Senin, 08 Mei 2017

Menalar Islam; Mengungkap Argumen Epistemologis Abdul Karim Soroush dalam Memahami Islam

Membaca karya Aksin, penulis produktif dari IAIN Ponorogo ini, mengingatkan saya pada proyek al-Jabiri “Kritik Nalar Arab”. Nalar yang dimaksud al-Jabiri bukanlah pemikiran sebagai produk, tetapi perangkat yang menghasilkan produk pemikiran, yakni bersifat metodologis. Nalar selanjutnya merupakan produk-produk teoritis yang dibentuk oleh kebudayaan-kebudayaan tertentu sebagai kerangka referensialnya.

Berbeda dengan al-Jabiri yang menganalisis struktur nalar Arab yang berunsurkan epistem bayani, ‘irfani, dan burhani dengan menunjukkan kelebihan dan kelemahan masing-masing kemudian membangun relasi antar epistem, Abdul Karim Soroush banyak melakukan kritik terhadap nalar epistemologis tentang agama dan pengetahuan keagamaan. Menurut Soroush sebagaimana diungkap Aksin, agama bersifat sakral, absolut, universal, dan tidak ada kontradiksi di dalamnya. Sementara pemahaman dan pengetahuan keagamaan bersifat profan, relatif, lokal dan penuh dengan kontradiksi. Inilah antinomi yang bersifat paradoks antara agama dan pengetahuan keagamaan atau antara syariah dan fiqh dalam diskursus hukum Islam. Lebih lanjut, Soroush menegaskan bahwa interpretasi (pengetahuan keagamaan) tidak pernah bertentangan dengan teks (baca: agama). Pertentangan, kontradiksi atau al-ikhtilaf terjadi dalam ranah pengetahuan keagamaan. Ia bersifat niscaya sebagai watak dari pengetahuan.


Yang ingin ditekankan oleh Soroush adalah dimensi kesejarahan atau historisitas pengetahuan keagamaan. Pengetahuan keagamaan yang merupakan tafsir manusiawi terhadap agama tidak mengenal kata henti dan final. Sebaliknya tafsir dan interpretasi terhadap agama selalu on going process mengikuti dinamika kesejarahan manusia. Tafsir terhadap agama juga bersifat plural.

Pluralitas tafsir merupakan implikasi logis dari prinsip korespondensi-koherensi, interpenetrasi dan prinsip evolusi dari pengetahuan keagamaan. Maknanya bahwa pengetahuan keagamaan tidak terlepas dari pra asumsi dan setting sosial-budaya yang mengitari seorang mufassir. Ini tidak berarti Soroush menganut relativisme keberagamaan. Sebagaimana dipaparkan oleh Aksin, Soroush berkomitmen untuk membedakan antara yang esensi dan yang aksidensi dalam agama dan keberagamaan.

Karena itulah Soroush sampai pada temuan teoritik tentang the expansion and contraction of religious knowledge (teori pengembangan dan penyusutan). Berdasar teori ini, historisitas dan pluralitas pengetahuan keagamaan adalah keniscayaan sejarah. Tidak ada interpretasi keagamaan yang bersifat tunggal dan resmi. Tidak etis pula memaksakan seseorang untuk mengikuti tafsir dan interpretasi tertentu. Bagi Soroush tidak ada kamus heretik atau nonheretik, heterodoksi dan ortodoksi dalam pengetahuan keagamaan. Konsep yang bersifat hitam putih tersebut sering kali terjadi karena pengaruh kekuasaan, yakni “perselingkuhan” antara penafsir dengan kekuasaan politik atau ideologi tertentu. Perselingkuhan inilah yang membawa pada otoritarianisme dan absolutisme pemikiran keagamaan. Inilah yang oleh Abou El Fadl disebut dengan Speaking in God’s name.

