6 Alasan Logis Mengapa Kita Harus Tetap Optimis dengan Gaji Minimalis

Problem kehidupan yang kita hadapi saat ini semakin sulit dan kompleks. Salah satu kesulitan yang dihadapi mayoritas masyarakat kita adalah lapangan pekerjaan. Semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat sebagian banyak orang jadi penganggruan. Di antara faktor penyebabnya adalah ketersediaan lapangan kerja yang tidak seimbang dengan jumlah pencari kerja. Lapangan kerjanya terbatas, sementara pencari kerjanya terlampau banyak. Maka jangan heran kalau sekarang banyak yang menghalalkan cara haram demi mendapatkan pekerjaan, seperti misalnya makan teman sendiri dan gratifikasi.

Prospek kerja dari jurusan kuliah pun tak selamanya bisa diandalkan. Terlebih lagi bagi freshgraduate seperti saya, pengangguran merupakan label yang sepertinya paling pas disematkan. Uniknya, orang Indonesia bisa bekerja di tempat dan jenis pekerjaan yang sama sekali gak nyambung dengan latar belakang pendidikan dan bidang keahliannya. Saking kebeletnya pengen dapat kerja, suap pun hal biasa. Penerimaan kerja bukan berdasarkan atas skill dan bidang keahlian si pelamar, akan tetapi karena punya duit dan orang dalam.


Sementara bagi mereka yang jujur dan anti suap, seringkali harus rela menerima penolakan. Sisanya, mereka yang bersedia kerja apa saja, seringkali harus menerima kenyataan dengan melakukan pekerjaan yang tidak linier dengan jurusan pendidikannya semasa kuliah. Misalnya seperti saya sendiri, S1 jurusan Pendidikan Agama Islam malah jadi penjahit. Karena bagi saya menjadi guru itu panggilan jiwa, bukanlah sebuah pekerjaan yang menuntut adanya gaji. Dan sampai sekarang jiwa saya belum terpanggil untuk hal itu. Buat yang sudah terjun jadi guru honorer, ada baiknya membaca tulisan saya tentang 6 Kunci Sukses Membuka Usaha Kursus Menjahit sebagai cara mendapatkan penghasilan sampingan.

Memilih dan melakoni pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan bukanlah sebuah masalah dan sesuatu yang negatif, daripada memaksakan diri bekerja sesuai jurusan kuliah dulu tapi tidak sepenuh hati. Meskipun ada saja orang yang mencibir, tetap dibawa santai saja. Prinsipnya sederhana, apa pun pekerjaan yang saya lakukan dan seminim apa pun gajinya, setidaknya saya bukan pengangguran dan tidak merugikan banyak orang.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang dengan seiring berjalannya waktu kemudian tumbuh perasaan malu dan minder di hatinya. Rasa percaya diri pun semakin terkikis, ibarat daun muda yang digerogoti ulat, akibat masa depan yang masih saja terlihat suram alias madesu.

Pikiran tentang pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi pasti ada dalam benak sebagian besar orang. Dan sebagian besar orang pasti memilih pekerjaan yang sesuai dengan latar ijazahnya. Atau jika tidak, sesuai dengan passionnya. Sebab ijazah seseorang tidak selalu mencerminkan passionnya. Seperti saya yang ijazahnya guru PAI, namun sampai sekarang dalam diri saya sepertinya belum tumbuh jiwa seorang pendidik. Karena dari awal kuliah sudah merasa salah pilih jurusan, makanya sampai lulus pun tidak terpikirkan mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah saya.

Belum menemukan pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan passion dengan gaji yang memuaskan bukan berarti kita harus pesimis dan putus asa. Bisa jadi di masa-masa seperti inilah kesabaran dan kelapangan dada kita diuji. Ada banyak alasan yang membuat kita mau tidak mau harus menerima dengan lapang dada seberapa minim pun gaji yang kita terima. Inilah alasan mengapa kita musti tetap optimis meskipun gaji masih nipis.

1. Setidaknya kita bukanlah pengangguran

Meskipun gaji masih nipis, kita masih memiliki pekerjaan. Di luar sana, ada ribuan, bahkan jutaan orang yang masih belum mendapatkan pekerjaan. Ingat dan renungkan pula saat-saat di mana kita berjuang mendapatkan pekerjaan kita dulu. Sampai dengan pencapaian kita saat ini, tentu sudah banyak pengorbanan dan perjuangan yang kita lakukan. Hiasilah pekerjaan yang kita jalani saat ini dengan optimisme dan rasa syukur. Meskipun upah yang kita terima masih jauh di bawah upah karyawan pabrik yang tingkat pendidikannya di bawah kita, tetaplah optimis dan percaya diri. Setidaknya kita punya wawasan dan jaringan yang luas, serta pola pikir dan tujuan hidup yang tidak kerdil.

