Mencari Tujuan Hidup yang Hilang

Suasana lalu lalang di jalan raya, semua terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Mengejar mimpi-mimpi, menggapai cita-cita yang belum tercapai, begini lah potret kehidupan orang-orang kota. Sementara di sebuah tenda lesehan, tampak asyik beberapa pemuda dengan lamunannya masing-masing.


Tuhan... rasanya aku tak sanggup lagi merangkaki dunia. Aku lelah, aku muak, banyak kepalsuan & tak ada keabadian sejati.

Semua orang hanya mementingkan materi. Dan aku lari sebagai siapa? Di setiap tempat ada wajah berbeda-beda, di setiap tempat tak kutemukan apa-apa.

Potret-potret yang kelam berhamburan mencari masa lalu, dan aku berlari meninggalkan rumput duka, tapi masih saja tak kutemukan jawaban.

Semua bias, semua hambar, semua berpuing-puing di puncak keputus-asaan. Kepada siapa kurebahkan air mata?

Tampak seorang sahabat datang menghampiriku "Ada apa bray? terlihat dari tatapan matamu engkau memikul beban yang begitu berat?" katanya sambil menyalamiku.

Sambil tersenyum, akupun menjawab "apa itu terlalu penting untuk engkau ketahui wahai sahabatku?"

"Tentu itu sangatlah penting, bukankah kita bersahabat? yang memiliki respect & trust yang terjalin begitu lama?

"Aku sering tidak mengerti tentang perjalanan hidup ini, yang kutau aku adalah pengembara, dengan 1000 kisah perjalanan yang menyedihkan. Di setiap jalan aku mengalami babak belur, jatuh & bangun dari satu titik ke titik yang lain. Aku bagai tak punya tujuan hidup, mengejar ambisi, mengumpulkan pundi, sedangkan hidup hanya sesaat di muka bumi?

Sambil tersenyum sahabatku menepuk pundakku & menjawab, "Bagi sebagian orang, hidup adalah perjuangan, maka hari-hari orang tersebut akan selalu diisi dengan bekerja dan berjuang untuk mencapai kehidupan yang lebih mapan. Ada lagi orang yang menganggap hidup adalah tantangan, maka orang tersebut akan menjalani hidup dengan memecahkan segala tantangan yang menghadang. Bahkan ada sebagian orang yang sudah mendapatkan pencerahan, mereka menyikapi hidup adalah sebuah perjalanan, maka mereka akan berjalan saja mengikuti alurnya kehidupan.

"Jadi, cara kita menjalani kehidupan akan melahirkan tindakan yang akan menghasilkan nasib & pola pikir yang juga berbeda-beda pada setiap personalnya".

Coba engkau pelajari kitab suci Al-qur'an Al-hadid (57) 20:
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah permainan & suatu yang melalaikan. Seperti tetes hujan yang membasahi tanaman, begitu mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kuning & kering, lalu menjadi hancur. Dan kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
Sudah diterangkan dengan seterang-terangnya di dalam Al-Qur'an maupun kitab-kitab suci umat beragama lainnya. Tinggal bagaimana kita saja untuk menyikapinya.

Hidup itu tergantung sikap dan cara berfikirnya. Nikmat Tuhan tiada henti yang harus kita syukuri, bukannya malah sebaliknya menyiksa diri dengan apa yang dimiliki orang lain. Panca indra, udara, semesta alam beserta isinya itu semua melebihi materi.

Bayangkan kita punya pulau dan rumah megah, mobil mewah dan bahkan jet pribadi, tetapi telinga kita tuli atau mata kita tidak bisa melihat megahnya dunia ini, percuma kan? tak ada guna itu semua.

Hidup ini hanya sekali, jadi pandai-pandailah mengatur diri. Sebab hidup bukanlah mimpi, apalagi hanya untuk meratapi diri. Tetapi hidup adalah perjuangan, para pemenang memang telah mempersiapkan segala kemungkinan karena tidak ada yang abadi kecuali perubahan, dan salah satu contoh yang tak dapat didaur ulang ialah waktu yang telah terbuang.

Janganlah terlalu suka memandang bintang di angkasa, karena nanti engkau lupa cara berpijak di dunia. Dan janganlah terlalu berharap apa yang dapat Tuhan berikan kepada kita, tetapi berjuanglah, berikan yang terbaik untuk hidup ini. Niscaya Tuhan akan mengabulkan kebutuhanmu bahkan mungkin keinginan-keinginanmu. Berfikir & berusahalah terus ke depan, karena mengeluh dan membandingkan diri sendiri adalah cara-cara orang yang merugi.

Kicau burung, sejuknya embun pagi dan sinar lembut surya adalah rutinitas alam saat membuka jendela pagi. Bau tanah basah sisa hujan semalam dan semilir angin belum terkontaminasi asap kendaraan; begitu nyaman terhisap.

Setidaknya masih ada kata syukur di hatiku, masih dapat menyaksikan datangnya pagi kesekian dalam hidupku. Melupakan sejenak penat raga dan jiwa yang terjebak reruntuhan asa. Kutatap langit yang lepas subuh.

Sekelumit tanya kugoreskan pada meganya. Kapan 'kan usai cerita ini? Masihkah mampu aku bertahan? Lalu sebutir bening jatuh di sudut bibir. Memberi fakta bahwa realita hidup yang penuh duri ini tetap harus kulalui. Sampai nanti, sampai mataku menutup abadi. Pagi merebak Kicau burung menggema Jiwaku lara.

*Diolah dari kiriman Sayadi As dan Zee Yung di Grup FB “Sanggar Penulis Indonesia”

0 Komentar Mencari Tujuan Hidup yang Hilang

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top