Selasa, 02 Mei 2017

Bedanya Nasib Guru Honorer Rezim SBY dan Sekarang

Berapa gaji guru honorer? Teman-teman kuliah S1 saya, contohnya, honor mentok di 300 ribu, untuk mencerdaskan anak bangsa. Banyak yang lebih parah, hanya 75 ribu padahal masa kerja sudah 10-20 tahun. Tunjangan pun hanya 250 ribu bulan, dan dengan persyaratan yang jelimet.

"Zaman SBY, adalah zaman keemasan guru honorer”. Kata mereka.. "

Guru honorer berhak mengikuti sertifikasi dan ada tambahan tunjangan 1,5 juta/bulan. Tak jadi PNS pun tak apa...

Kerja baik tidak melulu diukur dengan uang, tapi yang membuat bahagia adalah 'merasa dihargai' oleh pemerintah.

Pak SBY mengambil kebijakan bahwa guru yang walaupun masih berijazah SMA tetapi sudah mengabdi selama minimal 20 tahun, berhak ikut sertifikasi. Guru-guru senior yang sudah berusia 40 tahun ke atas pun lega.

Pemerintahan sekarang, banyak mimpi yang dititipkan dan tetap mimpi. Harga-harga makin naik dan ekonomi lesu. Guru kena imbas terutama guru Kemenag. Gaji 400 ribu sudah sejak Januari 2015 belum dibayarkan. Sertifikasi selama 6 bulan pun belum diterima. Kini, beredar kabar bahwa sertfikasi dihapuskan. Alasannya? penghematan.

Guru yang mempertanyakan kebijakan ini dicap manja, pengen selalu disubsidi, mental tempe, dan mental miskin. Hidup dengan gaji 300 ribu/bulan dipaksa mencerdaskan anak didik. Lha bagaimana guru honorer mencerdaskan anaknya sendiri? Bagaimana guru honorer menafkahi keluarganya dengan makanan bergizi?

***

Statemen di atas adalah kutipan dari salah seorang guru di Grup Facebook Forum Guru Republik Indonesia. Sekilas, ungkapan di atas merupakan gambaran nasib guru honorer di Indonesia yang katanya tanah surga ini.

Akun bernama Ramli Fadly berkomentar : "Banyak ngaku guru karena dia mengajar, padahal latar pendidikannya bukan keguruan karena keadaan terpaksa mengambil akta mengajar, lulusan unhas ( universitas hari sabtu). Saya yakin kalau latarbelakang pendidikannya keguruan dan berasal dari perguruan yang bagus pasti tidak berkeluh kesah karena udah tau dan siap jadi umar bakri."

Komentar menarik lainnya datang dari Wawan Dh, dia menulis:

"Kalau guru digaji berapa saja menerima dan tidak boleh protes, di nina bobokkan dengan kalimat-kalimat guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa/lainnya, tentu yang mengatur kebijakan kesejahteraan guru harusnya lebih ikhlas berapapun gaji/honornya. Harusnya mereka malu menerima gajinya kalau bawahan yang menjadi kewenangannya masih jauh dikatakan layak untuk sekedar UMR seperti buruh lulusan SMP/SMA. Tingkatkan kepandaian guru. Jangan hanya ngajar, tetapi tambah kepandaian ketrampilan buat cari sampingan. Meskipun kita terbagi kefokusannya tapi itu yang terbaik saat ini. Guru hebat adalah guru yg bisa membuat muridnya hebat dan bisa mencoba menolong dirinya sendiri dan org lain.

Sedangkan Tri Mas Bms menulis :

"Kalau menurut saya, cobalah guru itu punya gengsi, punya daya tawar yang superior, bahwa profesinya itu dibutuhkan orang. Jangan asal terima saja, seolah profesi murahan, atau hanya sekedar cari sebutan. Kalau memang sekolah butuh, lakukan MOU layaknya karyawan yang lain. Cocok untuk hidup, jalani, gak cocok jangan. Nanti sekolahan gak ada guru? Pandai yah pemerintah."

"Yang paling miris.. Saat seorang guru honor tidak mampu membiayai pendidikan anak kandungnya sendiri", ungkap Diana Sriwijayanti.

Demikianlah jeritan-jeritan para guru honorer yang permasalahan kesejahteraannya sampai saat ini masih problematik. Anda guru honorer? Sampaikan uneg-uneg anda di kolom komentar.

0 Komentar Bedanya Nasib Guru Honorer Rezim SBY dan Sekarang

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top