5 Sifat Bahasa yang Digunakan dalam Puisi

Bahasa puisi ialah sifat-sifat bahasa yang digunakan sebagai media ekspresi puitik. Keindahan puisi banyak ditentukan oleh pemilihan dan penempatan kata di dalam kalimat (baris). Lebih-lebih bila kita sadar bahwa tema yang istimewa bukanlah jaminan yang menentukan bernilainya sebuah puisi. Keistimewaan puisi banyak ditentukan oleh kata-kata, oleh bahasa. Simak juga 10 Aturan Membuat Puisi yang Tidak Banyak Diketahui
.
"Sejak jaman dulu, para agent intelligent dalam misinya, salah satu metode komunikasi juga menggunakan Puisi (kalimat puitis). Pesan-pesan rahasia dikirim dengan semiotika juga dikombinasikan dengan angka-angka code rahasia. Agent rahasia Nazi jaman dulu berhasil dalam misi rahasia untuk kepentingan perang. Pada era berikutnya dan sampai sekarang, negara-negara lain termasuk kita gunakan cara tsb. Untuk misi terbuka dan tertutup, pengamanan terbuka dan tertutup, perang ekonomi, perang idiologi, perang teknologi, cyberwars dll.", demikian tulis Iwan Dharta.

Berikut ini 5 Sifat bahasa yang digunakan dalam penulisan puisi.

1. Bermakna konotatif

Bahasa puisi terutama sekali bersifat konotatif, meski tidak bisa dilepaskan dari makna atau sifat denotatifnya. Bahasa konotatif mempunyai arti kias, arti sampingan yang justru esensial dalam puisi dan ini terutama disebabkan oleh peresapan nilai-nilai pribadi, perasaan-perasaan pribadi serta tuntutan-tuntutan pribadi ke dalam bahasa puisi itu. Konotasi-konotasi yang dibentuk dan diciptakan penyairnya berdasarkan perenungannya terhadap suatu perasaan pribadi tertentu atau pengalaman tertentu dalam suatu momen tertentu pula. Terkait dengan hal ini, tidaklah mengherankan bila sering terjadi salah tafsir yang dilakukan seseorang terhadap sebuah puisi.
.
2. Bersifat ekspresif

Bahasa puisi juga bersifat ekspresif, artinya setiap bu¬nyi yang dipilih, setiap kata yang dipilih dan setiap metafora yang dipergunakan berfungsi bagi kepentingan ekspresi, mampu memperjelas gambaran dan mampu memunculkan kesan yang kuat. Setiap unsur bahasa yang dipilih dan digunakan harus turut membawakan nada, rasa, dan pengalaman penyairnya.
.
3. Bersifat sugestif

Bahasa puisi juga bersifat sugestif, maksudnya bersi¬fat menyaran dan mempengaruhi pembaca secara menyenangkan dan tidak terasa memaksa. Tersebab sifat inilah puisi dapat berkesan sangat kuat dalam diri penikmatnya.
.
4. Bersifat asosiatif

Bahasa puisi bersifat asosiatif, artinya mampu membangkitkan pikiran dan perasaan yang merembet, tetapi masih di seputar makna konotatif. Kata ’bulan' di samping makna konvensionalnya, juga menimbulkan kesan atau kenangan yang merembet pada sesuatu yang lembut, romantis, dan sebagainya se¬hingga sering kata ini dipergunakan sebagai lambang kehidupan cinta yang romantis atau kadang-kadang merupa¬kan simbolisasi wanita.
.
5. Bersifat magis

Bahasa puisi seolah-olah mempunyai kekuatan di dalamnya, sehingga tampak magis dan bercahaya. Hal itu terjadi karena memang bahasa puisi telah diresapi emosi, mood, perasaan pribadi, kekaguman penyair dan sebagainya.

Menurut Kak Jaya Aja, Puisi, hakikatnya, bahasa hati. Sebuah luapan emosi yang tumpah pecah dalam kekata dan diksi. Rima biasanya menjadi pengindah, menambah nilai estetikan. Meski tidak ada kewajiban sebuah puisi baru dikatakan puisi jika memiliki rima.

Bahasa atau gaya bahasa yang dipakai biasanya bergantung kepada apa yang mau dicurahkan dalam puisinya. Jatuh cinta mungkin akan lebih syahdu dengan kata-kata mendayu, diksi yang melankolis, atau frasa romantis.

Puisi yang berupa protes sosial, kritik thd sebuah rezim biasanya akan banyak menggunakan bahasa tegas, lugas, galak, bahkan sarkasme. Seperti biasa, ada objektif yg akan disampaikan.

Biasanya juga penulis, atau sebagian penulis, tidak akan ambil peduli dengan interpretasi dr puisinya.
Maknanya bisa bias, multitafsir.

Ada juga sih penulis yang coba-coba menggunakan frasa atau pemilihan kata yang tidak lazim. Mungkin maksudnya untuk menarik perhatian (atensi) pembaca. Ada yang berhasil dan menjadi tren (misalnya, rintik rindu). Ada juga karena asal-asalan akhirnya jadi nirmakna, atau maknanya jadi aneh.

Apakah puisi harus menggunakan bahasa "langit"? Gak juga, sih. Beberapa penyair malah membuat mahakarya dengan bahasa sederhana atau lugas, bahasa biasa, bukan bahasa yang "tinggi-tinggi". Bukan berarti mereka miskin kosakata, tapi justru di situ kebijaksanaan mereka.

Apa yang ingin disampaikan (amanat puisi) harus dapat diterima dan dimengerti oleh sebanyak-banyaknya orang. Ibarat kata, semakin berisi semakin merunduk. Yang pasti, karena puisi juga adalah media komunikasi, maka harus dipilih kata-kata, gaya bahasa yang mampu menyampaikan amanat yang ingin ditransfer kepada pembaca. Di sini kebijaksaan penulis akan diuji.

Penulis: Agung Pranoto, dalam Grup FB Rumah Literasi (Wahana Diskusi Kepenulisan)
Bagikan artikel via

facebook twitter gplus email