Cara Menghadapi Sikap dan Perilaku Orang Tua yang Egois Secara Bijak

Setiap orang mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing. Ada hak terhadap sesama manusia dan hak antara manusia dengan Tuhan. Contoh hak dan kewajiban antar sesama manusia adalah hak dan kewajiban anak terhadap orang tua dan hak dan kewajiban orang tua terhadap anak.

Ada sebagian anak yang tidak memenuhi hak dan kewajibannya terhadap orang tua, pun pula tak jarang ditemui orang tua yang tidak memenuhi hak dan kewajibannya terhadap anak. Ketika salah satu hal itu terjadi, secara otomatis terjadi ketidakseimbangan dalam pola hubungan dan komunikasi antara anak dan orang tua.

Baca juga: Cara Rahasia Menularkan Kebaikan pada Anak

Bila istilah “durhaka” selalu identik dengan perilaku anak yang tidak menjalankan hak dan kewajibannya dengan baik terhadap orang tua, tidak bolehkah bila istilah “durhaka” diisbatkan kepada orang tua yang tidak memenuhi hak dan kewajibannya terhadap anak?


Ada banyak anak yang kemudian durhaka kepada orang tua, berperilaku menyimpang, suka berbuat onar dan kerusakan, karena imbas dari sikap dan perilaku orang tuanya sendiri. Dalam kasus seperti ini, siapa yang harus disalahkan?

Sementara islam mengajarkan agar para orang tua mendidik anak secara bijak, adil, dan tanpa kekerasan, baik fisik maupun verbal. Namun sayang, masih banyak orang tua yang belum paham. Atau, sebenarnya paham, namun pada praktiknya bertolak belakang dengan pemahamannya sendiri.

Ada beberapa sikap dan perilaku orang tua yang seringkali membuat perasaan anak benar-benar tersakiti. Mereka adalah orang tua egois, yang hanya mementingkan perasaannya sendiri. Berikut 5 contoh sikap dan perbuatan orang tua yang menyakiti anak dan banyak terjadi di masyarakat.

1. Orang tua tidak peduli dengan perasaan anak

Mereka hanya mempedulikan dan mementingkan perasaan mereka sendiri. Orang tua sering memaksakan keinginannya terhadap anak dan tidak menghargai anak sama sekali. Orang tua merasa marah apabila anak menyakiti perasaan mereka. Akan tetapi, orang tua dengan seenaknya sendiri berperilaku yang menyakiti perasaan anak secara terus-menerus.

Artikel terkait: Bahayanya Sering Membentak Anak

Bentuk ketidakpedulian orang tua kepada anak banyak contohnyaa, misalnya tidak peduli dengan prestasinya di sekolah, kegiatan anak sehari-hari, acuh terhadap kebutuhan anak tentang motivasi, kasih sayang, dan kebersamaan. Intinya, orang tua tak peduli dengan kebutuhan psikologis anak. Mereka hanya memikirkan kebutuhan psikologis mereka sendiri, ingin ditaati, dihargai, dihormati, tanpa berpikir bagaimana perasaan anak.

Orang tua yang tidak peduli, membiarkan anak hidup dengan dirinya sendiri tanpa mau tau apa yang dibutuhkan oleh anak. Anak berjalan di atas jalannya sendiri tanpa mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari orang tua. Mereka hidup dengan pemikiran sendiri, keputusan yang diambil sendiri, dan menghadapi masalahnya sendiri. Hal ini menjadikan anak merasa kesepian dan amat jauh dari perhatian orang tua.

2. Sering melakukan kekerasan verbal 

Ada juga orang tua yang gemar menyakiti perasaan anak dengan berkata kasar kepada anak. Orang tua yang sering mencaci dan mengumpat anak. Bahkan, kadang atau malah selalu, orang tua menyalahkan segala hal yang dilakukan anak tanpa pernah menjelaskan di mana letak kesalahan anak. Apa saja yang diinginkan dan dilakukan anak, selalu salah di mata orang tua. Ketika anak melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan orang tua, maka anak akan dimarahi, dicaci bahkan dihina.

Selain sering melakukan kekersan verbal dengan bicara kasar, terkadang orang tua juga melakukan kekerasan secara fisik. Jika anak melakukan tindakan yang tak sejalan dengan pemikiran orang tua, maka anak bisa saja disiksa, entah ditendang, ditampar, dipukul, dan sebagainya.

3. Pemrah dan Memusuhi anak

Sebagian orang tua juga bersikap memusuhi anak, seakan-akan mereka adalah Tuhan yang memiliki hak penuh atas hidup dan mati anaknya. Ketika anak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati mereka, maka anak akan dimusuhi. Apa pun pendapat yang diungkapkan anak, akan disikapi dengan amarah dan permusuhan.

