Reward and Punishment, Metode Kuno Mendisiplinkan Anak

Wikipendidikan - Dahulu, ketika masih di sekolah dasar dan menengah bukan tak asing lagi melihat teman kita atau bahkan kita sendiri dihukum oleh guru jika datang terlambat. Hukuman yang sama pun sering kali terjadi disaat ada yang lupa mengerjakan PR, membuat gaduh di kelas, atau ketahuan mengunyah permen karet di dalam kelas. Bahkan hukuman yang lebih kejam seperti menguras toilet, menyapu halaman sekolah yang seluas setengah lapangan bola atau scott jump di depan teman-teman kelas juga merupakan hukuman yang lazim ditemui.

metode reward and punishmen

Namun yang menyenangkan adalah saat guru memberikan penghargaan terhadap kebaikan-kebaikan yang kita perbuat. Seperti memberikan bingkisan kecil sebagai hadiah menjawab kuis dengan benar, atau pun hanya dengan kata-kata pujian yang terkadang bisa menjadi lecutan semangat yang luar biasa. Membayangkan betapa menyenangkannya mendapatkan penghargaan, tidak sebanding dengan resiko yang harus ditanggung disaat mendapatkan hukuman.

Hal-hal tersebut merupakan ‘makanan’ sehari-hari ketika masa sekolah dahulu, atau mungkin bahkan sebagian dari kita bisa menemukan di dalam dunia perkuliahan. Dalam hal ini, ahli psikologi mengartikan reward and punishment untuk segala sesuatu yang dimiliki orang tua yang dapat memenuhi kebutuhan anak dengan reward serta membuat perasaan anak sakit ataupun tidak senang dengan tidak memenuhi kebutuhan anak atau punishment.

Sistem penghargaan dan hukuman dikenal dengan istilah reward and punishment. Reward adalah sesuatu yang diberikan dalam penerimaan yang baik, sebaliknya punishment adalah gambaran dari tindakan menghukum terhadap suatu kesalahan. Suatu metode pendidikan klasik yang digunakan banyak pengajar utuk mendisiplinkan muridnya.

Menurut Anies Baswedan, pendidikan menggunakan reward and punishment ini sudah kuno dan ketinggalan jaman. Ia mengatakan bahwasanya reward and punishment tidak relevan lagi untuk diterapkan di masa kini. “Reward and punishment itu kuno, kalau bicara pendidikan yang harus dibangun adalah positif disiplin.”

Anies mengartikan makna disiplin di sini adalah mengupayakan suatu kondisi di mana seseorang yang gagal terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Ia menganggap bahwa selama ini punishment yang biasanya berlaku di sekolah-sekolah tidak mempunyai hubungan dengan kesalahan yang diperbuat oleh murid. Hukuman-hukman yang diberlakukan pun tak menjamin sang murid tidak melakukan hal yang sama di kemudian hari.

Anies mengajak para guru dan orang tua sebagai pendidik utama di rumah untuk melihat anak sebagai sebuah benih yang sudah mengandung potensi, bukannya melihat anak sebagai kertas putih. Seperti kata Ki Hajar Dewantara yaitu, “Anak-anak kita sebagai biji. Tugas kita menumbuhkan biji tersebut. Akar, batang, daunnya mungkin tak terlihat, namun jika diberi kesepatan untuk tumbuh, akan menjadi tanaman yang indah.”

Perlu adanya pemahaman pendidik mengenai hal ini. Budaya menghukum yang lebih kental dari pada memberi penghargaan membuat anak menjadi tertekan. Apalagi jika hal tersebut diberlakukan terhadap anak dengan motivasi rendah. Melihat potensi yang dimiliki anak, dirasa lebih baik menghargai apa yang dilakukan oleh anak, tanpa memandang itu benar ataupun salah.

Disadur dari edukasi.kompas.com edisi 12 Desember 2015

0 Komentar Reward and Punishment, Metode Kuno Mendisiplinkan Anak

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top