Kamis, 11 Mei 2017

Keajaiban Do'a Seorang Ibu untuk Anaknya

Sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Quran, yang di lantunkan oleh seorang wanita yang banyak memberikan arti sebuah kehidupan. Ia adalah Ibunda Ridho.

Menjelang malam, sebuah lampu yang menyala redup, yang mampu memberikan sebuah penerangan di malam hari dan mampu memberikan kesempatan pada Ridho untuk membaca sebuah mushaf Al-Qur’an. Ridho membawa Al-Qur’an miliknya dan menghampiri Ibunya yang seudah terlebih dahulu mengaji. Dengan semangat ia mengaji di depan Ibunya, sedang Ibunya mengoreksi bacaan Ridho.

Baca juga:  Dalam Setiap Kesuksesan yang Kita Raih, Ada Peran Orang Tua Kita di dalamnya

Ia duduk di bangku kelas empat SD, ia sangat rajin dan patuh terhadap Ibunya. Setelah mengaji ia tidak lantas meninggalkan Ibunya, ia mempunyai sebuah keinginan dan ingin mengutarakannya kepada Ibunya.


“Bu, Ridho menginginkan sebuah sepeda, untuk Ridho berangkat ke sekolah. Karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh.” Pinta Ridho kepada Ibunya.

“Untuk saat ini, Ibu tidak punya uang yang cukup untuk membeli sepeda nak. Bersabarlah, banyak-banyaklah meminta, banyak-banyaklah berdoa kepada Allah Swt. Tingkatkan lagi shalatmu nak, perbanyak lagi membaca Al-Qurannya. Semoga Allah Swt., memberikan kemudahan.” Jawab Ibu.

“Baik, Bu. Ridho akan meminta kepada Allah Swt., dan lebih rajin lagi dalam beribadah kepada-Nya.” Ucap Ridho. Ridho menyalami dan mencium tangan Ibunya, lantas pergi ke kamarnya.

Semenjak Ibunya memerintahkan Ridho banyak- banyak meminta kepada Allah Swt., Ridho pun melakukan nasihat Ibunya, juga Ridho menjadi lebih rajin beribadah. Sesekali ia menagih ucapan Ibunya.

“Bu, aku sudah meminta kepada Allah Swt., namun apa yang aku inginkan tak kunjung tercapai.” Ucap Ridho.

“Sabarlah, dan terus lakukan hal itu, jangan berhenti hanya karena Allah Swt., tidak memberikan apa yang kau minta, untuk saat ini, ketahuilah nak, Allah Swt., itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dia melihat setiap perbuatanmu, Dia mendengar doamu. Maka dari itu bersabarlah, Allah Swt., pasti mendengar doamu.” Tutur Ibu.

“Iya, Bu. Ridho percaya ko, terhadap apa yang di katakan Ibu.” Ucap Ridho.

***

Pagi itu. Ridho berangkat ke sekolah seperti biasanya, dengan berjalan kaki. Ibunya membekalinya makan, agar Ridho tidak perlu lagi jajan. Di perjalanan Ridho selalu memikirkan, kapan doanya terkabul. Sampai tiba di sekolah. Ridho sekolah seperti biasanya.

Namun hari ini Ridho terlihat lesu. Saat jam istirahat tiba, Ridho keluar dari kelasnya dengan membawa bekal makannya, lalu menuju ke sebuah taman. Tak di sengaja Ridho melihat, ada seseorang sedang menangis di pojok taman. Ridho menghampiri orang itu. Ridho bertanya kepadanya.

“Mengapa engkau menangis, kawanku?” Tanya Ridho. “Aku kehilangan uang jajanku, jadi aku tidak bisa membeli makan hari ini, sedang perutku lapar.” Jawab nya.

“Jangan bersedih, nih aku bawa makanan. Ambil saja. Aku sudah kenyang ko. Daripada nggak di makan, kau kan lapar. Sudah jangan menangis lagi!” Ujar Ridho.