2. Percaya diri, roda kehidupan terus berputar

Kita harus selalu yakin bahwa roda kehidupan ini terus berputar. Dengan tidak berhenti berusaha dan berdoa, tentu tidak akan selamanya kita berada di bawah. Dengan kerja keras dan cita-cita yang tinggi, kita akan terbang ke atas layaknya burung yang terbang dengan kedua sayapnya.

Sebagaimana pesan Abu Thayyid dalam kitab Ta’lim Muta’alim: “Sesuatu yang kecil akan terlihat besar bagi orang-orang yang bercita-cita kecil. Dan sesuatu yang besar akan terlihat kecil bagi orang-orang yang bercita-cita besar.”

Terus belajar memahami dan menganalisis hal-hal baru. Dengan bantuan ponsel dan internet, kita dapat mempelajari banyak hal baru dan bermanfaat. Hilangkan rasa malas dan menyianyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Belajarlah untuk menilai dan melakukan segala sesuatu dengan pikiran positif.

3. Yakinlah, rezeki kita sudah diatur

Allah Maha Tahu atas segala hal tentang hamba-Nya. Jatah rezeki setiap manusia sudah ditentukan sejak ditiupkannya ruh ke dalam janin. Rezeki tidak hanya tentang uang, perhiasan, mobil, atau rumah mewah. Semua yang kita peroleh dan bermanfaat bagi kita di dunia ini merupakan rezeki, seperti misalnya kesehatan jiwa dan raga, anak yang berbakti, istri shalihah, dan lain sebagainya. Setiap orang sudah ditentukan jalan untuk menjemput rezekinya. Dan ketahuilah, bahwa jalan rezeki masing-masing orang tidak akan pernah tertukar. Bila saat ini gaji kita masih rendah, tetap optimis saja. Mungkin bagi Allah itulah yang terbaik untuk kita. Belajarlah mengambil hikmah dari setiap kejadian dan kenyataan yang buruk atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

4. Tak ada kesuksesan yang bisa dibangun semalam

Semua butuh proses, waktu, perjuangan, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Optimis dan percaya diri adalah pintu yang selalu terbuka untuk kita berjalan maju. Sementara pesimis adalah sama halnya kita menutup pintu itu. Terus belajar dan bersyukur. Meskipun saat ini kita harus bersusah payah bekerja dan hanya mendapatkan hasil yang tidak seberapa, tidak apa-apa. Anggap saja itu merupakan bagian yang harus kita lalui dari kisah perjalanan menuju kesuksesan.

5. Setidaknya kita masih bisa menikmati kehidupan yang layak

Selama kita masih memiliki penghasilan yang meskipun minim tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan mendasar kita sebagai manusia, tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur. Rubahlah cara pandang kita tentang hidup yang barangkali selama ini lebih banyak melihat ke atas daripada ke bawah. Berhentilah membandingkan kondisi hidup kita saat ini dengan kondisi kehidupan orang lain yang berada di atas kita. Sering-seringlah melihat ke bawah, masih banyak orang di luar sana yang mendambakan keadaan hidup seperti yang kita alami.

6. Belajar mengatur keuangan secara bijak

Gaji yang pas-pasan dengan kebutuhan hidup yang terus menuntut untuk dipenuhi, mengharuskan kita untuk cerdas dalam mengatur keuangan. Dengan kondisi demikian, kita akan lebih peka dalam membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Di sinilah kita belajar hidup mandiri dengan dituntut untuk mampu menentukan skala prioritas, terutama dalam hal kebutuhan hidup yang membutuhkan pengeluaran.

Closing statement...

Hidup ini adalah ujian dan pilihan. Bila setelah lulus SD kita diuji dengan kebingungan menentukan pilihan sekolah lanjutan, setelah lulus SMA kita diuji dengan kebingungan memilih perguruan tinggi dan jurusan kuliah, atau mungkin dihadapkan pada kebingungan untuk memilih apakah harus melanjutkan kuliah, bekerja, atau menikah. Begitu pula ketika kita telah lulus kuliah, pilihannya semakin sulit. Pengen nikah tapi belum punya modal dan penghasilan, ada lowongan pekerjaan tapi tidak sesuai dengan bidang keahlian atau jurusan semasa kuliah, mau nganggur di rumah malu sama orang tua, mau berwirausaha tidak punya modal, dan masalah-masalah lain di mana kita tidak punya pilihan lain selain menghadapinya. Dan tak ada cara menghadapi selain dengan senantiasa optimis, bersabar, bersyukur, terus berusaha, berdoa, dan mengambil hikmah atau nilai positif dari setiap permasalahan yang ada.
Wikipendidikan
Back To Top