Tulisan Aksin tentang pemikiran Soroush menurut saya mempunyai makna teoritis, yakni cara dan metode bagaimana “memahami” Islam. Pemahaman yang dimaksud adalah bukan semata pemahaman yang meneguhkan sakralitas agama, akan tetapi pemahaman yang menggali signifikansi agama bagi manusia dalam konteks kekinian. Antroposentrisme pemahaman keagamaan ini mengerucut pada teori hermeneutika sebagaimana dipaparkan Aksin pada bagian akhir buku. Hermeneutika sebagai sebuah pendekatan tidak bermakna menafikan tradisi tafsir yang selama ini berkembang. Pemakaian pendekatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat sebagaimana agama sesungguhnya terbuka terhadap berbagai pendekatan untuk meneguhkan fungsi agama bagi kehidupan.

Menurut Aksin, Hermeneutika yang dianut oleh Soroush adalah hermeneutika filosofis. Pembacaan terhadap teks menurut teori hermeneutika ini tidak terlepas dari pra asumsi dan situasi hermeneutik pembaca teks. Karena itu pembacaan terhadap teks dan agama tidak sekedar aktivitas mereproduksi makna sesuai konteks masa lalu, akan tetapi sebuah ikhtiar untuk untuk memahami teks dalam horizon kekinian. Dengan model pembacaan seperti ini diharapkan muncul horizon baru selaras dengan kepentingan pembaca. Inilah yang dimaksud dengan fusi atau peleburan horizon pembaca dan teks.

Hermeneutika sebagai teori dan pendekatan menurut penulis paling tidak mempunyai dua signifikansi. Pertama, hermeneutika melampaui literalisme dalam pemahaman keagamaan. Hermeneutika filosofis hendak memproyeksikan horizon baru dalam pembacaan teks keagamaan sesuai dengan kemaslahatan kontemporer. Hal ini tidak bisa dilakukan hanya dengan pembacaan yang bersifat harfiyah dan reproduktif terhadap makna masa lalu. Kedua, hermeneutika hendak melawan dominasi dan monopoli makna. Dengan prinsip peleburan cakrawala horizon, unsur-unsur lingkar hermeneutika (pengarang, teks, dan pembaca) sesungguhnya telah melakukan negosiasi makna teks.

Baca juga: Studi Pemikiran Islam Muhammad Arkoun

Dalam konteks di atas pula terlihat relasi antara subtansi pemikiran Soroush dengan situasi hermeneutik dan horizon yang mengitari Soroush. Pemikirannya tidak berada dalam dimensi meta sejarah, akan tetapi dikontruksi oleh pengalaman intelektual dan pengalaman sosio-budaya dan politik yang berkembang di Iran, utamanya pasca revolusi Islam Iran. Pemikiran keagamaannya merupakan respon terhadap apa yang nilai sebagai despotisme keagamaan yang berkembang pada saat itu yang terlembagakan dalam wilayat al-faqih.

Terlepas dari situasi kultural yang spesifik di atas, tulisan Aksin tentang pemikiran Soroush mempunyai makna penting bagi dinamika pemikiran keindonesiaan. Makna tersebut mengerucut pada penguatan nilai-nilai demokrasi dan perlawanan terhadap wacana dan praktik ideologisasi agama. Demokrasi dinilai banyak pihak merupakan sistem politik yang elegan vis a vis sistem politik yang bersifat totaliter yang memakai baju agama. Sementara ideologisasi agama yang dilakukan kelompok tertentu sesungguhnya tidak bermula dari iman dan agama, akan tetapi kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat parsial dan partisan dengan memanfaatkan jargon-jargon agama.

Terlepas dari kekurangan yang mungkin ada, karya ini menantang untuk dibaca, sebagaimana semangat buku ini, yakni kritik nalar. Kritik nalar adalah berpikir tentang “nalar” yang tentu mempunyai tingkat rasionalitas yang lebih tinggi daripada sekedar berpikir dengan akal. Saya sendiri merasa berbangga untuk ikut membaca draft awal buku dan memberikan sekelumit kata pengantar.
Akhirnya, interpretasi terhadap karya Aksin ini kembali kepada pembaca sesuai dengan horizon, titik pijak, dan perspektif masing-masing. Selamat membaca!

Royal Bukit Asri, 28 Desember 2016

Dr. Abid Rohmanu

0 Komentar Menalar Islam; Mengungkap Argumen Epistemologis Abdul Karim Soroush dalam Memahami Islam

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top