Sarjana Melek Bahasa

Ingat Hurlock dan Santrok? Keduanya pakar psikologi perkembangan. Hebatnya, keduanya melek bahasa. Baca bukunya dengan teliti, jangan terburu-buru. Mereka tahu apa itu fonem, morfem, frase, klausa, diskursus, glotal, dsb. Sekali lagi, Hurlock dan Santrok ahli psikologi, bukan lulusan bahasa.

Begitulah ciri hampir semua sarjana level dunia, paham linguistik. Tidak hanya Hurlock dan Santrok, tetapi juga Chomsky, dll. Dalam istilah KBBI, orang yang melek bahasa disebut ‘literat’. Namun saat ini lebih populer dengan istilah ‘literasi’, yang merujuk pada melek huruf atau melek bahasa.


Bagaimana dengan kita? Rata-rata yang melek bahasa adalah sarjana bahasa, bukan non-bahasa. Misalnya, tidak semua sarjana paham makna denotatif dan makna konotatif. Silakan amati debat di media sosial seputar Ahok, umumnya terjadi konflik hanya karena miskinnya ilmu "meaning" alias pemaknaan. Mereka sarjana, bahkan pascasarjana; tetapi lemah basic linguistik.

Contoh kesalahan pemaknaan kata-kata: kasus, isu, konsekuen, anda, kafir, dan klasikal. Kasus artinya sesuatu yang dibahas, tetapi disalahpahami 'orang bermasalah'. Isu artinya berita, tetapi disalahpahami 'berita bohong'. Konsekuen artinya hasil, tetapi disamakan 'konsisten'. 'Anda' artinya pronomina level tertinggi untuk orang kedua tunggal, tetapi orang tersinggung ketika disebut Anda. Kafir artinya bukan Muslim, tetapi dikonotasikan negatif. Klasikal dari kata 'klasik' bukan 'kelas', tetapi disalahmaknai 'di ruang kelas'. Dan, masih banyak lagi.

Satu contoh lagi, MC berkata, "Waktu dan tempat disilakan". Coba perhatikan struktur kalimat itu, siapa yang disilakan? Yang disilakan 'waktu dan tempat', bukan orangnya. Seharusnya, "Bapak Ketua RT disilakan".

Seharusnya setiap sarjana memiliki kemampuan basic bahasa, sehingga mereka menjadi "pencerah" saat terjadi kesalahpahaman. Bukan menjadi "penambah masalah". Dan, idealnya, grup sarjana di media sosial tidak mengalami "perang" hanya gara-gara salah pemahaman.

Penulis : Anonim

0 Komentar Sarjana Melek Bahasa

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top