Senin, 03 April 2017

Menjadi Penulis yang Bertanggung Jawab di Era Literasi Informasi

Tidak sesederhana yang dibayangkan bahwa menulis itu mudah. Bahkan ada yang bilang menulis itu asyik. Memang benar! Menulis itu mudah dan asyik, namun bagi mereka yang sudah terbiasa menulis. Bagi yang belum terbiasa, tentu jadi masalah besar.

Membuat kalimat pembuka saja sulitnya bukan main, apalagi merangkai satu paragraf ke paragraf berikutnya. Tentu, membutuhkan teknik berlatih dan cara tersendiri.

Di tengah arus informasi sophisticated ini, setiap orang dengan mudahnya meng-upload tulisan dan menjadi berita bagi lainnya. Di sinilah perlu dan pentingnya remaja dididik untuk bisa menulis yang baik dan benar.


Banyak model dan karakter tulisan. Mulai dari artikel opini, essay, feature, tulisan ilmiah sampai free writing yang belakangan marak di media sosial.

Menulis itu punya tujuan yang berbeda-beda. Ada orang menulis karena ingin kaya, setelah membaca karya-karya JK Rowling atau Asma Nadia misalnya. Ada yang menulis karena ingin menulis. Tak pernah berpikir honor dan lain sebagainya. Ada juga orang menulis karena diminta menulis untuk sebuah proyek tertentu misalnya biografi dan lain sebagainya.

Menulis tidak hanya sekedar menulis tapi lebih dari itu berlatih tanggung jawab. Jika sekedar menulis, setiap hari kita menulis di WA, FB, Twitter dll. Namun, menulis yang bertanggung jawab itu mengandung makna yang baik dan benar. Artinya tulisan itu baik dan bermanfaat bagi pembacanya, menginspirasi, memotivasi dan menggerakkan. Benar artinya tulisan itu disampaikan dengan kejujuran tinggi dan fakta yang ada alias bukan hoax (tulisan palsu/bohong).

Menulis itu tanggung jawab. Karena tanggung jawab, maka menjaga ritme dan mood menulis pun harus tetap dijaga. Jangan sampai ketika lagi tidak mood menulis, kita paksa menulis. Demikian juga sebaliknya, ketika lagi bagus mood-nya jangan hanya menulis cuma satu catatan saja. Harus lebih!

Lalu, bagaimana caranya agar mood tetap terjaga baik? Ketika mood tidak baik, kita bisa mengisinya dengan jalan-jalan dan nonton film. Jika sudah fresh, maka mulai menulis lagi. Inilah yang disebut menulis dengan metode "ngemil" yaitu dituangkannya sedikit-sedikit sampai jadi tulisan utuh dan "mengenyangkan" pembaca.

Semakin lama kita menggeluti dunia kepenulisan, akan memberikan kita pelajaran dan pengalaman sangat berarti. Dari tahun ke tahun, karya tulis yang kita hasilkan terus berkembang lebih baik lagi.

Dari sini pulalah kita bisa berteman dan berinteraksi dengan banyak orang. Lewat tulisan, kita bisa punya banyak jaringan. Lewat tulisan pula kita jadi punya "banyak simpanan karya" yang bisa "berbicara" sesuai dengan konteks zamannya.

Terkadang kita bisa tersenyum dan tertawa geli membaca tulisan-tulisan kita sendiri yang usianya hampir mendekati 1 generasi. Barangkali kita berpikir, kok bisa-bisanya saya dulu menulis selucu dan seaneh itu.

Bersyukurlah, ketika kita bisa terus menulis dan berbagi. Sehingga, suatu saat nanti bisa menjadi "kendaraan" untuk keliling dunia lewat tulisan.

Jika badan bisa terkubur dengan tanah, tulisanlah yang akan menghidupkan dan membuat kita abadi.

Sumber: Abdul Muid Badrun, dalam "Kursus Jurnalistik" yang disampaikan di Organisasi Santri Putri Pondok Pesantren Modern Walisongo Ngabar Ponorogo (OSWAS), Sabtu, 25 Maret 2017.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top