Hikmah dari Seorang Cacat

Siang itu menjelang sore, aku tengah duduk di sebuah halte, menunggu mobil angkutan kota. Matahari masih bersinar terik, membuat banyak orang ikut duduk di halte itu, sekedar berteduh atau membeli minuman yang banyak dijajakan pedagang kaki lima di situ.

Sesaat aku melihat ke sekitar. Ada seorang ibu, tiga lelaki dewasa dan juga dua gadis remaja dengan seragam sekolah, duduk di kursi halte. Tak lama, seorang lelaki tua ikut pula bergabung di halte tersebut.

Tengah asyik menatap orang-orang itu, seraya sesekali memandang keramaian jalan raya, tiba-tiba sebuah sapaan mengejutkanku.

"Mas ... koran, Mas! Majalah."

Aku menengok. Tak terlihat ada orang di dekatku. Baru tersadar, suara itu terdengar dari bawah. Aku pun menunduk, dan seketika tercekat!

Subhanallah ....

Seorang lelaki separuh baya, nampak tengah menawarkan koran dan majalah yang ia jajakan. Ia berjalan dengan cara merangkak, di dekat kakiku. Lelaki itu tak memiliki kaki yang utuh. Kedua kakinya hanya sampai pada pangkal paha. Itu sebabnya ia berjalan dengan cara merangkak.

Aku menatapnya dengan haru. Lalu tersenyum, seraya meraih koran yang ia sodorkan. "Berapa, Pak?" tanyaku ramah.

"Tiga ribu, Mas," jawabnya.

Aku mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu, "kembalinya, ambil buat Bapak saja."

Pria itu hanya tersenyum seraya tetap memberikan kembalian uangku. "Saya hanya mau uang hasil kerja saya, Mas! Bukan hasil dikasihani!" balasnya tegas.

Aku terpana! 'Masya Allah .... Hebat juga pendirian bapak ini!' batinku kagum.

Aku pun menerima uang kembalian itu. "Sudah lama jualan koran, Pak?" tanyaku ingin tahu.

"Sudah dua tiga tahunan, Mas."

"Mmm ... maaf, kakinya kenapa, Pak?" tanyaku lagi tak dapat menahan keingin-tahuan.

"Kecelakaan, Mas," jawabnya singkat.

"Ooh ... kapan kecelakaannya?"

"Sekitar lima tahun lalu."

"Terus, kenapa Bapak jualan koran di jalanan, seperti ini? Maaf, Pak ... tapi ini kan sangat berbahaya. Orang-orang, terutama yang membawa kendaraan, sulit untuk bisa melihat Bapak. Bapak bisa terlindas oleh kendaraan yang mereka bawa, tanpa mereka sadari," ucapku dengan nada bersimpati.

Pria itu menatapku dengan pandangan dingin. "Terus, apa saya mesti diam di rumah saja? Menunggu diberi makan oleh anak dan istri saya? Saya memang telah cacat, tapi saya masih punya harga diri. Saya tak mau dikasihani! Dan menafkahi anak istri, adalah tetap tanggung jawab saya!" balasnya dengan suara terdengar ketus.

Aku tersenyum, memaklumi. 'Mungkin ia tak suka disinggung masalah cacatnya itu,' pikirku.

***

Tak berapa lama, si ibu yang tengah ikut duduk di halte itu, mendekati kami. "Pak, ada majalah wanita, gak?" tanyanya.

"Ada ... ini, Bu."

"Berapa, Pak?"

"Lima belas ribu."

Si ibu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. Pria itu sesaat menghitung uang di kantong.

"Maaf, Bu. Gak ada kembaliannya. Uang pas aja, ada?" ucapnya kemudian.

"Wah ... gak ada, Pak," sahut si ibu. Ia lalu mengedarkan pandangan. "Sebentar, saya tukarkan ke warung itu, ya?"

Pria itu mengangguk. Si ibu pun berlalu menuju warung tak jauh dari halte. Beberapa saat menunggu, ibu itu belum juga kembali.

Adzan Ashar berkumandang di kejauhan. Pria itu membereskan dagangannya, lalu hendak beranjak meninggalkan halte.

"Lho, Pak! Mau kemana?" tanyaku.

"Mau salat, Mas," jawabnya singkat.

"Eh, Pak? Nanti sebentar lagi ibu itu kembali membayar uang majalah, lho?!" ucapku mengingatkan.

Pria itu tersenyum.

"Saya lebih mendahulukan panggilan waktu salat, waktu menghadap kepada-Nya, dari pada menunggu uang itu, Mas! Saya tidak mau telat memenuhi panggilan-Nya, karena Allah sendiri tak pernah telat memberi rahmat rezeki pada saya."

Aku tertegun. 'Masya Allah ... pria ini benar-benar memiliki keyakinan dan pendirian yang hebat!' batinku semakin kagum.

Aku pun beranjak bangkit, menyusul pria itu. "Mau salat di mana, Pak? Saya boleh ikut, kan?" kataku menjajari.

"Boleh. Itu, di sebelah mini market di seberang jalan," jawabnya seraya terus merangkak.

Sesaat aku tercekat! 'Menyeberang jalan seramai ini? Dengan merangkak? Demi sesegera mungkin mengerjakan salat?' aku menggeleng-geleng kepala dengan kagum!

