Strategi Dakwah Islam Wali Songo di Pulau Jawa dalam Bidang Ekonomi

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan islam di pulau jawa khususnya dan di nusantara pada umumnya tidak terlepas dari peran Wali Songo. Proses penyebaran Islam di Pulau Jawa pada periode awal oleh wali songo bermodalkan adalah kapasitas keilmuan mereka dalam menguasai ilmu-ilmu keislaman. Tidak hanya itu, para wali juga mempunyai bekal pemahaman dan keterampilan yang handal dalam bidang lain seperti politik, budaya, seni, dan ekonomi masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Dengan semua bekal tersebut, wali songo mampu mengenalkan dan menyebarluaskan Islam secara fleksibel, kontekstual, dan dinamis, melalui beraneka macam strategi efektif, variatif, dan tidak monoton.

Penguasaan wali songo dalam aspek ekonomi rakyat di kala itu terbukti dengan kemampuan mereka menjadikan kebutuhan pokok masyarakat sebagai sarana dakwah islam. Dengan menyediakan sarana dan prasarana yang bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari secara otomatis akan menjadi menarik perhatian masyarakat yang waktu itu mayoritas beragama Hindu beralih masuk Islam. Dua bidang yang dikuasai para wali songo saat itu adalah kebutuhan air dan pangan.


Sebagaimana kita tau, air merupakan sumber kehidupan di muka bumi. Ketersediaan air yang cukup merupakan faktor utama ketersediaan pangan. Agus Sunyoto dalam bukunya berjudul "Sunan Ampel Raja Surabaya", mengungkapkan tesis bahwa kebutuan air di tanah Jawa sangatlah penting karena mereka yang menguasai air dipandang telah melakukan dominasi atas masyarakat seutuhnya. Hal itu setidaknya dibuktikan dengan sejarah lahirnya kerajaan-kerajaan di Jawa sejak masa Airlangga membangun Kahuripan. Sedangkan di era kemunduran Majapahit setelah kematian Hayam wuruk, kebutuhan pokok masyarakat terhadap air menjadi terabaikan. Dibuktikan dengan terlantarnya bendungan-bendungan serta saluran irigasi. Tidak adanya perawatan seringkali memicu konflik antar petani dalam hal pembagian air untuk sawah/ladang pangan mereka.

Kondisi sektor pengairan yang memprihatinkan itu kemudian menggugah Wali Songo untuk mengatasi problem tersebut. Dari situlah kemudian muncul inspirasi strategi dakwah islam yang sejalan dengan jalan perjuangan Rasulullah Saw. Dominasi yang dilakukan para wali atas sektor perairan ketika itu bukanlah sebuah bentuk dominasi yang otoritatif dan menindas. Akan tetapi dominasi yang diniatkan dan ditujukan sebagai salah satu jalan mensukseskan misi mulia menyebarkan islam di masyarakat yang saat itu masih banyak yang beragama Hindu-Budha.

Fakta sejarah di atas masih bisa kita saksikan saat ini. Setiap kali kita berziarah atau berkunjung ke tempat-tempat pemukiman peninggalan para wali, baik di Ampel Denta, Giri kedhaton, Sendang, Drajat, Bonang, Demak, Kudus, Muria, hingga Gunung Jati, kita akan menemukan adanya sumber air yang hingga saat ini masih dimanfaatkan masyarakat sekitar. Selain dilihat dari sisi keberkahan, peninggalan-peninggalan wali songo juga menyimpan nilai-nilai historis yang amat berharga.

Sejak abad ke-11, pedagang-pedagang muslim sudah menghuni pesisir utara pulau Jawa dalam bentuk koloni-koloni kecil. Ketika kekuatan maritim Majapahit mengalami kemunduran, hal itu berdampak pada perubahan arus perdagangan akibat adanya praktik penimbunan beras yang dilakukan oleh para borjuis (bangsawan dan pegawai-pegawai keraton) yang memegang kewenangan mengatur distribusi dan sirkulasi beras ke petani pedalaman.

Akibat dari penimbunan bahan pangan pokok tersebut adalah semakin lebarnya jurang kesenjangan sosial yang sangat tajam antara kaum borjuis yang diwakili oleh para bangsawan dan pegawai keraton yang korup dengan kaum proletar yang diwakili oleh rakyat petani di pedesaan. Tak beda jauh dengan kondisi negara kita sekarang, di mana yang para pejabat yang korup semakin kaya dan rakyat jelata semakin miskin dan tertindas.

Di tengah kondisi yang seperti itu, para pedagang muslim yang merupakan kelas menengah, oleh rakyat miskin dan tertindas dijadikan sebagai tumpuan harapan dalam perbaikan kualitas kesejahteraan hidup mereka. Akibat dari sistem sosial yang tidak fair dan konflik yang tak kunjung usai, masyarakat miskin menjadi semakin butuh akan pencerahan. Kondisi ini digunakan wali songo untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat sosial-transendental seperti anjuran tentang keutamaan infaq, sedekah, dan zakat dengan metode dakwah partisipatif.

Kesimpulannya, bahwa proses penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke 14-15 terutama Wali Songo salah satunya yaitu dengan menjadi pelopor penyediaan kebutuhan pokok masyarakat miskin. Strategi ini telah terbukti efektif sebagai cara membangun personal branding bagi masyarakat miskin. Hasilnya, banyak masyarakat pribumi yang berbondong-bondong memeluk agama islam. Rekaman sejarah tersebut sekaligus mengajarkan bahwa islam tidak hanya identik dengan ibadah-ibadah ritual semata. Umat islam juga harus punya kekuatan dalam bidang perekonomian agar bisa mandiri dan tidak dimonopoli oleh orang luar, di samping kekuatan ekonomi sangat dibutuhkan dalam proses dakwah islam secara berkelanjutan. (M. Haromain, NU Online)
Bagikan artikel via

facebook twitter gplus email