Jumat, 07 April 2017

Retaknya Bumi Akibat Retaknya Trilogi Ukhuwah Kita?

Bumi, akhir-akhir ini, sudah mulai kurang bersahabat dengan para penghuninya. Fenomena retaknyanya bumi di beberapa daerah yang mengakibatkan longsor dengan korban yang tidak sedikit adalah bukti shahih akan hal ini. Mungkinkah retaknya bumi ada korelasinya dengan semakin retaknya tali persaudaraan di antara umat manusia? Jawabanyya tentu bisa iya, bisa tidak. Tapi yang jelas ada musabbab pasti ada sebabnya. Di sinilah "nalar" manusia sebagai karunia Tuhan harus selalu berkorespondensi dengan alam guna menyibak hukum sebab-akibat (idraak al-sabab wa al-musabbab). Sindiran Tuhan melalui kalam-Nya dengan beragam proposisi, semisal "afalaa tandhuruun...", "afalaa tatadabbaruuna...", "afalaa ta'qiluuna..." dst, semakin menegaskan signifikansi peran nalar dalam konteks ini.

Menyoal masalah persaudaraan (al-ukhuwwah), kita mengenal "Trilogi Ukhuwwah", yaitu ukhuwwah basyariah (persaudaraan yang terjadi pada manusia secara universal tanpa melihat SARA), ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan yang berlaku antar sesama komunitas Muslim dengan simpul aqidah sebagai pengikatnya), dan ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan dengan jiwa nasionalisme sebagai simpul pengikatnya). Jika kita telisik secara lebih mendalam, kita akan melihat betapa ketiga simpul persaudaraan tersebut, disadari atau tidak, mulai menunjukkan keteratakan dan mulai memudar.


Pertama, tanda-tanda retaknya simpul persaudaraan umat manusia (ukhuwah basyariah) bisa dilihat dengan mulai menguatnya karakter manusia-manusia individualis yang nir simpati dan empati terhadap sesama. Jika dahulu kala, tepatnya 14 abad yang lalu, Nabi saw mewanti-wanti umatnya untuk tidak saling mem-blow up 'aib sesama, namun kini manusia memakan sesama manusia semakin jama' terjadi di tengah-tengah kita. Seakan kasus SUMANTO (Suka Makan Manusia To) yang pernah menghebohkan beberapa tahun silam semakin menemukan relevansinya di era sekarang. Fenomena menguatnya sentimen SARA yang terjadi dalam panggung politik dewasa ini juga semakin mengindikasikan akan retaknya simpul-simpul persaudaraan antar sesama umat manusia ini.

Kedua, gejala keretakan juga mulai terlihat dalam domain ukhuwah Islamiyah. Maraknya labelisasi kafir-sesat, thaghut, bid'ah, ahli neraka dan virus kebencian yang dihembuskan kelompok-kelompok tertentu yang seolah-olah menjadi satu-satunya "polisi keagamaan dan kebenaran" semakin mengoyak-oyak simpul persaudaraan dalam komunitas Muslim. Semakim menguatnya paham Islam radikal, Islam puritan dan fundamental yang hanya mengakui kebenaran fahamnya sendiri dan menafikan kebenaran faham yang lainhya tentu akan menjadi ancaman serius bagi simpul persaudaraan ini.

Ketiga, simpul persaudaraan yang didasari semangat kebangsaan dan nasionalisme pun juga mulai memperlihatkan keretakannya. Aksi-aksi yang dipertontonkan oleh pihak-pihak yang mengusung ideologi khilafah Islamiyah secara tidak langsung akan menggerogoti kedaulatan NKRI.

Mengkaitkan fenomena retaknya alam dengan fenomena memudarnya simpul-simpul persaudaraan tentu sah-sah saja, dan ini sangat mungkin terjadi. Dengan kata lain, bahwa keretakan yang tetjadi pada sebagian belahan bumi bisa jadi sebagai akibat dari sebab mulai memudarnya simpul-simpul persaudaraan umat manusia. Meminjam bahasa Ebit, alam sudah mulai enggan bersahabat dengan kita lantaran kita abai dengan alam dan sesama

Penulis: Ahmad Syafi'i S.J, Msi, Dosen IAIN Ponorogo.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top