4. Mengungkit-ungkit kebaikan dan jasa yang telah diberikan untuk anak

Ada pula orang tua terus mengungkit-ngungkit kebaikan-kebaikan dan jasa mereka untuk anak dan karena hal itu anak dipaksa tunduk dan patuh 100% terhadap semua aturan orang tua. Saat anak mengeluarkan pendapat, itu akan dianggap sebagai bentuk penentangan. Padahal anak melakukan hal itu bukan tanpa alasan, bisa jadi mereka hanya ingin mengungkapkan isi hati mereka agar orang tua lebih bisa bersikap baik kepadanya.

Mentang-mentang orang tua yang sibuk bekerja mencari uang untuk biaya anak, mereka lantas menjadikan hal itu sebagai alat untuk mengintimidasi anak. Mereka mengungkit-ungkit uang, bahkan makanan yang telah mereka keluarkan untuk biayai anak di depan anak saat anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati orang tua.

Baca juga: Cara Mempererat Hubungan Antara Anak dengan Orang tua

Orang tua seperti itu punya anggapan bahwa uang adalah segalanya bagi anak. Padahal cara pandang seperti itu salah. Anak tidak hanya butuh makan dan uang, namun juga kenyamanan dalam keluarga melalui perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

5. Orang tua yang sering bertengkar di depan anak

Selain memberikan contoh yang buruk kepada anak. Seringkali, anak yang tidak tau apa-apa terkena imbas dan menjadi korban pertengkaran orang tua.

Dari 5 sikap dan perilaku orang tua egois di atas, setiap anak berbeda-beda dalam merespon atau menyikapinya. Ketika hidup anak disakiti oleh orang tua, setidaknya ada 4 tipe cara mereka meresponnya.

Pertama, ada anak yang mengekspresikan rasa berontaknya atas apa yang dilakukan orang tua dengan melakukan hal-hal negatif. Anak melakukan hal-hal yang dia sukai namun berdampak merugikan diri mereka sendiri. Anak cenderung melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya sendiri tanpa dia sendiri menyadarinya.

Kedua, ada anak yang memilih bersikap tak peduli dan santai. Mereka bersikap cuek dan masa bodoh, tidak peduli dengan apa pun perlakuan orang tua kepadanya. Pada akhirnya, anak seperti ini tidak memiliki rasa kepedulian terhadap orang tua karena ia meniru apa yang telah dicontohkan oleh orang tuanya sendiri. Ketidakpedulian orang tua kepada anak, berbalas dengan ketidakpedulian anak kepada orang tua.

Ketiga, ada anak yang hatinya mulia, meskipun mereka telah disakiti oleh orang tuanya, mereka memilih untuk tetap patuh kepada orang tua, dengan berusaha menuruti keinginan orang tuanya. Mereka ikhlas menerima apa pun sikap dan perlakuan orang tua kepada mereka.

Keempat, ada anak yang bersikap memberontak. Tapi, mereka memberontak secara positif. Meskipun orang tua tidak peduli dan perhatian, anak ini terus berjalan dengan berusaha melakukan hal-hal positif yang menguntungkan dirinya. Meskipun apa yang dilakukannya tidak pernah bernilai dan benar di mata orang tua, anak ini percaya diri bahwa ia bisa menjadi anak yang baik. Dia berusaha memilih dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Bagaimana solusi yang paling tepat bagi anak dalam menghadapi orang tua yang egois seperti di atas? Perlu diketahui, bahwa sebagai anak, kita diwajibkan untuk senantiasa berbakti kepada orang tua. Melakukan perlawanan kepada orang tua adalah sebuah kedurhakaan. Namun, sebagai anak kita juga membutuhkan perlakuan dan pendididikan yang baik agar psikis kita tidak tersakiti. Maka dari itulah, orang tua juga mempunyai kewajiban untuk membuat anak merasa aman dan nyaman dalam hidupnya.

Bagi kita yang sering tersakiti oleh sikap dan perilaku orang tua. Tetaplah bersabar dan berdoa kepada kedua orang tua kita. Sebab Tuhan telah menjanjikan, pintu surga terbuka lebar untuk anak-anak yang selalu mendoakan orang tuanya. Sayangi dan cintai diri kita sendiri.

Bagi para orang tua, sebelum memutuskan untuk mempunyai anak. Pikirkanlah dengan matang bagaimana cara yang akan kalian terapkan untuk mendidik dan mengasuh anak. Jangan menyakiti hati anak apabila tidak ingin disakiti oleh anak. Perlakukan anak dengan sebaik-baiknya. Ia adalah amanah yang harus dididik dan diasuh dengan cara yang terbaik. Anak adalah investasi paling berharga dalam hidup anda, ketika anda sakit dan menua, anaklah yang akan merawat anda. Bahkan ketika anda telah tiada, hanya doa-doa dari anak yang bisa anda harapkan.

Diolah dari: https://nugraheniismyname.wordpress.com/2012/03/27/sikap-orang-tua-yang-bisa-menyakiti-jiwa-anak/
Wikipendidikan
Back To Top