Media Sosial dan Lahirnya Sikap Anti Sosial

Wikipendidikan.com - Kecanduan kita terhadap gadget telah melahirkan "zombie" baru. Kita telah menjadi budak gadget dan karenanya tidak menyadari atau tidak peka terhadap lingkungan sosial kita sendiri.

Di Australia misalnya, hampir semua penumpang kereta asyik dengan gadget mereka sendiri: mengirim SMS, mengutak-atik apa saja yang ada di ponsel mereka. Bahkan banyak yang seperti orang gila, di mana mereka tertawa sendiri saat asyik bermain-main dengan smartphone mereka.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan tahun 2007an silam. Di Canberra, kebanyakan orang lebih suka menghabiskan waktu mereka membaca saat di bus, daripada menggunakan ponsel mereka agar tetap sibuk.


Meskipun pertumbuhan smartphone yang tak terbendung merupakan cara yang paling populer untuk mengakses internet, kecanduan gadget telah melahirkan "zombie baru". Kita telah menjadi budak gadget kita dan karena itu tidak menyadari apa yang ada di sekeliling kita sendiri.

Mengupdate dan memeriksa akun media sosial telah menjadi hiburan favorit kita di zaman ini. Akibat dari kecanduan gadget, media sosial telah melahirkankan pola pikir anti sosial yang sungguh ironis.

Keluarga sering terlihat sibuk mengotak-atik gadget mereka dan tidak saling berkomunikasi sambil menunggu makanan disajikan di rumah makan. Dan banyak pasangan yang hubungannya rusak akibat penggunaan media sosial yang terlalu berlebihan, mengubah smartphone menjadi mitra "lain" selain suami/istri. Dan, terkadang, banyak orang yang beralih ke gadget mereka untuk menghindari situasi sosial.

Sebenarnya, pengaruh media sosial yang melahirkan sikap anti-sosial sangat terkait erat dengan esensi teknologi.

Teknologi dibuat untuk tujuan membuat hidup kita lebih efisien. Sayangnya, media sosial sebagai komponen dari kemajuan teknologi cukup berperan besar dalam meningkatkan individualitas kita.

Apa yang kita inginkan dapat kita temukan secara online, semua pertanyaan yang mendesak dapat dijawab hanya dengan satu sentuhan jari. Kita senang mengobrol dengan teman online kita di tempat lain melalui Smartphone daripada berbicara dengan teman offline kita – msialnya teman duduk di sebelah kita - di bus atau kereta api.

Beberapa pengguna media sosial ekstrim membenarkan identitas mereka melalui pendirian kelompok sosial yang anti-sosial.

Kelompok semacam itu menarik perhatian orang-orang yang suka terhubung dengan orang-orang secara online sambil mengabaikan lingkungan sekitar mereka. Mereka menganggap bahwa anti-sosial bukanlah hal yang buruk, melainkan merupakan bagian dari kebebasan tertinggi. Mereka juga beranggapan bahwa menjadi anti-sosial adalah cara mereka menggagalkan apa yang dianggap sebagai hilangnya privasi sepenuhnya.

Kini, anak-anak muda terhubung dengan media sosial yang tidak dapat diakses orang tua mereka sebagai cara untuk melindungi privasi mereka. Mereka, misalnya, memilih untuk membuat akun Instagram dan bukan akun Facebook. Yang pertama dianggap memiliki privasi lebih dari yang terakhir, yang banyak diyakini telah menjadi begitu penting sehingga orang tua dan masyarakat dapat dengan mudah mengaksesnya.

Syukurlah, banyak yang masih memiliki rasa hormat yang besar terhadap kemanusiaan dan mereka percaya bahwa kedamaian berarti menjauhkan diri dari desakan media sosial khususnya dan internet pada umumnya. Banyak CEO dan spesialis IT, misalnya, berangkat ke daerah terpencil saat mereka camping atau mengadakan perkemahan dengan tanpa smartphone dan tanpa internet.

Mereka memiliki keyakinan akan keterlibatan manusia dan lingkungan yang nyata sebagai sumber ketenangan mereka. Gambar yang dihadirkan oleh media sosial bukanlah pengganti pemandangan keindahan alam yang nyata. Kita beradadalam bahaya overload secara visual. Kita telah melihat, tapi tidak merasa, sensasi pribadi dan rasa kepuasan tersendiri saat berdiri di atas gunung, misalnya.

Dalam upaya mereka untuk mencegah kecanduan media sosial dengan kecenderungan anti-sosial yang kuat, orang-orang yang muak dengan media sosial dan internet sekarang beralih ke game action.

Daphne Bavelier, seorang profesor di Universitas Jenewa dan ahli internasional tentang bagaimana manusia belajar, telah membandingkan kemampuan visual gamer dan non-gamer. Dia telah menemukan bahwa individu yang memainkan permainan video tindakan tampil lebih baik daripada mereka yang tidak pernah memainkannya.

Teorinya adalah bahwa kecepatan dalam game action mengharuskan para pemain untuk terus mengalihkan perhatian mereka dari satu bagian layar ke layar lainnya sembari tetap waspada terhadap kejadian lain di sekitarnya. Singkatnya, mereka pandai bermain game multitasking dengan baik dan tidak mengorbankan lingkungan sekitar mereka.

Tidak ada yang salah dengan media sosial. Situs media sosial seperti Facebook dan Instagram memberi sinyal bahwa persepsi publik beralih ke pandangan yang lebih personal. Namun, semangat besar media menjadi kontraproduktif dan berbahaya bagi konektivitas dan keterlibatan manusia dalam realitas sosial di dunia nyata. Pelajari juga Bagaimana Pandangan Hukum Islam tentang Facebook?

***

Diolah dari esai Donny Syofyan di thejakartapost.com, dosen di Universitas Andalas , mahasiswa doktoral di Deakin University, Australia.
Bagikan artikel via

facebook twitter gplus email

0 Response to Media Sosial dan Lahirnya Sikap Anti Sosial

Posting Komentar