"Pak, maaf, apa setiap hari Bapak mesti menyeberangi jalan ini untuk salat?" tanyaku perlahan.

Pria itu tersenyum tipis. "Saya sudah cacat begini. Harapan hidup saya, sudah saya pasrahkan sepenuhnya pada Allah. Dan, hanya amal ibadah yang bisa saya bawa saat menghadap kepada-Nya. Maka dari itu, saya akan melakukan amal ibadah apapun caranya dan bagaimanapun susahnya. Karena saya sadar dengan keadaan begini, setiap saat, kapan saja, Allah bisa meminta saya kembali kepada-Nya. Maka setiap waktu yang ada, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk mengumpulkan amal ibadah sebagai bekal," jawabnya seraya mulai menyeberang jalan, tanpa keraguan sedikitpun!

Aku berusaha selalu di sebelahnya, membantu pria itu menyeberang dengan mengangkat tangan, memberi tanda pada pengendara yang melintas. Agak lama juga, kami baru sampai di seberang.

"Pak, maaf. Tapi tadi itu berbahaya sekali buat Bapak. Mereka yang berkendara, apalagi yang memakai mobil, sulit melihat keberadaan Bapak di jalan raya!" kataku tak bisa menahan kekuatiran.

Pria itu tersenyum. "Saya tahu. Tapi, seperti yang saya bilang tadi, harapan hidup saya, sudah saya pasrahkan sepenuhnya pada Allah. Karena itu, kemana-mana, saya selalu membawa surat dalam amplop di kantong saya," sahutnya.

"Surat? Surat apa?" tanyaku bingung dan heran.

"Surat pernyataan, bahwa siapapun yang menabrak saya, andai sampai saya mati, maka orang itu tak bersalah. Saya lah yang mengakibatkan kecelakaan itu terjadi karena cacat yang saya derita. Dan saya sudah pasrah, kalau itu jalan yang dipilih Allah untuk memanggil saya kembali. Dengan surat pernyataan saya itu, saya harap, siapapun yang menabrak saya hingga mati, tidak akan dipersalahkan oleh yang berwajib," jawabnya seraya melangkah memasuki mushola kecil di samping mini market itu.

Kembali aku terpana kagum! Masya Allah ...! Pria ini benar-benar telah memasrahkan hidupnya pada Allah sedemikian rupa! Benar atau salahkah sikapnya itu? Ah, entahlah. Ia hanya berusaha berbuat yang terbaik untuk Tuhannya.

Kami selesai berwudhu, tepat saat terdengar suara komat dari mushola. Tanpa sadar, bening haru mengambang di mataku ... saat melihat pria itu di bawahku, sejajar dalam barisan shaf.

Selesai salat, aku sengaja menunggu pria itu untuk kembali menyeberang bersama ke halte tadi. Sesampainya di halte, ternyata si ibu pembeli majalah wanita telah menunggu di sana.

"Pak, tadi saya cari-cari. Kata orang-orang, Bapak sedang salat, ya? Ya sudah, saya tunggu di sini. Ini uangnya, Pak," katanya seraya memberikan uang bayaran majalah yang ia beli.

"Terima kasih, Bu," balas pria itu seraya mengangguk. "Terima kasih, ya Allah. Rezeki dari-Mu yang telah Kau tetapkan, tak mungkin akan hilang," bisiknya lirih.

Masya Allah ....

Entah berapa kali aku menyebut kebesaran nama-Nya, karena kagum dengan keyakinan dan pendirian pria itu. 'Akankah aku bisa sepertinya? Ataukah, aku mesti bernasib seperti dia, cacat dulu, baru tumbuh kepasrahan dan keyakinan yang kuat akan kemahaan-Nya? Entahlah ...,' batinku berbisik resah.

Aku menatap pria itu berlalu merangkak, menjajakan kembali dagangannya tanpa kenal lelah dan takut! Demi rezeki yang mesti ia penuhi sebagai tanggung jawabnya, tanpa sedikitpun keinginan mendapatkannya dari belas kasihan orang-orang!

***

Beberapa minggu kemudian, untuk kesekian kalinya, kembali aku berada di halte itu. Sesaat mencari-cari sosok pria cacat penjual koran yang amat mengagumkanku. Namun tak tampak bayangannya. Penasaran, aku bertanya pada pedagang kaki lima di sekitar situ.

"Ooh ... bapak penjual koran itu?! Ia meninggal, tertabrak mobil beberapa hari lalu, Mas."

Innalillahi wa innalillahi rojiun ....

Ternyata ia telah dipanggil ke hadirat-Nya. Mungkin Allah sayang padanya, dan tak ingin ia lebih lama berjuang bertaruh nyawa menjalani hidup. Semoga amal ibadah yang telah ia kumpulkan selama ini, cukup untuk membuka tangan Allah, menerimanya di surga dalam limpahan rahmat yang kekal abadi selamanya ... aamiin.

'Terima kasih untuk pelajaran tak ternilai yang sempat engkau berikan, Pak," bisikku lirih seraya menatap angkasa biru.

Cerpen oleh: Sang Lanna
Sumber ilustrasi: http://rahmat-islam.blogspot.com

0 Komentar Hikmah dari Seorang Cacat

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top