Kamis, 20 April 2017

Kisah Inspiratif dari Seorang Istri yang Jadi 'Wewe Gombel'

Wikipendidikan - Alkisah, ada seorang kyai desa dalam sebuah pengajian bandongan/weton sering dawuh:“Besok kalau sudah menikah, harus berhias yang cantik. Jangan seperti wewe gombel. Kasian suami-suami mu." Dawuh pak kyai itu disambut ketawa cekikikan oleh para santriwati. Silahkan baca juga 5 Karakter Wanita Baik dan Bijaksana yang Pantas Diperjuangkan

Kyai melanjutkan dawuhnya : "Sedangkan kalau mau buat rumah, walaupun kalian nggak kaya-kaya amat, buatlah rumah yang besar. Biar mudah mencarikan jodoh putra-putri kalian nantinya. Sebab di akhir zaman, orang-orang yang dilihat adalah luarnya.".

Dawuh pak kyai itu memang benar adanya, di samping fakta bahwa lelaki adalah makhluk yang fitrahnya ingin selalu "nambah". Meskipun tidak semuanya mau berterus terang dan melakukannya. Mungkin sebagian besar lelaki termasuk tipe ISTI (ikatan suami takut istri).


Dalam sebuah hadis juga disebutkan bahwa kelak akhir zaman perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan itu satu banding 50 wanita. Dan semakin hari bunga-bunga baru yang mekar semakin indah.

Hanyalah keindahan akhlak dan istri yang selalu berdandan cantik yang dapat membuat suami Aghaddu lil Bashar (memejamkan mata dari wanita lain) dan membuat betah di rumah. Berhias untuk suami, bukan berhias kalau mau keluar rumah saja.

Selain itu, memang sekarang ujiannya adalah penglihatan materi yang diutamakan. Banyak kasus di mana waktu dalam masa pedekate, para kumbang itu menampakkan kemewahannya (Dengan perangkat pinjaman tentunya. Motor pinjaman, mobil pinjaman dll). Dan tidak jarang yang berhasil dengan trik ini.

Baru setelah aqad nikah diketahui bahwa si kumbang adalah "min jumlatil masaakini" alias tergolong orang-orang miskin. Selain itu bukankah para sahabat Nabi senantiasa menampakkan hidup berkecukupan? Rumah besar itu, seakan sekarang memang benar-benar menjadi simbol atas kemakmuran seseorang, walaupun hakikatnya wallahu a’lam.

Alkisah, pada suatu hari Gus Robert Azmi menghadiri acara walimah temanten. Beliau lihat rumah mempelai putra begitu kuno dan besar, dengan model klasik joglo yang mempunyai tembok setebal dua telapak tangan lebih. Hmmm begitu gagah! Dan yang asyik, di sekitarnya masih banyak pohon-pohon raksasa yang membuat para pengiring temanten terkantuk-kantuk, saking sejuknya.

Tapi bukan itu yang beliau bidik. Beliau tertarik dengan metode mendidik para penghuni rumah besar itu (Walaupun sekarang kayaknya melawan arus), yakni mulai dari kecil, anak-anaknya tidak pernah diperbolehkan memegang uang. Sampai beli bakso-pun, mereka harus meminta uang kepada ayah-bundanya. Tapi, setelah menikah, baru mereka, satu persatu di buatkan rumah+modal untuk berkarya. Hmm menarik bukan?

Dan yang asyik, semuanya ditanamkan ilmu agama yang mumpuni, jadi dunia hanya sebagai batu loncatan, bukan tujuan. Terbukti banyak hadirin bertitel ulama yang hadir di majlis pernikahan itu, sebab penghuni rumah itu juga termasuk kerabat salah satu pondok tua di daerah itu.

Ada banyak sekali nilai pendidikan yang kita bisa ambil dari kisah yang diceritakan oleh Gus Robert Azmi di atas, terutama untuk para istri dan orang tua. Laki-laki itu makhluk visual, dan bagi mereka visualisasi terindah di dunia ini adalah kecantikan seorang wanita. Suami mana yang suka kalau istrinya "kemproh" layaknya wewe gombel? Jangankan berhasrat untuk menggauli, melihat saja sudah eneg. Padahal tugas utama seorang istri adalah melayani suami dengan sebaik-baiknya pelayanan, termasuk berdandan yang paling cantik di hadapannya.

Memang sudah kodratnya bahwa laki-laki itu pengennya minta dilayani sedangkan wanita dilayani. Bukan berarti islam itu bias gender. Disediakannya pernikahan sebagai cara yang sah dan halal untuk menyatukan cinta antara laki-laki dan perempuan merupakan bentuk keadilan dan kekuasaan Tuhan yang paling indah bagi manusia. Dalam pernikahan itulah laki-laki dan perempuan bisa belajar satu sama lain. Belajar menerima kekurangan, belajar empati, belajar tentang makna hidup, dan seterusnya. Selengkapnya, baca 7 Hal yang Harus Kamu Sadari dari Pasangan

Kita harus punya cita-cita yang besar, baik dalam konteks kehidupan dunia maupun ukhrawi. Dengan cita-cita hidup yang besar, kita akan selalu semangat untuk terus belajar dan berjuang mencapainya. Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya hidup dalam kemiskinan. Karena bagaimanapun juga, hidup di dunia ini butuh bekal yang sifatnya material berupa sandang, pangan, dan papan. Di sisi lain, bila seseorang lemah imannya, kemiskinan seringkali menyebabkan seseorang terjatuh dalam kekufuran dan tindakan-tindakan yang haram seperti menipu, mencuri, dan sebagainya.

Dalam hal mendidik anak, orang tua harus benar-benar bijaksana. Jangan sampai salah dalam menerapkan pendidikan untuk anak. Apakah terkait metode, materi, maupun dalam hal memilih lembaga pendidikan. Ilmu agama merupakan materi wajib yang harus diajarkan kepada anak sejak dini. Mulai dari akidah, syariat, dan akhlak. Ilmu agama merupakan benteng untuk menahan ambisi-ambisi negatif dalam diri anak untuk bersikap dan berpola hidup serba hedonis-materialis seperti gaya hidup orang modern kebanyakan.

0 Komentar Kisah Inspiratif dari Seorang Istri yang Jadi 'Wewe Gombel'

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top