Sesungguhnya Manusia Benar-benar Melampaui Batas Ketika Melihat Dirinya Mampu

“Hati-hatilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas apabila ia melihat dirinya mampu.” (Q.S Al-‘Alaq: 5-6)

Wikipendidikan - Pada hakikatnya, manusia memiliki fitrah sebagai makhluk sosial, makhluk yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa melibatkan yang lain. Akan tetapi, terkadang manusia kehilangan kesadarannya sebagai makhluk sosial akibat tumbuhnya rasa kepemilikan dan kecukupan yang dibalut dengan kesombongan. Sikap tersebut, tak jarang memunculkan tindakan kesewenang-wenangan terhadap makhluk lain. Saat itulah manusia benar-benar melampaui batas.

Ilustrasi nu.or.id
Kutipan ayat di atas dalam Tafsir Al-Misbah dijelasan bahwa pada umumnya manusia benar-benar melampaui batas ketika ia menganggap, merasa, dan melihat dirinya mampu, serba cukup, dan tidak membutuhkan pihak lain, baik sesama manusia, hewan, alam, bahkan Tuhan.

Istilah “melampaui batas” dalam konteks ayat di atas secara umum bermakna sikap dan perbuatan-perbuatan yang keluar/melanggar batas-batas syari’at seperti kekufuran, berbuat dzalim terhadap sesama, dan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah lainnya.

Manusia melampaui batas karena mereka merasa memiliki kecukupan dan kemampuan (sense of belonging). Tidak hanya dalam hal harta benda, namun juga termasuk ilmu pengetahuan, jabatan, kekuatan fisik, dan sebagainya. Di samping itu, meskipun seseorang tidak memiliki banyak harta atau ilmu, bisa saja mereka berbuat sewenang-wenang terhadap sesama karena merasa tidak membutuhkan orang lain.

Sikap seperti itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dan karena itu, Al-Quran mengkategorikan sikap tersebut sebagai bagian dari potensi negatif yang terlarang. Padahal, dalam ayat 2 surat Al-‘Alaq dengan jels disebutkan bahwa manusia diciptakan dari ‘alaq yang artinya “sesuatu yang bergantung pada sesuatu”, sesuatu yang bergantung kepada dinding rahim orang lain (ibu) dan bergantung kepada Allah SWT pastinya.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar ketika menafsirkan ayat di atas mengungkapkan bahwa ayat itu merupakan bentuk peringatan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sendiri sebagai bekal dalam menjalankan tugas beratnya sebagai seorang utusan Allah. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau akan menghadapi manusia-manusia yang pada umumnya memiliki kecenderungan sifat yang buruk ketika mereka merasa dirinya telah mampu dan berkecukupan dalam kekayaan harta-benda atau dihormati dan disegani banyak orang

Perasaan cukup membuat manusia merasa tidak merasa butuh terhadap nasehat dan pelajaran baik dari orang lain. Mereka tidak sadar bahwa kematian sewaktu-waktu bisa datang dengan tiba-tiba. Dan ketika saat itu telah datang, harta dan kedudukan yang mereka sangka mampu mencukupi segalanya ternyata tak lagi dapat diandalkan untuk menghalangi kematiannya.

Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. M. Quraish Shihab mengutip pendapat Muhammad Baqir ash-Shadr yang menilai ayat di atas (Q.S Al-‘Alaq: 6-7) sebagai salah satu ayat yang menjelaskan tentang hukum sejarah dan kemasyarakatan.

Dalam ayat tersebut, dijelaskan tentang implikasi dari korelasi antara manusia dengan alam (hablun min al ‘alam) terhadap relasinya dengan sesama manusia.

Muhammad Baqir ash-Shadr, seiring dengan berkembangnya kemampuan manusia dalam mengelola alam, semakin bertambahnya kemampuan menciptakan dan menguasai alat-alat produksi, dan semakin bertambahnya kekayaan yang mereka miliki, maka semakin bertambah dan berkembang pula potensi negatif manusia berupa keinginan dan ambisi untuk berbuat sewenang-wenang dan mengeksploitasi sesama manusia lainnya.

Pendapat di atas, menurut Muhammad Baqir ash-Shadr, setidaknya dibuktikan dengan perbandingan antara gaya hidup masyarakat primitif dan modern.

Masyarakat primitif bertahan hidup dengan cara berburu. Mereka berburu dengan alat-alat buruan yang sederhana dan tradisional. Dalam corak masyarakat seperti itu, tak ada kemampuan atau ambisi untuk melakukan kesewenang-wenangan terhadap sesamanya. Mengapa? Karena keterbatasan alat produksi yang mereka miliki tidak memicu dorongan dalam diri mereka untuk melakukan penindasan atau kesewenang-wenangan terhadap pihak lain.

Berbeda dengan masyarakat modern, di mana mereka memiliki kemampuan sangat luas untuk menciptakan alat-alat produksi yang canggih untuk mengelola bahkan mengeksploitasi alam. Kemampuan tersebut, pada gilirannya menumbuhkan dorongan dalam diri mereka untuk melakukan tindak kesewenang-wenangan terhadap alam dan manusia lainnya.

Jelaslah bahwa, alat-alat canggih yang diciptakan manusia berkontribusi dalam menumbuhkan benih-benih potensi negatif berupa sikap dan tindakan-tindakan melampaui batas dalam diri manusia. Membuat manusia lupa akan kesejatian dirinya sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya tanpa adanya peran dan bantuan dari orang lain, alam, dan Tuhan pastinya. Di luar kesadaran itu, manusia benar-benar melampaui batas.
Wikipendidikan
Back To Top