Peradaban Islam Adalah Peradaban Fiqh

Puasa kali ini aku mengkaji 2 kitab (melanjutkan kajian puasa tahun lalu), yaitu kitab Tasawuf Bidaayatul Hidayah karya al-Ghazali dan kitab Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuhu karya al-Jurjawi. Kedua kitab tersebut aku pilih dengan beberapa asumsi. Diantaranya, guna memperluas cakrawala pengetahuan jamaah yang selama ini cenderung fiqh oriented. Bagaimana hasilnya? Ternyata memang susah menggeser wacana fiqh dari benak umat yang seolah sudah mendarah-daging. Buktinya pertanyaan yang diajukan oleh jamaah selalu beraroma fiqhiyyah, meskipun kitab yang dikaji adalah kitab tasawuf dan Filsafat Hukum Islam. Nalar umat terlalu kuat didominasi oleh nalar bayani utamanya nalar fiqh.


Memang, tidak ada doktrin Islam yang mendapat perhatian serius dari dulu hingga saat ini selain hukum Islam (fiqh). Sampai-sampai seorang pemikir Muslim dari Maroko, Muhammad Abîd al-Jâbirî, berkomentar, "jika kita boleh menamakan peradaban Islam dengan salah satu produknya, maka, kita harus mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban fiqh (idzâ jâza lanâ an nusammî al-hadhârah al-Islâmiyah bi ihdâ muntajâtihâ fa innahu sayakûnu 'alainâ an nakûla 'anhâ innahâ hadhârah al-fiqh)."

Senada dengan al-Jâbirî, Charles J. Adams juga menyatakan, bahwa "tidak ada subyek yang lebih penting bagi umat Islam selain dari apa yang biasa disebut "hukum Islam". Hal ini karena hukum Islam merupakan salah satu ruang ekspresi pengalaman agama yang amat penting dalam kehidupan orang Muslim.

Para orientalis bahkan mengamini tentang letak strategis dan signifikansi hukum Islam (fiqh) dalam setiap wacana pergumulan sosial, budaya maupun politik. Sejarah mencatatat bahwa kecemerlangan pemikiran hukum Islam telah ikut serta mempengaruhi pasang surut peradaban Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, sekali lagi, jika boleh disebut dengan salah satu produknya, maka peradaban Islam sesungguhnya lebih identik dengan “peradaban hukum” sebagaimana ungkapan al-Jâbirî tersebut di atas.
Baca juga Ushul Fiqh: Pengertian, Objek Kajian, Fungsi, dan Tujuan Mempelajarinya
Persis seperti Yunani yang dikenal sebagai peradaban filsafat dan Barat dengan ipteknya. Pengakuan ini bukan sekadar isapan jempol belaka, karena berdasar pada kuantitas dan kualitas perhatian umat Islam terhadap fiqh. Dari segi kuantitas, karya fiqh telah mendominasi kekayaan khazanah intelektual Islam. Sedangkan dari segi kualitas, fiqh mampu menaklukkan umat Islam di hadapan otoritasnya. Tidak ada satupun gerak-gerik umat Islam bisa lepas dari jeratan hukum fiqh. Memahami peradaban Islam tidak bisa dilepaskan dari spirit pemikiran yang tertuang dalam peradaban hukum Islam (fiqh).

Diulas oleh Kyai Ahmad Syafi'i, dosen IAIN dan INSURI Ponorogo, ketua FKDT kab. Ponorogo sekaligus ketua MWC NU kec. Pulung kab. Ponorogo.
Ilustrasi: nu.or.id
Wikipendidikan
Back To Top