Literasi Visual dalam Pendidikan

Wikipendidikan - Istilah Literasi Visual pertama kali dipopulerkan oleh John Debes, founder IVLA (International Visual Literacy Association) pada tahun 1969. Menurut Debes, Literasi visual kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menginterpretasikan tindakan, objek, dan atau simbol-simbol visual, baik yang alami atau buatan. Dalam istilah lain, literasi visual adalah kemampuan menafsirkan, berdialog, dan membentuk mankna dari suatu informasi yang disajikan dalam bentuk visual.

Brian Stonehill mendefinisikan Literasi visual sebagai seperangkat kemampuan/skill yang diperlukan dalam proses menginterpretasikan materi-materi atau objek yang hadir dalam bentuk visual atau audio-visual agar menjadi sebuah pengetahuan baru yang dapat dipahami. Literasi visual merupakan bentuk perluasan makna dari literasi yang pada umumnya diartikan sebagai kemampuan menginterpretasikan teks tertulis. Literasi visual didasarkan pada prinsip bahwa objek visual (non-teks) dapat dibaca.

Ilustrasi literasl visual via facebook
Read dan Smith (1982) mendefinisikan Literasi visual sebagai kemampuan individu untuk mengenali penggunaan bentuk, garis, dan warna sehingga dengan kemampuan itu ia bisa menginterpretasikan tindakan, mengenali objek, dan memahami pesan yang disampaikan dalam bentuk lambang visual.

Meskipun munculnya istilah literasi visual tergolong baru, akan tetapi proses penumbuhan dan penguatan daya literasi visual kita sudah dimulai sejak adanya pelajaran menggambar di sekolah. Di TK atau SD, kita pasti menjumpai pelajaran menggambar. Itulah langkah awal untuk menumbuhkan literasi visual dalam diri kita. Implementasi literasi visual dalam proses belajar mengajar untuk anak-anak terwujud dalam penggunaan beraneka ragam media pembelajaran visual oleh guru untuk memudahkan dalam penyampaian materi dan menarik perhatian siswa, terutama pada anak-anak kelas 1 SD. Penggunaan media pembelajaran visual seperti buku-buku bergambar dengan topik-topik tertentu seperti buah-buahan, sayur-sayuran, nama-nama hewan, gambar praktik shalat, dan sebagainya sangat baik untuk mengasah literasi visual anak sejak dini.

Saat sekarang ini, peserta didik hidup tengah masyarakat dan lingkungan sosial yang begitu banyak pesan-pesan dan informasi yang hadir dalam bentuk visual. Marka jalan, rambu-rambu lalu lintas, atau penunjuk arah jalan merupakan sebagian dari informasi yang disajikan dalam bentuk visual. Agar seseorang dapat membaca dan menafsirkannya dengan benar, di sinilah literasi visual dibutuhkan. Melihat kenyataan ini, sudah semestinya sekolah-sekolah mengajarkan materi tentang literasi visual kepada anak didiknya supaya mereka memiliki dayatangkap dan nalar kritis terhadap data dan informasi visual.

Mengapa literasi visual sangat penting untuk siswa? Sebab saat ini kita berada di era informasi. Setiap harinya kita dihujani informasi dan data yang tersaji melalui media cetak dan media elektronik. Ironisnya, sangat sedikit masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menangkap pesan-pesan visual dalam dua media tersebut secara kritis dan merekonstruksinya menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat.

Bila dipandang dari kajian kritik ideologi setiap objek visual mengandung nilai atau pesan ideologis yang mewakili ideologi individu atau kelompok tertentu yang berkepentingan. Objek visual sengajar dibuat menarik untuk mengkampanyekan ideologi mereka agar menarik perhatian kahalayak. Dengan demikian, sebuah objek visual tidak terlahir dari ruang hampa dan bebas dari nilai tertentu.

