Nabi, Shaalihin, Auliya dll dan menggaris besari bahwa: Qul Hadzihi Sabiili/Katakanlah ini adalah jalanku.

Lalu mencontohkan kisah Qaryah/Desa zaman Bani Israil yang dilarang mencari ikan di hari sabtu, ternyata masyarakat mereka terpecah jadi tiga:

1. Tetap mencari ikan.
2. Melarang, tapi tetap bersama mereka.
3. Melarang dan meninggalkan mereka.

Oleh Allah Ta'ala, golongan pertama dan kedualah yang terkena adzab dengan dijadikan Kera. Sedang golongan ketiga selamat. Beliau mewarning itulah balasan orang yang bergaul dengan ahli maksiat, dan boleh kita meninggalkan ahli maksiat, kalau kita sudah putus asa dengan pertaubatan mereka.

Kemudian dalam bahasan selanjutnya, beliau menyayangkan kekeliruan masyarakat di zamannya (Kisaran 1132 H/1720), yakni terlalu tergesa-gesa memvonis pelaku maksiat dengan hanya berbekal informasi dari orang yang sesuai dengan hawa nafsunya, padahal mestinya, bolehnya menghilangkan kemungkaran dengan catatan harus melihat sendiri kemunkaran tersebut, atau lewat orang yang benar-benar bertaqwa/bisa dipercaya. Jadilah orang-orang yang benar menjadi salah, dan orang yang salah menjadi benar. Inilah fitnah yang nyata!!.

Dan terakhir dalam muqaddimah amar ma'rufnya beliau berpesan:

"Ketahuliah, sungguh ramah penuh toleran, penuh belas kasih, dan menjauhi sifat keras dan kasar, merupakan pondasi terbesar untuk di terimanya kebenaran dan mengikutinya".

Diulas oleh: Gus Robert Azmi dari pondok pesantren Pule, Nganjuk.

Baca juga:
Wikipendidikan
Back To Top