7 Rahasia yang Harus Anda Temukan dalam Diri Pasangan

Maha Besar Allah, yang menciptakan manusia secara berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan ada perempuan. Keduanya saling melengkapi kekurangan dan saling membutuhkan satu sama lain. Mereka menyatu melalui ikatan suci bernama pernikahan. Ya, pernikahan merupakan sebuah sarana bagi laki-laki dan perempuan untuk berjalan bersama-sama meraih kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat.

Ketika aqad suci pernikahan telah terucap, sejak itu pula keduanya telah melengkapi separuh agamanya. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri, layaknya seekor merpati yang telah mendapatkan kembali sayapnya yang patah.

Islam sebagai agama yang paling sempurna, memberikan petunjuk mengenai cara memilih pasangan yang tepat agar tidak memunculkan penyesalan dan penderitaan di kemudian hari. Islam memerintahkan agar memilih pasangan yang baik agamanya menjadi prioritas utama, di samping kecantikan, kekayaan, dan nasab/keturunan.


Mengapa harus memilih pasangan yang baik agamanya? Jelas, bahwa pasangan yang baik agamanya baik pula dalam sikap dan perilakunya. Dia akan bersikap dan berlaku sopan, santun, menghargai, menghormati, dan berjuang dengan sepenuh hati membahagiakan pasangannya.

Sebelum memasuki jenjang pernikahan, setiap orang pasti menetapkan standar atau kriteria-kriteria tertentu terhadap pasangannya. Akan tetapi, seringkali orang kecewa setelah benar-benar mengarungi bahtera rumah tangga karena harus menghadapi kenyataan bahwa kriteria-kriteria yang diharapkan sebelumnya ternyata tidak dia temukan atau hilang dari diri pasangannya.

Memang secara naluriah, manusia menyukai hal-hal yang sesuai dengan dirinya dan tidak sesuai dengan dirinya. Termasuk dalam memilih pasangan, orang seringkali menetapkan kriteria pasangan yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya atau sesuai dengan harapan dan keinginan hatinya. Padahal bisa jadi dibalik sesuatu yang kita anggap baik justru tersimpan keburukan yang dapat merugikan diri kita sendiri. Begitu pula sebaliknya, dibalik sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi tersimpan kebaikan yang amat besar bagi diri kita.

Bagi anda yang merasakan bahwa pasangan anda tidak sesuai dengan kriteria pasangan yang dulu anda harapkan, sudah saatnya anda merenung sejenak untuk menjernihkan hati dan pikiran dari rasa kecewa dan pikiran-pikiran buruk yang menjauhkan dari kebahagiaan. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang terlewat untuk anda sadari dari pasangan anda dan hubungan yang anda jalin dengannya. Terinspirasi dari sebuah tulisan Muhammad Noer, inilah 7 hal yang harus anda temukan dan anda sadari dari diri pasangan anda dan hubungan anda dengannya.

Pertama, Anda dan pasangan anda adalah dua insan manusia yang memiliki kekurangan masing-masing. Pernikahan merupakan wadah yang tidak hanya menyatukan dua insan manusia beserta kelebihannya, tetapi juga kekurangannya. Oleh karena itu, dalam berlayar mengarungi bahtera rumah tangga tidaklah mudah. Pasti ada banyak hal yang menimbulkan gesekan dan konflik sebagai akibat dari perbedaan karakter masing-masing, perbedaan dalam sisi kelebihan maupun kekurangannya. Dari sinilah, anda harus menemukan kesadaran bahwa pernikahan adalah peluang sekaligus tantangan bagi anda dan pasangan untuk saling menghargai, memahami, dan bekerjasama dalam rangka saling melengkapi dan memperbaiki kekurangan satu sama lain.

Kedua, Sadarilah bahwa pasangan kita tetap seorang individu yang mempunyai kebiasaan, sifat, dan karakter unik. Meskipun sekarang kita telah membangun rumah tangga dengannya, tidak lantas membuat seluruh karakter, sifat, dan kebiasaannya menjadi lebur dan sejalan dengan standar yang kita inginkan. Mungkin ada beberapa sisi yang bisa kita pengaruhi. Namun perbedaan yang ada dalam diri kita dan pasangan kita harus tetap kita hargai.

Ketiga, Sadarilah bahwa anda adalah manusia biasa yang jauh dari sifat kesempurnaan. Begitu pula dengan pasangan anda, dia juga bukan sosok manusia sempurna yang tindakannya selalu benar di mata kita dan selalu melakukan hal-hal yang kita sukai, sama sekali bukan! Ketika anda telah menemukan kenyataan tersebut, yang harus anda lakukan adalah memupuk sifat pemaaf yang diiringi dengan terus berjuang dan berusaha memperbaiki setiap hal yang seharusnya harus diperbaiki.

Keempat, Apa yang kita sukai belum tentu baik untuk kita dan apa yang kita benci belum tentu buruk untuk kita. Bisa jadi, adanya beberapa hal yang tidak kita sukai dari pasangan kita adalah cara Allah dalam mendidik kita agar lebih sabar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Kelima, Terkadang banyak hal-hal sepele yang bisa memicu masalah besar dalam kehidupan rumah tangga. Perbedaan latar belakang pendidikan, lingkungan, dan kebiasaan merupakan faktor yang menjadi penyebab munculnya perbedaan karakter masing-masing. Dengan demikian, harus ditumbuhkan sikap saling memahami dan kemudian secara bersama-sama merumuskan perbedaan yang masih bisa disatukan.

Keenam, Pasangan kita memiliki peran sebagai sosok yang menguji sekaligus membantu kita mengevaluasi diri. Ketika kita telah berani berkomitmen untuk hidup bersamanya, maka secara otomatis kita dituntut harus mampu hidup dalam perbedaan-perbedaan yang ada dan bersabar terhadap segala keadaan yang mungkin tidak kita sukai.

Ketujuh, Hidup itu butuh pengorbanan, dan membangun ikatan pernikahan bersama pasangan juga membutuhkan banyak pengorbanan. Terkadang suami yang harus berkorban untuk istri dan istri harus berkorban untuk suami. Terkadang kita harus berkorban untuk dapat memahami pasangan yang tidak dapat memahami kita. Kita perlu mengorbankan egoisme diri, dan berusaha bersabar dalam rangka membina hubungan saling pengertian. Mungkin pada awalnya kita harus menjadi pihak yang mengalah. Namun harus optimis bahwa lambat laun akan tercipta hubungan saling memahami.

Belajarlah dari pasangan anda, mengapa dia berbuat sesuatu yang tidak kita sukai dan kita inginkan. Seiring dengan berjalannya waktu, dengan ketekunan dan kesabaran dalam memahaminya, kita akan memperoleh pelajaran hidup yang sangat berharga tentang mengapa Tuhan memilih dia sebagai pasangan kita, bukan orang lain.
Wikipendidikan
Back To Top