Senin, 08 Mei 2017

Indonesia Miskin Apresiator dan Kritikus Sastra

Wikipendidikan - Di antara kegelisahan dalam dunia literasi Indonesia adalah minimnya kritikus dan apresiator sastra. Karya sastra seperti puisi yang dipublikasikan lewat media-media sosial bak sampah kata-kata yang tiada makna.

Jumlah karya, misal puisi, dalam setiap hari yang muncul di medsos tak mampu dihitung. Artinya produksi karya sastra luar biasa banyaknya dan ini pertanda kemajuan peminat dan pencinta karya sastra tidak perlu diragukan.

Sayangnya, karya sastra seperti puisi di medsos kurang mendapatkan perhatian dari penelaah/kritikus/apresiator. Di tengah sedikitnya apresiator atau kritikus itu ada yang memanfaatkan meminta bayaran.

Berasa ngenes melihat fakta ini. Yang senior-senior banyak yang asyik di menara gading sastra tak mau turun ke lembah-lembah medsos. Ada pula yang hanya mencibir. Ada pula yang rajin main blokir, dan lain-lain.

Mau dibagaimanakan dan dikemanakan kemajuan produksi karya sastra ini? Apakah dibiarkan mengalir begitu saja? Ataukah produksi karya sastra dianggap seperti orang kentut yang tak harus dihiraukan? Kadang berasa aneh dalam pikiran saya.

Kritik sastra sangat penting sebagai penghargaan bagi penulis. Untuk lebih membuka pikiran dan meningkatkan kualitas menulis. Baik yang berbasic sastra secara akademik maupun yang menulis karena hobi dan memulai secara otodidak. Saat karya diposting di sosmed, sejatinya karya tersebut sudah jadi milik publik. Bisa dikritisi, ditelanjangi, dikuliti, atau dipuji-puji. Yang penting berimbang dalam penilaian.

Banyak penyair atau sastrawan yang menganggap aktivitas sastra di dunia maya adalah aktivitas gak guna, hasilnya cuma sampah. Ada sastrawan yang menjuluki pegiat sastra maya sebagai penyair pulsa. Karena karyanya sering dilombakan utk hadiah pulsa.

Nah, itulah perlunya bedah karya dilakukan secara berkala/periodik. Para senior sastra memberikan arahan, apresiasi, atau kritisi. Dengan begitu, para pemula bisa belajar cara memberi apresiasi, memberi krisan, menyampaikan pendapat. Akan ada banyak ilmu yang didapat.

Pada akhirnya, pengetahuan sastra dan kepenulisan meningkat, kualitas karya juga menjadi lebih baik. Ujung-ujungnya jadi amal jariyah, karena ada ilmu yang bermanfaat yang ditebar dan diaplikasikan untuk banyak orang.

*Disarikan dari postingan diskusi Penyair Ilalang di grup RUMAH LITERASI (Wahana Diskusi Kepenulisan)

0 Komentar Indonesia Miskin Apresiator dan Kritikus Sastra

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top