Sabtu, 22 April 2017

Teori Bumi Datar dan Pilkada DKI

'Teori Bumi datar' adalah frame yang dipakai untuk merendahkan umat muslim yang menentang Ahok. Tidak pernah diselidiki apakah betul kelompok-kelompok umat muslim memang menganut pemikiran itu. Kaum bumi datar adalah ungkapan dari lawan debater yang menyatakan bahwa orang islam yg membawa ajaran islam memiliki pengetahuan, pemikiran dan wawasan yang sempit karena ajaran islam hanyalah ajaran agama yang berkiblat kepada sebatas penafsiran dan pembahasan isi dari sebuah kitab suci. Disamping budaya islam itu tertutup dari dari dunia luar yang disebut dgn kafir. Sedang debater menyerang dari berbagai kalangan yang berlatar belakang ilmu pengetahuan sains dan teknologi yang berdasarkan pengalaman, penelitian dunia modren yang telah menciptakan berbagai produk dan memenuhi rak-rak buku untuk dibaca.

Ilustrasi: lionsgroundnews.com
Kalau dikaitkan dengan saya, tidak ada satupun orang yang saya kenal mempercayai bumi datar. Teman-teman saya itu justru kebalikannya percaya bahwa postulat bumi bulat telah ditemukan oleh filsuf-filsuf Yunani ratusan tahun SM. Ilmuwan-ilmuan muslim membuktikan kebenaran postulat itu di masa dinasti Abbasiyah, 800 tahun sebelum Galileo melakukannya. Pada waktu itu, Sultan Al Makmun memerintahkan Al Khawarizmi memimpin 71 ilmuwan muslim untuk menghitung diameter bumi. Hasil hitungan Al Khawarizmi sangat akurat bahkan bila dibandingkan dengan hitungan ilmuwan saat ini.

Membangun kategori kelompok 'bumi datar' tidak menjelaskan apa-apa, karena sangat sedikit orang yang berpikiran seperti itu. Secara global saja cuma ada beberapa ribu orang yang berpendapat seperti itu.

Namun perjalanan pilkada DKI ini memberi saya pelajaran bahwa barangkali memang sedang ada proses pembentukan kelompok Islam yang baru. Pengelompokan baru itu melintasi pembagian cara lama, seperti Muhammadiyah vs NU, Suni vs Syiah, Islam Nusantara vs Islam Arabia dsb. Kategori baru ini secara sosiologis dan politis lebih signifikan untuk dipergunakan membedah fenomena aktual seperti berbagai aksi bela islam/ulama belakangan ini.

Kategori baru tersebut mempergunakan tingkat kepercayaan, kebanggaan dan harapan kepada nilai-nilai, tradisi dan budaya Islam, sebagai pembeda. Terdapat suatu kelompok yang tumbuh dengan pesat dan berada di belakang aksi bela islam/ulama. Kelompok ini percaya bahwa nilai-nilai Islam, tradisi dan budayanya bisa menjadi pencerah bagi kehidupan modern. Sekalipun secara sains umat muslim tertinggal namun Islam tidaklah bertentangan dengan sains. Islam membuktikan telah mempelopori kemajuan sains di masa lalu. Dengan mengangkat nilai-nilai Islam, tradisi dan budayanya, kelompok ini percaya bahwa Islam dapat memberi kontribusi kepada kedamaian, kesejahteraan dan kejayaan teknologi Indonesia.

Sementara itu kelompok kedua adalah mereka yang sdh terkena racun barat. Sudah rendah diri atas kemajuan-kemajuan yang sekarang dinikmati Barat. Dalam sudut pandang kelompok ini islam mewakili nilai, tradisi dan budaya yang sudah kumuh, ketinggalan jaman dan tidak relevan untuk kemajuan. Mereka ini ikut-ikutan merendahkan saudara-saudaranya dari kelompok pertama. Mereka bersemangat mengadopsi nilai2 barat untuk menggantikan nilai2 islam demi meraih kemajuan. Mereka berkeinginan menjadikan agama islam berada di wilayah esoterik (urusan individu dengan Tuhan) saja.

Bagi saya, nilai, tradisi dan budaya yang cocok untuk saat ini harus ditemukan secara demokratis. Nilai-nilai lama silahkan diperbarui dan diuji lagi relevansinya dengan jaman. Namun kita harus mulai dari mana? Sebagai muslim saya memilih untuk memulai dari rasa percaya diri ketimbang dari rasa rendah diri.

Penulis: Radhar Tribaskoro

0 Komentar Teori Bumi Datar dan Pilkada DKI

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top