Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Literasi

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang memiliki budaya berpikir kritis-kreatif yang dibarengi dengan budaya membaca dan menulis yang baik, begitu ungkap Prof. Djoko Saryono dalam salah satu seminar Literasi di Ponorogo beberapa waktu lalu. Ungkapan tersebut mengisyaratkan akan adanya suatu hubungan yang sangat erat antara kemajuan peradaban suatu bangsa dengan budaya literasi masayarakat bangsa tersebut.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Indy Hardono, bahwa bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang membaca. Membaca mampu mengasah kepekaan rasa, meningkatkan nalar kritis, daya imajinasi, kreatifitas, menumbuhkan nilai-nilai positif, dan tentu saja membangun karakter pembacanya.

Sebagai bagian dari aktifitas literasi, membaca tidak sekedar bertujuan untuk mengerti arti kata, kalimat, atau alur cerita sebuah kisah. Lebih dari itu, membaca yang sebenar-benarnya membaca merupakan sebuah kegiatan olah rasa, membangkitkan kesadaran diri , dan mengasah kepekaan terhadap segala hal. Seperti misalnya membaca karya sastra yang mengandung unsur perpaduan antara rasa, refleksi dan fakta kehidupan


Pendidikan yang dibangun dengan budaya literasi yang kokoh, terbukti mampu melahirkan manusia-manusia hebat dengan tradisi literasi kuat yang membawa perubahan besar bagi bangsa kita. Sebut saja dua tokoh proklamator kita, Soekarno-Hatta. Sejarah mencatat, keduanya merupakan tokoh bangsa yang gila baca. Tidak hanya itu, tercatat banyak tulisan dan buku yang ditulis mereka dan membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Selain itu masih banyak tokoh-tokoh lain seperti Pramoedya Ananta Toer, Widji Thukul, dan lain-lain.

Islam sendiri telah mengajarkan kepada umat manusia akan pentingnya budaya literasi melalui wahyu pertama kitab suci Al-Quran berbunyi “iqra’” yang mengandung makna perintah membaca yang sekaligus pintu gerbang utama membangun kehidupan dan peradaban masyarakat, bangsa, dan umat manusia yang tidak hanya cerdas dalam kapasitas intelektual, tapi juga secara emosional dan spiritual-transendental.

Kokohnya budaya literasi suatu bangsa, menjadikan bangsa tersebut sebagai bangsa yang bijaksana dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Sebab mereka mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas. Tidak berpola pikir sempit dan dangkal. Sebuah masalah, tidak hanya dipandang dengan satu perspektif, namun dengan mutliperspektif, sehingga tidak mudah merasa jumawa dan menganggap adanya perbedaan dengan pihak lain di luar dirinya sebagai sebuah kesalahan.

Tingginya tingkat kepekaan dan kesadaran masyarakat suatu bangsa, merupakan indikator akan kuatnya budaya literasi bangsa tersebut. Mereka memiliki analisa diri (SWOOT) dan analisa sosial yang kuat. Bangsa dengan literasi yang kokoh, tidak mudah termakan dan menyebarluaskan informasi hoax melalui berbagai media sosial.

Literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis teks, namun juga tentang kelisanan. Bangsa yang memiliki budaya literasi tinggi, mampu bertutur kata secara santun, sistematis, dan mendalam. Sebab mereka berfikir dulu sebelum berbicara. Tidak mudah terhanyut dalam pembicaraan dan perdebatan tanpa manfaat. Setiap kata dan kalimat yang diucapkan dan dituliskan, merupakan manifestasi dari proses perenungan tentang makna “iqra” sebagaimana penjelasan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah yang bermakna menghimpun, mengamati, merenungkan, dan merefleksikan teks dan konteks.

Apabila kemudian memperhatikan konteks pendidikan kita saat ini, adanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang merupakan salah satu program dari kurikulum 2013 sebagai kurikulum terbaru berbasis karakter, menjadi semacam langkah kecil membangun karakter bangsa melalui kegiatan pembudayaan literasi melalui lembaga pendidikan sekolah. Dengan istilah lain, Gerakan Literasi Sekolah adalah embrio pengembangan kurikulum pendidikan karakter bangsa berbasis literasi.

Karakter dan literasi diperlukan dalam setiap jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai profesor sekalipun. Dengan dikembangkannya pendidikan karakter bangsa berbasis literasi, maka kegiatan literasi yang meliputi membaca, menulis, olah rasa, dan berpikir kritis-kreatif tidak sekedar anjuran, namun kewajiban bagi seluruh civitas akademika yang meliputi siswa, guru, orang tua, masyarakat, dan semua warga sekolah.
Wikipendidikan
Back To Top