Dengan memberikan bekal makan Ridho kepadanya. “Terima kasih ya. Oh ya, namaku Zia. Kau bisa menjadi teman bermainku.” Sesekali menyeka air matanya. “Iya, Zia. salam kenal, namaku Ridho.”

Zia, makan dengan lahap, sampai habisnya makanan itu. Zia berkata kepada Ridho, bahwa makanannya sangat enak. Ridho tersenyum menanggapinya.

Bel tanda usainya istirahat pun berbunyi. Ridho dan Zia kembali ke kelasnya masing-masing. Saat pulang, Ridho pulang dengan berjalan kaki, isi perut yang kosong, membuat langkah Ridho sedikit lemas. Zia, pulang dengan di jemput oleh Ayahnya, menggunakan sebuah mobil mewah. lalu Zia menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Ayahnya terharu mendengar pernyataan Zia. Dan bertanya, ke arah mana temanmu pulang?. Zia pun menunjukkan arah Ridho pulang.

Dengan sigap Ayahnya Zia membawa mobilnya menuju Ridho. Dari kejauhan terlihat Ridho sedang berjalan kaki dengan menenteng tasnya. Ayahnya Zia pun menghampirinya dan mempersilahkan Ridho untuk menaiki mobil mewahnya. Dengan rasa kagum, Ridho pun dengan senang hati menerima tawaran Ayahnya Zia.

“Nak Ridho. Pasti lapar kan?” Tanya Ayah Zia. “Tidak begitu pak.” Jawabnya, dengan terpaksa ia mengatakan sesuatu yang tidak sebenarnya. “Bagaimana kalau kita makan dulu di rumah makan?” Ajak Ayah Zia.

“Wah, boleh tuh yah. Sekalian ajak Ridho yah.” Pinta Zia kepada Ayahnya. “Oh tentu, Ridho bisa makan sepuasnya.” Ujar Ayah Zia.

Ridho hanya tersenyum tersipu malu. Setelah sampai di sebuah rumah makan, Ayah Zia, menanyakan berbagai hal kepada Ridho, dan Ridho menjawab dengan terus terang.

“Ridho, sering makan di rumah makan enggak ?” Tanya Ayah Zia. “Jarang pak, mungkin hanya setengah tahun atau setahun sekali.” Jawab Ridho.

“Jarak dari rumah ke sekolah dekat atau jauh?” “Jauh pak. Terkadang aku harus menempuh waktu yang cukup lama. Tapi apalah daya, saat ini aku membutuhkan sebuah sepeda untukku bersekolah, namun orang tuaku tak sanggup untuk membelinya.” Ucap Ridho kepada Ayah Zia.

“Oh, begitu.” Seusai makan, Ayah Ridho mengajak Zia dan Ridho berkeliling dengan mobil mewah nya. Dan di sisi jalan tampak sebuah toko, yaitu toko sepeda, dan Ayah Zia tepat memberhentikan mobilnya di depan toko sepeda tersebut.

Dan tak di sangka-sangka Ayah Zia membelikan Ridho sebuah sepeda baru. Ridho hanya bisa berterima kasih kepada Allah Swt dan kepada Ayah Zia. Ridho merasa bahagia sekali, memiliki sebuah sepeda baru.

Saat pulang ke rumah. Ibunya terkejut melihat mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Seketika itu pula Ridho, Zia, dan Ayah Zia keluar dari mobil itu.

Ayah Zia membuka bagasi belakang dan mengeluarkan sepeda yang telah di belinya untuk Ridho. Ayah Zia menceritakan semua yang telah terjadi, hingga saat ini. kepada Ibu Ridho. Hingga akhirnya Ibu Ridho pun sangat bersyukur dan berterima kasih. Rupanya Doa yang telah terucap dari mulut Ridho, dengan penuh kesabaran dan prihatin dalam menjalani hidup. Allah Swt. Mendengar dan mengabulkan doanya. (Pena Husna)

Sumber ilustrasi: https://moeflich.files.wordpress.com

0 Komentar Keajaiban Do'a Seorang Ibu untuk Anaknya

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top