Arti Sebuah Nama

What’s in a name? Apalah arti sebuah nama? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, mawar tetap akan berbau wangi. Itulah ungkapan Sastrawan Inggris kenamaan, William Shakespeare, penulis Romeo and Juliet.

Sekilas, ungkapan itu benar tapi, nanti dulu. Apakah betul-betul benar? Apakah sebenarnya benar? Apakah pemikiran tersebut justru gegabah, kurang dalam, atau bahkan sesat. Pada hal-hal tertentu, bisa dibenarkan. Sebagaimana dicontohkan, “mawar” andaikan diganti namanya menjadi “cantik” tentu tidak menjadi soal.


Seandainya, (mohon maaf, sekali lagi mohon maaf) Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, MA., diganti namanya menjadi misalnya “Dzalimin” (orang yang dzalim) apa ya pantes, apa itu bukan penghinaan !!? Padahal dzalimin ada dalam al-Qur’an, sedangkan Ali Mustafa Yaqub (setahu saya) tidak ada nama itu dalam al-Qur’an.

Syahdan, Ali bermakna yang mulia, tinggi kedudukannya. Mustafa orang yang terpilih. Dan Ya’qub adalah salah satu nama Nabi. Ali Mustafa Ya’qub memiliki makna yang luar biasa, seorang ahli hadis, kyai yang dalam ilmunya, kaya referensinya, kuat hafalannya, wara sikapnya, modern pandangannya, inklusif pemahamannya, dan berlimpah karya beliau. Beliau benar-benar orang mulia, menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal dua periode (2005-2010, 2010-2015).

Menurut teori ‘titen’ (pengamatan sendiri, hehe), nama itu setidaknya menyangkut tiga hal. Pertama, nama adalah doa, harapan, dan cita-cita. Nama adalah harapan orang tua terhadap si cabang bayi. Oleh karena itu, berilah nama yang mengandung arti yang baik. Sebaik-baik nama tentu yang ada dalam al-Qur’an, asmaul husna, dan nama para nabi/rasul.

Nama “Muhibbin” sebagai contoh, barangkali karena orang tuanya menginginkan agar kelak anaknya menjadi pribadi yang mencintai Rasulullah, orang taat menjalankan perintah Allah. Barangkali wajar jika kemudian Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag., Rektor UIN Walisongo, menjadi ahli hadis dan tafsir karena dorongan nama yang diberikan oleh orang tuanya. Wallahu’alam.

Kedua,biasanya juga terkait dengan moment atau peristiwa tertentu. Ketika lahir bulan puasa, mungkin akan diberi nama Ramadhan atau Lailatul Maghfiroh (bulan yang penuh ampunan), dan lain-lain sesuai dengan peristiwanya. Demikian juga peristiwa 17 Agustus bisa diberi nama dengan nama Agus kalau laki-laki atau Agustina, jika perempuan. Nama anak saya yang kedua, saya beri nama “Nawal Mazaya Ramadhan” karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, yang bermakna “hadiah istimewa di bulan Ramadhan”

Ketiga, nama juga biasanya dinisbatkan (disematkan) pada nama tokoh idola. Orang tua biasanya memiliki idola atau tokoh tertentu. Al Ghazali, El Jalaludin Rumi, dan Abdul Qodir Jailani (anak-anak Ahmad Dani) itu dinisbatkan pada tokoh-tokoh besar sufi.

Yang pertama adalah Al Ghazali. Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali. Beliau adalah tokoh besar penulis Ihya Ulumuddin, guru besar di Universitas Nizamiyah, Baghdad.

Berlanjut ke El Jalaluddin Rumi. Beliau adalah sufi yang sangat pandai menyusun kata dan menyenandungkan syair. Mungkin beliau adalah penguntai syair terindah di antara sufi yang lain. Jalaluddin Rumi lahir di Balkh, kota kecil di Afghanistan pada tanggal 30 september 1207. Kegemarannya akan syair sangat mempengaruhi jalan kesufiaannya. Gayanya yang spontan dalam membuat syair di catat oleh murid-muridnya dan kemudian dikumpulkan menjadi bentuk manuskrip. Kemudian beliau mengembangkan ritual tarian sufi yang terkenal dengan tarian darwis.

Lalu terakhir ada Abdul Qodir Jaelani. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani lahir pada tahun 470 H/1077 M di daerah yang bernama Al-Jil, Iran. Dan beliau wafat pada usia 91 tahun dan di makamkan di Baghdad, Irak. Beliau dikabarkan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Selain itu, beliau dikenal tekun beribadah, melakukan Riyadhah (latihan rohani), serta memiliki ketajaman batin. Wibawanya sangat besar, hingga masyarakat banyak yang datang berguru kepada beliau atau sekedar ingin mendengar petuah-petuahnya.

Ada juga pemberian nama dengan model silang. Jika laki-laki, namanya disamakan dengan huruf pertama nama ibu. Sebaliknya jika anak perempuan, maka huruf pertama anak itu sama dengan nama ibunya. Kebiasaan itu sudah menjadi tradisi yang turun-temurun.

Sebagai ilustrasi, jika nama ortunya Aji & Rahma, maka jika punya anak laki-laki akan diberi nama dengan huruf pertama R (sesuai nama ibunya). Demikian juga, jika anak perempuan, akan diberi nama dengan huruf A (sesuai dengan nama ayahnya).

Ah itu kan tradisi? Iya tradisi, hanya kebiasaan. Tapi saya kira baik-baik saja. Dan tentu, tradisi yang baik perlu dijaga, sembari menciptakan tradisi baru yang lebih baik lagi. Sebagaimana ungkapan berikut:

اَلْمُحَا فَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّا لِحْ والْأًخْذُ بِاالْجَدِيْدِالْاَصْلَحْ

Artinya: “Memelihara tradisi lama yang baik, dan menginovasi tradisi baru yang lebih baik”.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kamu tahu, apa arti namamu?

Penulis: Aji Sofanudin, Mahasiswa S-3 Unnes, Redaktur LPM Edukasi UIN Wali Songo tahun 1997

0 Komentar Arti Sebuah Nama

Posting Komentar

Wikipendidikan
Back To Top