Guru Profesional Pewaris Aktivis Kenabian

Wikipendidikan - Guru yang merupakan salah satu tokoh penting dalam pendidikan membutuhkan suatu standar kualifikasi dan standar kompetensi. Hal ini dimaksudkan agar dapat menyajikan pendidikan yang bermutu. Baca juga Guru Profesional Wajib Miliki Tiga Unsur Ini

Standar kualifikasi dan kompetensi guru tertulis dalam Permendiknas No. 16 Tahun 2007. Di dalam Permendiknas tersebut, diterangkan bahwa penetapan standar kualifikasi dilakukan dengan membatasi kualifikasi akademik yang dimiliki guru minimal bergelar sarjana (strata 1 atau diploma 4). Sementara itu penetapan standar kompetensi dilakukan melalui proses sertifikasi. Dengan adanya standarisasi tersebut, guru diharapkan dapat menjadi guru yang profesional.

Guru cantik via idntimes.com
Ubaidillah Achmad dalam Diskusi Edukasi (Disked), menyampaikan pendapat tentang guru professional. Guru profesional adalah guru yang dalam tingkah lakunya sudah reflektif (melekat) dan telah mewarisi para aktivis tradisi kenabian.

Lebih lanjut, PU Edukasi tahun 1997 ini mengatakan profesionalitas didasarkan kepada prinsip pengetahuan, prinsip keterampilan dan prinsip tingkah laku. “Jadi profesionalitas itu bukan omong kosong, seperti pameo belaka yang berada di iklan-iklan,” tandasnya.

Membandingkan dengan keadaan sekarang yang banyak terjadi, yaitu guru hanya transfer of knowledge tanpa transfer of Values. “Profesionalisme sangat terkait dengan komitmennya bukan hanya science saja dan juga tahu arahnya,” ulasnya.

Kang Ubaid, sapaan akrabnya, juga menyinggung tentang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Menurut Dosen Pemikiran Islam ini Istilah mengajar itu tidak ada dalam pendidikan, yang ada adalah pembelajaran dan pendampingan. “ Kita pintar bukan karena diajar, tetapi kita pintar karena belajar,” ulasnya.

Kreatif, Inovatif dan Mandiri

Kirno menambahi apa yang telah disampaikan oleh Kang Ubaid, Guru seharusnya dalam pembelajaran memakai prinsip Kreatifitas, Inovatif dan Mandiri (KIM). Dengan KIM, kelas akan hidup karena kreatifitas, inovasi dan kemandirian yang telah dikembangkan oleh pendidik. “Guru merupakan fasilitator dan evaluator yang sifatnya mengembangkan,” tuturnya.

PU Edukasi tahun 1998 ini juga menyesalkan dengan pergeseran makna guru profesional, yang hanya pada standar S1 tanpa memiliki kamampuan-kemampuan yang telah disebutkan oleh Kang Ubaid. “Pada saat ini, makna guru profsional telah bergeser, karena standar sekarang hanya pada S1,” ulasnya.

Senada dengan Kirno, Andi Hakim yang mengatakan bahwa guru sekarang dipandang hanya profit oriented, hanya bernilai pada keuntungan dan pekerjaan saja, bukan lagi tokoh panutan yang harus ditiru.

Membandingkan dengan apa yang dikonsepkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa Guru adalah pandita yang tidak hanya educated head saja, tetapi juga educated hand and educated heart. “Jadi guru tidak hanya memberikan pendidikan di kepala saja yang dalam hal ini disebut dengan educated head, tetapi juga harus memberikan pendidikan di hati (educated heart) dan juga pendidikan tingkah laku (educated hand).” (Fahmi Ashshidiq, lpmedukasi.com)

0 Komentar Guru Profesional Pewaris Aktivis Kenabian

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top