Menjadi Guru Honorer yang Menghargai Diri Sendiri

Wikipendidikan - Manusiawi bila guru ingin dihargai dan dihormati, baik oleh orang tua, siswa, masyarakat, dan terutama oleh pemerintah dengan pemberian gaji yang layak sesuai profesinya. Namun di lapangan, seringkali mereka kecewa, sebab harapan itu tak sejalan dengan kenyataan yang harus mereka terima.

Tidak ada orang yang benar-benar tau apa yang diinginkan dan diharapkan oleh orang lain, termasuk dalam hal mengapresiasi usaha dan jerih payahnya. Satu-satunya orang yang dapat mengerti dan memahami keinginan kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Sayangnya, sebagian besar dari kita terlalu sibuk menuntut dan menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang/pihak lain. Akibatnya, hanyalah kekecewaan demi kekecewaan yang kita dapatkan.

Bagaimana dengan guru honorer? Permasalahan rendahnya gaji guru honorer hingga saat ini masih belum juga menampakkan titik terang. Padahal sudah seharusnya guru honorer diberi gaji yang layak, paling tidak sesuai dengan UMR. Namun sayangnya, tidak ada UMR untuk guru honorer. Padahal menjadi guru dengan segenap tugas dan tanggung jawab yang harus dipikulnya tidaklah semudah yang dibayangkan kebanyakan orang. Bagaimana tidak, seorang guru tidak hanya memikul tugas mengajar materi atau mengurus administrasi, mereka juga bertugas sebagai model yang harus mampu mengaktualisasikan nilai-nilai positif untuk keteladanan bagi anak didik dan masyarakat.


Pemilik nama pena “Perempuan Sasak” di kompasiana dengan nada sinis mengimbau agar jangan sekali-sekali mencoba jadi guru honorer bila masih mengharapkan gaji untuk makan. Dengan kenyataan seperti ini, tak layak sebenarnya menyebut pekerjaan guru honorer sebagai sebuah profesi. Mengapa? Sebagaimana kita tau, profesi merupakan istilah untuk menyebut pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu yang didapatkan melalui proses pendidikan tertentu dengan upah yang sesuai dengan profesi itu sendiri. Tentu tidak layak menyebut guru honorer sebagai suatu profesi, sementara upah yang diterima jauh dari kata layak apabila dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dilakoninya.

Mengapa ada UMR untuk buruh dan karyawan, sementara tidak ada UMR untuk guru honorer? Inilah salah satu pertanyaan yang muncul dari kegelisahan akan kenyataan yang terjadi di lapangan. Apa dan siapa sebenarnya yang salah dan seharusnya disalahkan, apakah pemerintah, sistem, ataukah orang yang menyalahkan? Janji pengangkatan guru honorer jadi PNS pun tak kunjung nampak realisasinya ke permukaan. Upah mengajar RP. 20.000 perjam itu sudah terbilang tinggi untuk guru honorer. Bagus kalau bisa cair tiap bulan, kalau nasibnya agak apes, mereka harus sabar menunggu pembayaran upah mengajarnya hingga dua, tiga, sampai berbulan-bulan. Sejenak kita perlu berfikir, betapa besar kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan hati guru-guru honorer yang dulu pernah menjadi guru kita dengan kesediaannya untuk tetap mengajar dan mendidik di tengah kondisi yang serba memprihatinkan.

Guru yang telah menyandang status PNS mungkin tak lagi ada masalah dengan upah yang diterima. Tapi bagaimana dengan guru honorer? Tugas, tanggung jawab, dan kewajibannya sama, tapi perhatian tentang kesejahteraannya sungguh amat jauh berbeda, terutama soal upah yang diterima. Padahal kita semua tau, bahwa setiap guru berwawasan yang luas, menguasai dan mampu mengaplikasikan strategi belajar-mengajar yang, menyusun prota, promes, RPP, dan silabus, melakukan PTK, dan masih banyak lagi. Upah guru honorer yang berada jauh di bawah upah buruh pabrik seakan-akan menempatkan status sosial-ekonomi guru honorer di bawah alias lebih rendah derajatnya daripada buruh pabrik

Berkaca pada kenyataan di atas, bila para guru honorer terus menuntut upah yang layak dan kesejahteraan dari pihak lain, sama artinya mereka masih gagal dalam menghargai dirinya sendiri dan pekerjaan mulia yang dilakoninya setiap hari. Menjalankan tugas sebagai guru bukan karena murni panggilan jiwa, namun lebih berorientasi pada materi. Tidak salah memang, tapi kurang pantas.

Guru, perlu memiliki sebuah cara sederhana untuk mengenali dan menghargai pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Seperti kebanyakan manusia, mendambakan penghargaan. Guru layak dan perlu apresiasi. Dan siswa, orang tua, dan TU pasti bisa memperbaiki kemampuan mereka untuk menawarkan apresiasi yang berarti kepada guru, terutama guru honorer, lebih dari sekali selama setahun. Penghargaan terhadap guru juga harus diperluas melalui kebijakan pendidikan yang menghargai profesi guru itu sendiri, terutama soal gaji guru.

Tapi sebenarnya ada begitu banyak jalan yang bisa anda temukan dan anda butuhkan untuk menghargai diri sendiri sebagai guru, tanpa harus sibuk mencari dan mengharapkan penghargaan dari sesuatu di luar diri anda.

Ada beberapa hal sederhana yang bisa anda praktikkan secara rutin sebagai cara untuk menghargai diri anda sendiri. Beberapa di antaranya ialah sebagai berikut:

Pertama, Pilih tiga hal yang berjalan dengan baik di setiap hari yang anda jalani. Pastikan untuk mengidentifikasi peran dan kontribusi Anda di dalamnya.

Misalnya, materi pelajaran yang anda sampaikan tentang pengembangan karakter diri melalui kegiatan membaca novel berjalan dengan sangat baik, dan Anton, salah satu siswa yang biasanya tidak pernah berbicara, benar-benar terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Peran anda dalam kegiatan tersebut adalah bahwa anda menghabiskan banyak waktu membuat perencanaan pembelajaran (lesson plan) dan mencoba menerapkan strategi pembelajaran yang baru.

Kedua, Pada akhir setiap hari atau minggu, menulis surat penghargaan yang ditujukan untuk diri sendiri. Mungkin hal ini kedengarannya klise, tapi cara ini merupakan salah satu terapi yang efektif dalam meningkatkan kebahagiaan diri layaknya manfaat yang kita dapatkan dari kegiatan menulis buku harian. Jika Anda mencobanya, Anda mungkin benar-benar menikmatinya.

Tidak ada orang lain yang bisa menghargai betapa sulitnya bagi anda untuk mengelola kelas demi menciptakan suasana belajar yang kondusif. Akan tetapi ketika anda mulai mampu menghargai diri sendiri, anda akan merasa merasa berbeda dan lebih mampu bersikap bijak dalam setiap kesulitan.

Memang, guru memiliki hak untuk dihargai oleh orang lain atas semua jasa dan tugasnya yang mulia. Akan tetapi di sisi lain guru perlu menghargai dirinya sendiri. Anda akan merasa lebih baik jika Anda melakukannya berdasarkan pada kontribusi Anda untuk anak didik anda. Dengan energi itu, Anda akan lebih siap untuk mengadvokasi apresiasi, rasa hormat, hak, dan gaji yang layak Anda dapatkan.
Bagikan artikel via

facebook twitter gplus email