Hakikat Tujuan Hidup Manusia dalam Filosofi Sangkan Paraning Dumadi

Wikipendidikan - Ketika manusia belum memiliki kesadaran tentang relasi antara eksistensi dirinya dengan Tuhan yang menciptakannya, ketika itu itu pula manusia berada dalam keadaan yang sama seperti mati. Selama manusia belum memiliki kesadaran tentang makna hidupnya, selama itu pula hidupnya belum memiliki arti. Orang yang hidup tanpa kesadaran tentang arti hidupnya, tentang mengapa ia dihidupkan, sama dengan keadaan mati. Keimanan kita kepada Allah, itulah yang merupakan awal dari kesadaran tentang arti hidup. Dan sebaliknya, hilangnya keimanan terhadapnya merupakan awal sebuah kematian.

Sebagian besar manusia hidup dengan dikendalikan oleh alam bawah sadarnya yang banyak dikotori oleh hawa nafsu. Itulah mengapa kesadaran diri memiliki nilai yang amat penting dan berharga. Kesadaranlah yang membangunkan kita dari sifat bermalas-malasan, kesadaranlah yang dapat menumbuhkan tunas-tunas semangat yang masih terpendam dan menggerakkan kita untuk lebih maju dan lebih baik dari sebelumnya dan dari orang lain.

Dalam istilah jawa kita mengenal istilah “sangkan paraning dumadi”, itulah puncak kesadaran tentang hakikat tujuan hidup seorang manusia. Kesadaran tentang makna hidup yang sesungguhnya. Kesadaran tentang di mana posisi kita saat ini, dari mana kita berasal, ke mana kita nanti, sampai di mana perjalanan kita, dan apa saja yang sudah kita capai selama ini.

Puncak kemenangan hidup manusia adalah tumbuhnya kesadaran tentang sangkan paraning dumadi sebagaimana tersebut di atas. Kesadaran itulah yang mengokohkan hati kita dan menguatkan kita menghadapi setiap halangan dan rintangan yang hadir dalam perjalanan menuju tujuan hidup yang hakiki.


Dalam dunia sufi, kesadaran itu diistilahkan dengan cahaya iman. Cahaya iman seseorang akan bertambah terang seiring dengan bertambahnya ketekunan ibadah dan makrifat kepada Allah SWT. Ibadah dan makrifatullah bagaikan sumber energi yang menjadikan cahaya iman semakin terang.

Cahaya iman seseorang akan menerangi kehidupan empirisnya di dunia. Selain itu, cahaya iman juga mampu memperpanjang umur dan memperkaya orang yang memilikinya. Bagaimana bisa? Bukankah jatah umur dan rezeki sudah ditentukan sejak zaman ajali dan tidak bisa ditambah atau dikurangi? Benar, namun dalam hal ini yang ditambah adalah nilai atau kualitas kebaikannya.

Cahaya iman yang terang akan melahirkan perilaku-perilaku lahiriah yang terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang akan gemar menanamkan benih-benih kebaikan seperti cinta dan kasih sayang terhadap semua makhluk, berbuat adil, toleran, dan lain sebagainya, maka setelah kita mati pun nama kita akan selalu hidup terkenang di hati banyak orang.

Kita akan selalu hidup meskipun setelah datangnya kematian dan jasad telah hancur lebur jadi tanah. Semua karena jasa-jasa baik yang kita tanam berkat adanya cahaya keimanan di dalam diri kita. Jasa berupa ilmu dan kebaikan yang kita ajarkan, atau anak-anak shalih dan shalihah yang senantiasa berbuat kebaikan dan mendoakan kita.

Begitu pula dengan harta benda duniawi. Ada orang yang secara lahiriah hidupnya bergelimang harta benda. Rumah mewah, mobil mewah, perhiasan mewah, dan uang melimpah. Namun dibalik itu, hatinya masih merasa miskin, jiwanya gersang dan kesepian. Ia tidak pernah bisa merasa puas dan kenyang dengan semua yang telah dimilikinya. Dan hartanya tidak membawa manfaat dan keberkahan bagi orang lain di sekitarnya.

Ada orang yang tidak memiliki kekayaan, hidupnya sederhana dan biasa-biasa saja. Akan tetapi ia kaya hati. Kaya dengan cinta dan kasih sayang terhadap sesama, kaya dengan kebaikan-kebaikan yang ia tanamkan, kaya dengan sahabat dan teman-teman yang baik, kaya dengan keluarga yang bahagia. Orang seperti ini, meskipun sudah mati, namanya akan selalu dikenang banyak orang sepanjang masa.

Cahaya iman akan kepada Allah SWT pasti menumbuhkan benih-benih cinta kasih di hati pemiliknya. Orang yang suka mencaci dan menebarkan kebencian, pertanda redupnya cahaya iman di hatinya. Sebab tidak akan pernah menyatu antara iman dan benci.

Iman merupakan integrasi antara perkataan dan perbuatan. Adakalanya iman itu bertambah, adakalanya berkurang. Bahkan bisa terus berkurang dan berkurang sampai habis tak tersisa sama sekali.

Rasulullah SAW. mentipologikan tingkatan cahaya iman menjadi 3, yaitu biasa, tinggi, dan lebih tinggi. Atau seperti tingkatan jenjang pendidikan, ada iman level SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Ada orang yang seandainya kasat mata, cahaya imannya mampu menyinari seluruh bumi. Namun ada juga orang yang cahaya imannya hanya cukup untuk menyinari dirinya sendiri. Ada pula yang sama sekali tidak bercahaya. Bahkan ada pula yang dulunya bercahaya kemudian redup dan mati karena dicabut oleh Allah akibat perbuatan dosa dan maksiat yang mengotori dirinya.

Al-Quran menganalogikan dosa dan maksiat yang mengotori dan menghilangkan cahaya iman dalam diri seseorang seperti noda-noda hitam yang menempel di hati. Noda-noda tersebut akan semakin bertambah banyak seiring dengan dosa-dosa yang terus dilakukan tanpa ada upaya membersihkannya. Bila terus dibiarkan, noda-noda itu akan menutupi hati dan hati menjadi gelap sehingga cahaya iman tidak bisa memancar keluar.

Satu-satunya cara agar cahaya iman dapat kembali terang memancar keluar adalah dengan bertaubat. Diawali dengan rasa takut, menyesal, dan berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi dosa-dosa itu lagi. Diiringi dengan berbuat amal kebaikan sebanyak-banyaknya hingga dosa-dosa di masa lampau habis tertimbun oleh kebaikan-kebaikan yang dilakukan. Dengan kesungguhan bertaubat, maka cahaya iman itu dapat kembali terang dan memancar. Bahkan bisa jadi lebih terang dari sebelumnya.

Disarikan dari buku Wejangan Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Wikipendidikan
Back To Top