Senin, 29 Mei 2017

5 Pendapat Ulama' tentang Cara Mengganti Puasa untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara wanita yang hamil atau wanita yang menyusui mengganti puasanya (puasa wajib/puasa ramadhan) yang ditinggalkan. Mengapa mereka berbeda pendapat? Perbedaan pendapat ini terjadi karena tidak ada nash yang sharih tentang hal ini. Sehingga mereka pun berijtihad yang hasilnya pasti akan saling berbeda. Di dalam nash yang sharih, hanya dikenal dua macam penggantian, yaitu puasa qadha’ dan fidyah.
Baca juga : Manfaat Puasa bagi Kesehatan
Qadha’ di hari lain dilakukan bagi mereka yang sakit atau musafir, sedangkan membayar fidyah, ditetapkan buat mereka yang tidak mampu. Sedangkan wanita hamil dan menyusui tidak disebutkan secara eksplisit, apakah mereka mengganti dengan berpuasa qadha’, ataukah mereka cukup membayar fidyah saja, ataukah harus kedua-duanya.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama itu didasari pada perbedaan pendapat di antara mereka dalam menggolongkan wanita yang hamil dan wanita yang menyusui.

Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab menyebutkan bahwa para ulama berbeda pandangan dalam empat kelompok.

1. Qadha’ Tanpa Fidyah

Pendapat pertama mengatakan bahwa mereka cukup mengganti dengan puasa qadha’ saja tanpa harus membayar fidyah.Logikanya bahwa mereka digolongkan kepada orang sakit, sehingga cara penggantian puasanya harus sebagaimana orang yang sedang sakit, yaitu dengan cara berpuasa qadha‘ di hari lain (Q.S. Al-Baqarah: 85). Yang berpendapat seperti ini adalah Atha’ Ibnu Abi Rabah,
Al-Hasan, Adh-Dhahhak, An-Nakha’i, Az-Zuhri, Rabiah, AlAuza’i, Abu Hanifah, Ats-Tsauriy, Abu Ubaid dan Abu Tsaur.

2. Fidyah Tanpa Qadha’

Pendapat kedua menyebutkan bahwa para wanita yang sedang hamil dan sedang menyusui cukup membayar fidyah saja tanpa harus mengqadha’ puasanya. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Umar radhiyallahuanhuma, sertajuga pendapat Said bin Jubair. Dalam pandangan kelompok ini, wanita hamil dan menyusui tidak bisa disamakan dengan orang sakit, karena pada
dasarnya mereka bukan orang sakit. Mereka lebih tepat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang tidak kuat atau mampu, seperti orang yang sudah tua bangka atau jompo. Untuk itu orang-orang yang tidak mampu berpuasa itu tidak mengganti dengan berpuasa di hari lain (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, jilid 7 hal. 327). Namun cukup bagi mereka membayar fidyah, memberi makan kepada fakir miskin (QS. AlBaqarah : 184).

3. Qadha dan Fidyah Sekaligus

Pendapat ketiga bahwa wanita yang hamil dan menyusui bukan hanya wajib mengqadha‘puasanya, bahkan merekajuga wajib membayar fidyah. Pendapat adala pendapat madzhab Asy-syafi’iyahdan AlHanabilah (Al-Inshaf, jilid 3 hal. 290). Pendapat ini pada dasarnyamenggabungkan antara kedua alasan di atas. Para wanita hamil dan menyusui seperti orang sakit dan sekaligus juga orang yang tidak mampu.

4. Qadha’ Buat Yang Hamil & Fidyah Buat Yang Menyusui

Pendapat keempat adalah pendapat Al-Malikiyah. Kelompok ini memilah antara wanita hamil dan menyusui. Khusus buat wanita yang hamil, bila tidak berpuasa maka penggantiannya dengan berpuasa qadha’ tanpa harus membayar fidyah. Sementara buat wanita yang menyusui, bila tidak berpuasa maka penggantiannya dengan mengqadha’ dan juga membayar fidyah (Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 2 hal. 515).

5. Melihat Motivasinya

Namun ada juga para ulama yang memilah sesuai dengan motivasi dari tidak berpuasa yang melatar-belakangi perbuatannya. Bila motivasi tidak puasanya karena khawatir akan kesehatan atau kekuatan dirinya sendiri, bukan bayinya, maka dirinya disetarakan dengan orang sakit. Untuk itu dia mengganti dengan berpuasa di hari lain alias mengqadha’ puasa. Adapun bila jelas-jelas kekhawatirannya juga berkait dengan anak yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya, maka selain mengganti dengan puasa, juga membayar fidyah. Wallahu A'lam.

Diulas oleh Kyai Ahmad Syafi'i, dosen IAIN dan INSURI Ponorogo, ketua FKDT kab. Ponorogo sekaligus ketua MWC kec. Pulung kab. Ponorogo.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top