Kendeng dan Kesucian Alam yang Tercampakkan

Kita akrab dengan kata siti, shanti, santa, dan santo. Keempat kata itu menjadi lema dalam kamus pelbagai bahasa. Baik kata siti, shanti maupun santa dan santo bermuasal dari kata shanti, yang artinya damai atau suci. Ungkapan Om shanti shanti Om bermakna semoga damai atau kesucian dikaruniakan Tuhan. Nama orang siti dan shanti berarti orang (wanita) yang suci, misal Siti Fatimah dan Shanti Ambarukmi; sebutan santa atau santo bermakna orang (wanita atau lelaki) yang suci, misal Santa Maria dan Santo Agustinus.

Dalam budaya Jawa, tanah atau bumi dinamai siti, yang mengandung makna bahwa tanah atau bumi itu hakikatnya suci atau damai. Lebih jauh bisa dimaknai kelembutan atau keibuan (kefemininan). Maka upacara ritual tedhak siti (siten) berarti anak kecil menginjak kesucian atau kembali kepada keibuan.


Hal ini tak hanya di budaya Jawa. Mayoritas budaya di dunia juga menempatkan tanah atau bumi sebagai ibu atau wanita yang suci atau damai. Misal, budaya Yunani menyebut bumi atau tanah sebagai gaia, yang artinya ibu atau wanita. Orang Amungme di Papua juga menganggap gunung sebagai ibu yang berbaring, puncak gunung adalah kepala ibu. Demikianlah, tanah atau bumi itu bermakna suci, damai, lembut, dan feminin yang menghidupi dan menyuburi kehidupan makhluk terutama manusia.

"Kalau sekarang tanah atau bumi Kalimantan dikoyak, dirusak, dan dieksploatasi habis-habis berarti sekelompok manusia menghancurkan dan merusak kesucian, kedamaian, kelembutan dan kefemininan dong?!", teman saya bertanya. Saya cuma menjawab dengan senyum. "Kalau sekarang puncak Cartenz dikeruk habis-habisan sampai hilang pucuknya oleh perusahaan tambang raksasa berarti kita tengah menyaksikan pemenggalan kepala ibu orang-orang Amungme dong!", cetus kawan saya yang lain.

Saya cuma berdehem. "Ketika alam pegunungan kartz Kendeng dikeduk dan dikeruk buat pabrik semen, berarti kita tengah melihat penghancuran kesucian, kedamaian, keibuan atau kefemininan dong. Tegasnya, kita melihat kesucian atau kelembutan Kendeng sedang dicampakkan oleh segelintir orang.", tandas kawan saya yang lain lagi. Saya cuma tertunduk, hilang kata. "Kalau Mbok Patmi sampai mangkat memperjuangkan bumi Kendeng berarti dia sedang memperjuangkan dan membela kesucian, kelembutan, dan kedamaian yang menghidupi makhluk dong!, ujar kawan saya. Saya cuma bisa tengadah, memanjatkan doa seraya membatin: Duh Gusti, kini keserakahan yang mematikan kesucian dan kedamaian kehidupan sedang merajela?

Penulis: Prof. Djoko Saryono
Wikipendidikan
Back To Top