Peluang dan Tantangan dalam Mendidik Anak Generasi Millenial

Seiring kemajuan peradaban kita, tugas mengasuh anak juga semakin rumit, di samping menuntut para orang tua untuk bersikap lebih afirmatif, tapi juga pemikiran introspektif, yang dalam beberapa kasus memerlukan perubahan sikap dan pandangan orang tua sendiri.

Pada tahun 1970an dan 1980an, orang tua pada saat itu mengajari anak-anak mereka untuk belajar giat di sekolah sehingga mereka bisa menjadi "dokter, insinyur, atau pilot"; Setidaknya hanya tiga profesi itulah yang nampaknya mendefinisikan pekerjaan terbaik di mata masyarakat kala itu. Jam belajar ditetapkan pada hari minggu, dengan hari tertentu disediakan untuk kegiatan keagamaan yang harus dihadiri anak-anak.

apa itu generasi millenial, ciri generasi millenial, fakta generasi millenial di indonesia

Sebagian besar waktu, terutama di tahun-tahun awal anak, kebanyakan orang tua mengeluarkan instruksi lisan yang mengandung kata "jangan": "jangan bermain di tempat yang basah,"; "Jangan tidur terlalu larut malam"; "Jangan nonton TV"; "Jangan main dengan barang itu", dan banyak larangan lainnya. Anak-anak biasanya mengindahkan petunjuk ini dengan patuh dengan sedikit bertanya. Baca juga 7 Kebiasaan Sederhana yang Bermanfaat bagi Pendidikan Anak di Lingkungan Keluarga

Tapi kemudian generasi tahun 1990an dan seterusnya lahir. Dan sejak saat itu, apa yang dulu merupakan peraturan yang relatif menetap dan jelas tidak pernah sama lagi keadaannya. Anak-anak yang lahir antara tahun 1990 dan 2003, yang dikenal sebagai generasi millenial, tampaknya memiliki ciri khas yang berbeda yang tertanam dalam DNA mereka. Salah satunya adalah kedekatan mereka dengan dunia digital.

Mereka, anak-anak generasi millenial ini tampak memiliki kemampuan menarik untuk menavigasi dengan dunia maya yang luas menggunakan gadget mereka jauh lebih baik dari orang tua mereka. Seiring dengan kondisi ini, mereka juga telah mengembangkan sikap yang lebih independen dan kritis terhadap peraturan dan pandangan yang dianut oleh generasi sebelumnya, termasuk orang tua mereka sendiri.

Seringkali orang tua dihadapkan dengan sikap kritis dan argumentatif dari anak-anak generasi millenial ini. Orang tua dari era sebelumnya mungkin akan berkata, "Jangan pernah bicara seperti itu lagi sama orang tuamu! Jangan membantah. Kami tahu apa yang terbaik buat kamu! " Kata-kata seperti itu terkadang cukup untuk menghentikan protes dari anak-anak. Tetapi di era sekarang ini, di mana pemikiran kritis didorong dan bahkan diajarkan di beberapa tingkat pendidikan, perilaku mengasuh semacam itu mungkin tampak bertentangan dengan kecenderungan pendidikan saat ini.

Kalau dipikir-pikir, beberapa sikap kritis generasi millenial sebenarnya harus diambil sisi positifnya, sebagai peluang bagi generasi yang lebih tua untuk terlibat dalam pemikiran introspektif. Sudahkah mereka melakukan sendiri apa yang selalu mereka katakan kepada anak mereka? Apakah mereka menghindari hal-hal yang ingin anak-anak mereka hindari? Bagaimana orang tua melarang anak laki-laki atau perempuan mereka dari merokok jika mereka sendiri merokok? Bagaimana bisa mereka menyuruh anak-anak mereka untuk meletakkan gadget mereka saat orang tua sendiri tidak pernah lepas dari gadgetnya dan cenderung menutup diri dari dunia sosial?

Orang tua hari ini harus bergelut dengan masalah profesi alternatif selain dokter, insinyur, atau. Perkembangan game online di satu sisi menciptakan generasi yang menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di depan laptop untuk terlibat dalam permainan seru. Apa yang biasa dilakukan orang tua konvensional adalah memarahi anak mereka dan membatasi akses mereka ke internet. Sebaliknya, orang tua yang lebih cerdas akan menganggap ini sebagai kesempatan untuk memperluas perspektif anak muda tentang kemungkinan karir di era di mana realitas maya menembus setiap aspek kehidupan.

Orang tua yang cerdas melihat anaknya bermain game tidak langsung melarang dan memarahinya, namun melihat peluang apa yang bermanfaat bagi masa depan anak dari hobinya tersebut. Misalnya, orang tua bisa memotivasi anak untuk tidak sekedar bisa main game, tapi juga mempelajari cara pembuatan game dengan bahasa pemrograman komputer. Ada banyak kesempatan di masa depan bagi mereka yang memiliki keahlian dalam dunia pemrograman.

Untuk menjadi orang tua yang cerdas, para orang tua harus mempersenjatai diri mereka dengan pengetahuan terkini tentang jenis pekerjaan apa yang tersedia di luar sana, yang sebagian besar tidak pernah terpikirkan di masa muda mereka sendiri. Analis big data, ahli statistik, pengembang web, programmer, dan insinyur biomedis termasuk di antara pekerjaan paling prospektif di abad ke-21.

Isu lain yang memicu perdebatan tanpa henti di antara para guru dan generasi millenial masa kini menyangkut mode. Beberapa institusi pendidikan formal melarang anak didiknya berambut panjang, bertindik, rambut disemir dan berpakaian seksi di sekitar sekolah. Ini adalah peraturan di mana generasi millenial pada umumnya bereaksi dengan keras, dengan alasan bahwa kinerja/prestasi tidak berkorelasi dengan penampilan. Lebih buruk lagi, para pendidik sendiri hampir tidak dapat memberikan pendapat yang seragam tentang kebijakan tersebut dan merasa sulit untuk melawan argumen anak-anak generasi millenial tersebut.

Kerja keras, kesabaran, ketekunan dan relasi dengan orang lain adalah hal-hal yang membawa kemuliaan dan kesuksesan orang-orang hebat dari era pra-kemerdekaan hingga saat ini, ketika Elon Musk dan orang-orang jenius lainnya menentukan apa yang diperlukan untuk menjadi sukses dan berpengaruh.

Artikel terkait: Cara Menanamkan Sikap Empati pada Anak

Ketika sampai pada masalah mendidik anak, kita perlu meluangkan waktu bersama anak-anak remaja kita untuk menanamkan nilai-nilai mulia dari kerja keras, menghargai kegagalan, dan belajar darinya, berhubungan dengan orang lain secara interpersonal dan bukan secara digital, menemukan passion mereka dan menyadari kelemahan mereka, dan percaya pada nasehat bijak yang mengatakan bahwa "ada waktu untuk segalanya."

Era Millennial dan realitas maya merupakan dua kekuatan terpadu yang mendefinisikan dunia modern. Apa yang tersisa bagi orang tua adalah sikap bijaksana, memperluas perspektif dan fleksibilitas untuk berpikiran terbuka agar sesuai dengan generasi ini dan membimbing mereka untuk menuai kesuksesan dan kebahagiaan mereka.

***

Diolah dari tulisan Patrisius Istiarto Djiwandono, dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Ma Chung Malang, Jawa Timur di thejakartapost.com

0 Komentar Peluang dan Tantangan dalam Mendidik Anak Generasi Millenial

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top