Game dan Pendidikan Karakter Anak

Salah satu alasan game begitu diminati anak bahkan orang dewasa selain visualnya yang menarik adalah "tidak adanya ada kecaman dan makian."Begitu ada yang bermain dan gagal memenangkan permainan, pesan yang muncul positif dan menantang. #coba lagi! #ingin melanjutkan? #dll Akhirnya dia tertantang mencoba dan melanjutkan permainan.

Perbedaan begitu terasa saat melihat keseharian kita dalam mendidik anak, ekspresi kita, cara berbicara kita dan cara mengajar kita jauh dari karakter komunikatif layaknya game. Terkadang lebih banyak menuntut dari membimbing, lebih banyak mencela ketimbang memuji, lebih banyak melemahkan ketimbang memotivasi. Itu pula mengapa metode reward and punishment tidak lagi relevan untuk diterapkan dalam pendidikan anak.


Pada suatu hari, ada seorang guru berangkat buru-buru ke sekolah. Sementara jam mepet, mendekati terlambat. Di tengah jalan pikirannya kalut, jengkel, perasaan lalu lintas padat, pengguna jalan yang tak ramah, dll.

Sesampainya di sekolah ia segera membuka jadwal mengajarnya, "masuk kelas berapa ya?" tanyanya dalam hati sembari berpikir materi dan metode apa akan dipakai. Di kelas ia marah-marah kepada muridnya sebab masalah kecil yang sebenarnya dipicu pikirannya yang tegang. Penyampaian membingungkan karena kurang persiapan. Evaluasi terlupa. Walhasil, LKS jadi sasaran. Finishnya ngaji, ngarang biji.

Cara seperti itukah yang kita harapkan membentuk pribadi siswa yang berkualitas dan berprestasi? Adalah sesuatu yang naif, ketika pembentukan karakter anak begitu vokal didengungkan, sementara dalam realitanya masih banyak guru yang tidak berkarakter. Saya sendiri sering menjumpai guru-guru yang kata-kata dan perilakunya tidak etis, tidak bermoral sama sekali ketika mereka di luar sekolah dan jauh dari anak didiknya.

Seringkali guru dan orang tua menuntut anaknya harus harus jadi juara ini dan itu tanpa mau tau betapa sulit usaha yang harus dilakukannya untuk mencapai semua itu. singkatnya, mereka hanya mau melihat hasil yang memuaskan tanpa bersedia mendampingi atau sekedar memotivasi anak dalam prosesnya. Bahkan justru demi memuaskan keinginannya, anak sering dicaci maki, dibentak, dan dihujani dengan kata-kata kasar yang membuat anak stres dan down tanpa mereka sadari.

Tidakkah kita malu dengan game yang selalu menanamkan stimulus-stimulus positif kepada mereka? Game mengajarkan kita untuk tidak pernah putus asa dalam berusaha dan mencoba, berapa kalipun kita gagal. Dan game tidak pernah mencaci maki atau mengancam kita dengan kata-kata kasar meskipun kita telah gagal dan kalah dalam permainan. Para guru, belajarlah dari game!

0 Komentar Game dan Pendidikan Karakter Anak

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top