Contohnya banyak, mulai dari gambar reklame, iklan di koran dan TV, gambar dalam buku, situs internet, gambar logo perusahaan atau lembaga pendidikan, sampai logo negara dan organisasi-organisasi baik lokal, nasional, sampai internasional. Gambar burung garuda yang merupakan lambang dari negara kita juga berisi pesan yang menggambarkan ideologi bangsa Indonesia.

Literasi visual semakin menemukan urgensinya, ketika saat ini kita dihadapkan pada realitas semakin menjamurnya informas hoax yang sengaja dihadirkan dalam bentuk visual. Tersedianya aplikasi-aplikasi editing foto dan gambar di perangkat android maupun photoshop dan corel draw di windows, di satu sisi memang bermanfaat dan di sisi lain berpotensi negatif bila digunakan oleh orang yang salah untuk tujuan yang salah pula.

Dalam proses pembelajaran, literasi visual dibutuhkan untuk menginterpretasikan materi yang disampaikan oleh guru dalam bentuk gambar atau video. Materi yang disajikan yang diajarkan dengan media pembelajaran video atau gambar visual, dipandang lebih efektif dalam meningkatkan daya serap siswa. Sebab pada hakikatnya objek visual dapat dibaca sebagaimana rangkaian kata-kata tertulis.

Kurikulum pendidikan kita yang terbaru menuntut para pendidik untuk menguasai literasi visual. Dalam hal ini, literasi visual merupakan hasil perpaduan antara literasi media dan literasi teknologi. Media dalam bentuk gambar dan suara merupakan produk yang dihasilkan oleh penggunaan alat-alat teknologi digital. Ketiga macam literasi ini merupakan bekal yang harus dimiliki oleh pendidik di abad 21. Mengomunikasikan materi ke dalam format media pembelajaran visual tentu tidak akan efektif ketika peserta didik tidak mempunyali literasi visual. Dalam bahasa ilmu komunikasi, harus terjadi kesepahaman antara penyampai pesan (sender), isi pesan (materi), dan penerima pesan (receiver).

Di tangan para guru yang melek literasi visual, setiap peserta didik tidak hanya berperan sebagai konsumen pasif produk-produk visual, akan tetapi mereka juga mampu menganalisa, mengkritisi, bahkan menciptakan objek-objek visual dengan bantuan alat-alat teknologi dan software di dalamnya.

Infografis merupakan salah satu contoh yang dihasilkan dari perpaduan antara literasi visual, literasi media, literasi teknologi, dan literasi informasi. Di dalam sebuah infografis, informasi disajikan secara indah dan kreatif dengan balutan icon dan background visual yang menarik. Tentu saja penyajian informasi dalam bentuk infografis lebih menarik dibandingkan dengan tulisan panjang lebar. Hanya saja, untuk bisa membuat infografis yang benar-benar menarik dibutuhkan kekuatan perpaduan literasi sebagaimana tersebut di atas.

Penggunaan Media Sosial dalam Pembelajaran Literasi Visual

Tak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan saat ini tidak bisa terlepas dari peran teknologi informasi dan komunikasi. Baik siswa maupun guru, menerima banyak manfaat dan keuntungan dari media sosial ke dalam proses belajar mengajar. Seperti pembuatan halaman Facebook sekolah untuk menghubungkan siswa dengan guru dan para, membuat grup WhatsApp kelas, dan sebagainya.

Media sosial telah berperan sebagai sebuah media belajar dan komunikasi. Sifat media sosial yang sangat linguistik memungkinkan kita menciptakan dan mengkonsumsi gagasan dan informasi dengan lebih mudah. Penggunaan teknologi abad 21 yang efektif mengharuskan kita tidak hanya ahli dalam komunikasi tekstual, tetapi juga mampu mengekspresikan diri dan menafsirkan gagasan orang lain melalui literasi visual.

Literasi visual mencakup kemampuan untuk memproses dan memaknai informasi yang disajikan dalam gambar, mengomunikasikan gagasan pribadi melalui prinsip desain grafis, dan kemampuan membuat pesan yang merupakan representasi pemikiran visual kita dengan jalan mengkonseptualisasikan masalah guna memberikan solusi atas masalah tersebut.

