Sabtu, 22 April 2017

Membongkar Pemikiran Al-Ghazali dalam Tahafut Al-Falasifah

Wikipendidikan - Al-Ghazali seorang ulama besar yang juga dijuluki dengan Kutbul ‘Ilmi atau penguasa ilmu. Bisa kita lihat karya-karya beliau yang sangat fenomenal banyak sekali, misalkan kitab Ihya’ Ulumuddin. Latar belakang dari diciptakannya karya agung Al Ghazali ini, pada sekitar abad ke-5 H pergolakan antara kalangan ulama kalam, ulama fiqih dan ulama tasawuf.

Baca juga:
Dikatakan kepada ulama kalam, bahwa para ulama kalam adalah kaum-kaum rasionalis yang mementingkan akal dan berada di tepi jurang kemusyrikan. Sedangkan dikatakan kepada ulama fiqih bahwa para ulama fiqih itu hanya berkutat pada ibadah mahdhoh kepada Allah saja dan tidak memikirkan hal lain. Kemudian dikatakan kepada ulama tasawuf bahwa para sufi hanya mengandalkan perasaan dalam segala segi kehidupannya. Kemudian Imam Al-Ghazali hadir dengan maksud ingin mengintegrasikan ketiga ilmu tersebut.

Selain kitab Ihya’ ada karya lain Al Ghazali yang tak kalah fenomenalnya, adalah kitab Tahafut al-Falasifah. Dalam bukunya ini, beliau ingin memberikan reaksi terhadap para filosof baik dari Barat maupun Timur mengenai pemikiran-pemikiran mereka. Reaksi tersebut berupa sanggahan, dukungan maupun kritik konstruktif Al Ghazali. Al-Ghazali menganggap bahwa para filosof ini telah masuk dalam keadaan kufur. Bukan menyekutukan Allah ataupun telah keluar dari Islam, melainkan kesesatan dalam berpikir.

Sebenarnya, dengan bukunya ini Al Ghazali ingin mengajak para filsof untuk “bersyahadat” kembali dan mengikuti Sunnah Nabi. Nabi pernah membantah para kaum filsof Barat yang sering mempermasalahkan wujud Allah, disebutkan dalam Hadits bahwa Nabi bersabda:

تَفَكَّرُوْا فِى الْخَلْقِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى الْخَالِقِ فَاِنَّكُمْ لَا تَقْدِرُونَ قُدْرَة

“Berpikirlah kalian tentang penciptaan, dan janganlah kalian berpikir tentang yang menciptakan, karena sesungguhnya kalian tidak mempunyai daya kekuatan”

Sejak awal Nabi telah mengkhawatirkan umatnya untuk mempermasalahkan hal tersebut, ternyata benar saja, setelah kaum filsof Barat dibantahnya, beberapa tahun Nabi meninggal muncul pemikiran-pemikiran mengenai wujud Allah oleh para filsof Islam.

Hal terpenting yang dibahas oleh Al Ghazali dalam bukunya ini sebenarnya ada dual hal, yaitu, pertama, keazalian alam, dan yang kedua adalah pengetahuan yang fokus pada wujud.

Keazalian alam atau keabadian alam yang dikatakan oleh Galen menganggap bahwa alam tidak akan rusak. Pendapat tersebut didasari ketika ia melihat matahari tidak mengalami perubahan sejak ribuan tahun silam, tidak semakin kecil, menyusut atau meredup. Ini artinya bahwa ia tidak akan binasa. Jika matahari dalam proses kehancuran pastinya akan semakin meredup atau menyusut. sementara matahari tidak terjadi hal tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa matahari akan tetap ada, tidak binasa dan tidak akan lenyap. Pemahaman ini kemudian dikembangkan juga oleh Ibnu Sina dalam bukunya Al-Isyarat al-Tanbihat. Selain Ibnu Sina, ada juga ulama yang menyetujui hal tersebut yaitu Al-Farabi dan Ibnu Rusydi.

Kemudian penolakan al-Ghazali terhadap pernyataan di atas dalam bukunya disebutkan bahwa suatu perubahan tidak pasti secara perlahan, bisa saja tiba-tiba berubah. Seperti halnya matahari yang tidak meredup ataupun menyusut. bahkan jika matahari meredup ataupun menyusut, hal itu tidak akan terlihat oleh indera karena matahari sangat besar dan tidak dapat mengetahui kadar matahari kecuali mendekatinya. Begitu pula alam semesta ini, ketika kita melihat baik-baik saja namun bisa saja tiba-tiba rusak.

Di sinilah Al Ghazali mampu menumbangkan pendapat Galen. Al Ghazali menggunakan akal dan penalaran yang benar, sedangkan Galen berpegang pada hukum kebiasaan dan tidak mengkaji ulang dengan kritis.

Hal kedua yang dibahas adalah mengenai wujud. Maksud wujud adalah eksistensi. Al-Ghazali mengatakan bahwa keberadaan Allah ditunjukkan dengan kekuasaannya menggerakan segala yang ada.

Kawasan filsafat al-Ghazali pada kawasan empiris. Jauh sebelum John Lock dengan empirismenya.

Fase kehidupan

1. Pra keraguan

Masa al-Ghozali saat menjadi pelajar dan belum mempunyai pendapat yang indpenden,tanpa beban dan kegelisahan karena belum mencapai taraf kemtangan intelektual. Orientasinya transfer of knowledge. Karena tidak ada beban maka tidak ada keraguan terhadap kebenaran. ukuran kebenaran hanya didasarkan kepada penyesuaian pengetahuan yang didengar dari gurunya. Tidak ada kegelisahan intelektual yang ada hanya semangat belajar.

2. Fase keraguan

Mulai meragukan kebenaran.

3. Pasca keraguan (hidayah)

*Tulisan ini merupakan hasil diskusi malam kamisan yang diadakan oleh LPM Edukasi UIN Wali Songo dengan dinarasumberi Ubaidillah Achmad M.Pd. Judul buku yang didiskusikan adalah Tahafut alfalasifah karya Imam Al- Ghazali.

0 Komentar Membongkar Pemikiran Al-Ghazali dalam Tahafut Al-Falasifah

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top