Kriteria Fakta yang Bisa Dijadikan Berita

Memilih fakta kemudian menentukan yang hendak disajikan kepada publik merupakan hak institusi masing-masing media. Bertolak dari pandangan sikap apakah fakta itu menarik atau fakta itu penting. Jika pilihan menarik yang dipakai, maka sajian informasinya akan lebih condong atau lebih banyak mengetengahkan sensasionalitas, drama dari sebuah peristiwa.


Namun, jika unsur penting yang dicari, akan mendorong untuk menggali lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi, kemudian menyajikan fakta itu secara lebih lengkap, detail dan tentu saja bermakna. Bukan sekedar mendekripsikan rangkaian fakta atas peristiwa itu, ditambah dengan mengutip penjelasan pihak-pihak otoratif, termasuk tentu saja korban. Mestinya ada upaya untuk mengungkap apa yang berada di balik peristiwa itu.

Agaknya, untuk yang terakhir itu, bisa dikatakan masih sedikit dilakukan oleh media. Sebab memang dibutuhkan kesabaran, kejelian, juga energi yang cukup untuk itu. Sementara sifat surat kabar harian adalah mengangkat ke permukaan apa yang terjadi hari ini agar bisa disajikan secara lengkap kepada khalayak pada edisi esok hari, dan begitu seterusnya. Untuk soal aktualitas ini berlaku adagium: tiada yang lebih basi di banding koran kemarin.

Dari hari ke hari, realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat yang ribuan jumlahnya, akan dipilih dan dipilah oleh media. Tidak semua realitas itu bisa disajikan untuk publik. Mengingat tempatnya juga terbatas, selian tuntutan aktualitas dan berbagai unsur yang bisa memenuhi kaidah jurnalistik sebagai sandaran teknikalitas.

Persoalannya adalah, seberapa jauh kemudian media sudah memenuhi tugas dan fungsinya itu? Sampai sekarang, pertanyaan seperti itu akan muncul. Sebab, logika aktualitas bagi media saat ini, tentu sudah jauh berbeda dibanding beberapa waktu lalu. Aktualitas yang terjadi di tengah persaingan ketat seiring perkembangan teknologi mutakhir saat ini, pastilah membutuhkan penyikapan tersendiri. Baca juga Teknik Menulis Artikel untuk Media Online

Aktualitas surat kabar yang terbit pagi hari, sedangkan sebuah peristiwa terjadi siang hari sebelumya, bisa dikatakan tidak berarti apa-apa dibanding kekuatan aktualitas sebuah berita yang dilansir oleh portal media on line atau televisi yang pada saat itu juga sudah bisa menampilkan segala hal yang terjadi, bahkan secara langsung dari lokasi kejadian, real time. Ini artinya dibutuhkan penyikapan baru bagi media cetak jika ingin mengetengahkan fakta yang masih dianggap aktual itu, bukan lagi sekedar memproduksi fakta setelah diolah dengan kaidah jurnalistik, lantas disajikan kepada khalayak. (Lihat Agoes Widhartono, Menyisir Kata Mencari Makna).

Kriteria Fakta yang Bisa Dijadikan Berita

Menurut AA Kunto A dalam bukunya “Cara Gampang Jadi Wartawan”. Semua berita berdasarkan fakta. Namun tidak semua fakta memiliki nilai berita. Ada beberapa kriteria yang menempatkan fakta ke posisi berita :
  1. Segar : Merupakan sesuatu yang baru saja terjadi,bukan kejadian basi yang sudah berlangsung di waktu lampau.
  2. Besar: Melibatkan banyak orang, membawa efek bagi banyak orang
  3. Bencana: Tentang peristiwa alam yang mengakibatkan kerusakan.
  4. Dekat: Tentang peristiwa yang terjadi di sekitar tempat tinggal pembaca, bukan belahan dunia lain. Atau mendekati minat pembaca.
  5. Langka: Tentang kejadian di luar kebiasaan, jarang terjadi.
  6. Terkenal: Menyangkut tokoh yang dikenal publik.
  7. Bahaya: Mengenai peristiwa-peristiwa yang mengancam keselamatan warga.
  8. Pengetahuan Baru: Tentang wawasan baru yang bermanfaat bagi pembaca.
  9. Human interest: Sarat akan unsur kemanusiaan.
Oleh : M Jafar Shodiq Al Alawi (Redaktur Edukasi 2008). Disampaikan saat diskusi bersama Crew LPM Edukasi

0 Komentar Kriteria Fakta yang Bisa Dijadikan Berita

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top