Pentingnya keaksaraan visual untuk siswa di kelas berdasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa siswa mendapatkan pemahaman konsep yang lebih dalam saat mereka didorong dan diaktifkan untuk menciptakan representasi nonlinguistik dari konsep itu. Bila dikaitkan dengan bahasa linguistik - atau berbasis teks - keaksaraan, keaksaraan visual atau literasi visual dapat melipatgandakan kemampuan siswa untuk mengingat dan memikirkan apa yang telah mereka pelajari. Ini sama halnya konsep Mind Map milik Tony Buzan.

Emoji atau emoticon yang sering digunakan dalam pesan teks, misalnya, memiliki potensi luar biasa untuk digunakan dalam mengarahkan siswa untuk berkomunikasi secara efektif melalui desain visual. Pada tingkat yang paling dasar, orang menggunakan Emoticon untuk menggambarkan emosi mereka. Kita menentukan pesan yang ingin kita bagikan dan kemudian mengevaluasi keefektifan penggunaan simbol saat melakukannya.

Media sosial telah memberikan dampak besar dalam pengalaman pendidikan dan duniawi yang dimiliki siswa kami. Dari Facebook ke Twitter dan Instagram dan seterusnya, siswa telah secara aktif terlibat dalam lingkungan online di mana mereka dapat mengekspresikan pemikiran dan pendapat mereka agar diketahui setiap orang.

Keaksaraan visual adalah bentuk di mana siswa dapat mengekspresikan gagasan yang merangkum pemikiran mereka dan menyebarluaskannya kepada orang lain. Penggunaan literasi visual mendukung kemampuan siswa untuk mengingat informasi dan memungkinkan mereka untuk mempresentasikannya kembali dengan cara yang menarik.

Kita semua adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam komponen literasi visual. Mulai dari kegiatan mengambil dan mengedit gambar di Instagram untuk dibagikan dengan keluarga dan teman-teman yang jauh, menggunakan emoticon dalam percakapan dengan teman-teman.

Dunia di mana anak-anak kita sekarang tinggal sangat dipengaruhi oleh permainan video, media sosial, televisi, dan banyak lagi. Media sosial tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak. Terbukti saat ini telah banyak siswa yang memiliki facebook dan instagram, dan juga ponsel dan ipad untuk memungkinkan mereka mengakses situs-situs tersebut.

Di beberapa sekolah di luar negeri, para guru mencoba menggunakan lebih banyak teknologi di dalam kelas. Sekolah tersebut membangun situs web yang mirip dengan facebook, sehingga semua guru dan siswa menjadi anggota di web tersebut. Guru bisa membuat grup untuk kelas mereka. Dari sini, mereka bisa memposting PR, memulai diskusi, dan berkomunikasi dengan orang tua. Ketika topik baru dibahas di kelas, guru dapat memulai diskusi secara on line dan meminta setiap siswa untuk menanggapi setidaknya satu kali.

Menggunakan teknologi yang relevan dan bermanfaat bagi mereka membantu siswa membawa dunia mereka ke dunia pembelajaran. Itu membuat apa yang mereka lakukan di kelas tampak berguna dan sesuatu yang akan mereka lihat di masa depan. Selain media sosial, guru juga bisa memanfaatkan menggunakan banyak aplikasi pengeditan foto yang memungkinkan siswa untuk secara kreatif memanipulasi gambar biasa dan mengubahnya menjadi karya seni. Mereka sering tercengang melihat efek visual dari gambar yang mereka ciptakan. Hal ini merupakan latihan keterampilan literasi visual dalam pendidikan yang sangat bagus agar siswa bisa berkomunikasi menggunakan gambar untuk membuat pernyataan, menceritakan sebuah cerita, atau berbagi sesuatu tentang diri mereka sendiri.

Referensi :

0 Komentar Literasi Visual dalam Pendidikan

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top