Nikmari Layanan Kirim Buku Gratis via Pos Setiap Tanggal 17 dari Pak Jokowi

Kalau tepuk tangan harus diberikan kepada Presiden Jokowi pada bulan Mei, itu adalah karena kebijakannya kepada dunia perbukuan. Jokowi menggratiskan ongkos kirim buku ke seluruh pelosok negeri setiap tanggal 17, dan ini akan berlaku untuk setiap bulan sepanjang tahun. Tentu saja kita berdoa semoga tak ada presiden pembenci buku terpilih di republik ini agar kebijakan itu bisa langgeng selamanya.

Khusus untuk bulan ini, Anda bisa ke Kantor Pos terdekat pada 20 Mei besok, dan cobalah kirim buku ke siapa pun yang Anda pikir membutuhkan dan pantas menerimanya. Besok ongkos kirim gratis, dan setelahnya pergilah ke Kantor Pos setiap tanggal 17.


Meski kita sudah sukses memberantas buta huruf sejak abad lalu (Abad 20 belum lama kita tinggalkan), tingkat literasi bangsa kita masih memprihatinkan. Distribusi bacaan tidak merata. Buku-buku bagus hanya beredar di kota, sementara di pelosok buku adalah benda yang langka.

Saya angkat topi buat gerakan literasi yang muncul dari inisiatif anak-anak muda dengan membangun perpustakaan rakyat di tempat-tempat yang jauh, seperti yang dilakukan Bung Nirwan Ahmad Arsuka. Anak Makassar itu mengeruk semua tabungan pribadinya untuk membeli perahu dan menjadikannya sebagai perpustakaan.

"Perahu Pustaka" itu mengangkut buku-buku dari seluruh penjuru yang bisa dicapainya, mengarungi laut, dan singgah di pulau-pulau terpencil, di mana gawai elektronik tak hadir, dan kalau pun ada, ia tak terjangkau oleh kantung rakyat di sana. Jangankan buku digital seperti yang kerap diunduh via internet oleh anak-anak yang hidup di perkotaan, buku kertas saja sulit.

Tentu saja kebijakan gratis ongkos kirim buku ini bisa jadi awal meningkatkan kegemaran membaca bagi anak-anak Indonesia. Langkah ini kita harapkan diikuti dengan langkah lainnya, semisal subsidi untuk penerbitan karya sastra dan sains serta bacaan bermanfaat lainnya.

Saya teringat artikel yang ditulis Ajip Rosidi sekitar tujuh tahun lalu di harian Pikiran Rakyat, 20 Maret 2010. Sastrawan yang hidup pada tiga zaman itu prihatin dengan rendahnya kegemaran membaca bangsa kita, dan betapa industri perbukuan nasional tak pernah bisa melayani penyebaran buku hingga ke pelosok negeri. Perpustakaan tidak mendapat prioritas untuk dimajukan.

Ajip menulis: "Hanya sekitar 1950-1952 pemerintah menganggap perlu mendirikan perpustakaan rakyat di setiap kabupaten. Akan tetapi, karena kemudian negara terlanda berbagai kesulitan ekonomi, penyediaan buku perpustakaan rakyat itu dihentikan dan perpustakaannya pun menguap." Bahkan setelah negara makmur (walaupun rakyatnya tetap melarat bahkan kian melarat), kata Ajip, pemerintah memang mulai menyediakan perpustakaan tetapi itu bukanlah prioritas.

Saya tak suka jargon, tapi mungkin kita bisa mulai membangkitkan marwah bangsa ini dengan sudi mendukung taman bacaan atawa perpustakaan rakyat, dengan mengirimkan satu buku saja setiap bulan.

Penulis: Nezar Patria
Bagikan artikel via

facebook twitter gplus email

0 Response to Nikmari Layanan Kirim Buku Gratis via Pos Setiap Tanggal 17 dari Pak Jokowi

Posting Komentar