Minggu, 18 Juni 2017

3 Macam Perasaan Syukur

Mungkin kita semua sudah sering diingatkan oleh beberapa ustad dan para mubalig ketika sedang berkhutbah, agar kita senantiasa bersyukur di dalam berbagai macam kesempatan. Itu semua sesungguhnya bukanlah sebuah hiasan ceramah atau khutbah semata. Tapi memang kewajiban bersyukur itu harus selalu melekat di dalam ingatan dan sanubari untuk senantiasa kita lakukan setiap saat. Kenapa? Karena kalau seseorang itu telah keluar dari orbit syukurnya, maka nanti yang muncul adalah rasa kufurnya. Dan itulah yang sering diingatkan kepada diri kita semua agar senantiasa bersyukur, supaya kita tidak termasuk hamba-hamba Allah yang ingkar kepada-Nya.

Karenanya syukur ini minimal menanamkan tiga perasaan penting di dalam diri kita di hadapan Allah Swt.

Pertama, orang bersyukur itu adalah yang senantiasa merasa dirinya lemah di hadapan Allah Swt. Karena itu dia berusaha setiap waktu dan setiap saat untuk memohon kekuatan dari-Nya. Itu sebabnya di antara zikir yang banyak diucapkan Rasulullah saw., ketika masih hidup adalah "La khaula wala quwwata illa billahi 'aliyyil 'adhim" (Tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan dari Allah Swt).

Kedua, orang bersyukur itu adalah yang senantiasa menanamkan perasaan miskin dan fakir di hadapan Allah Swt. Sehingga dia selalu butuh atas rezeki-rezeki dari-Nya. Dengan perasaan fakir dan miskin inilah seseorang akan bisa terhindar dari sifat sombong karena harta kekayaan yang dimilikinya.

Ketiga, orang bersyukur itu adalah senantiasa menanamkan perasaan lemah dan bodoh di hadapan Allah Swt. Karenanya dia senantiasa berdoa untuk memohon ilmu-ilmu-Nya.

Ketiga perasaan syukur ini mari kita tanamkan pada diri kita masing-masing, sehingga dengan begitu ungkapan untuk mengungkapkan rasa syukur itu tidak sekadar hiasan dan pelengkap ceramah serta khutbah semata, tapi inilah yang senantiasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Nur Hasan

0 Komentar 3 Macam Perasaan Syukur

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top