Jumat, 07 April 2017

Ajaran Agama Islam Tentang Cinta Kasih antar Sesama Manusia

Selama ini, orang meyakini agama berbicara tentang kebenaran walaupun tidak jelas konsep kebenaran agama yang mereka tawarkan, apakah kebenaran teologis, korespondensi atau koherensi. Kebenaran teologis yang paling banyak dianut orang beragama adalah kebenaran yang paling tidak jelas ukurannya. Kendati mereka meyakini ukuran kebenaran teologis adalah al-qur'an dan hadis, toh mereka tidak ada yang sama dalam memahami cara bagaimana kembali pada keduanya, apakah menggunakan akal atau tidak. Bahkan, mereka saling klaim kebenaran dan menuduh sesat pihak lain.

Begitu juga banyak orang meyakini agama mengajarkan tentang keadilan kendati konsep tentang keadilan agama itu sendiri juga tidak jelas, apakah keadilan teologis, keadilan distributif, atau keadilan moral. Akibatnya, keadilan yang diyakini dari agamapun menjadi masalah sosial yang tidak jarang melahirkan konflik, terutama antara pihak mayoritas yang meyakininya harus mendapat bagian lebih karena menggunakan konsep keadilan teologis dan distributif dengan pihak minoritas yang merasa harus mendapat keadilan moral.


Kedua pemahaman terhadap agama itu perlu diapresiasi tetapi juga perlu dicerahkan dengan pemahaman yang baru, yakni agama cinta. Agama mengajarkan cinta kasih antar sesama manusia.

Dalam cinta, dua insan yang saling mencintai tidak pernah memikirkan apakah dia benar dan diperlakukan adil atau tidak oleh pasangannya. Masing-masing akan berkorban untuk kebahagiaan pasangannya walaupun toh dia diperlakukan tidak adil, dan kerapkali dipersalahkan. Perlakuan tidak adil dan seringkali dipersalahkan tenggelam di bawah rasa cinta mendalam terhadap pasangannya. Yang satu tidak akan menanyakan "berapa bagian saya", juga tidak akan pernah mengklaim saya yang benar dan engkau salah. Yang ada pada masing-masing keduanya adalah seberapa besar "pengorbanan" yang harus dia berikan kepada pasangannya untuk membuktikan betapa dia mencintainya, kendati pasangannya benar-benar menolak pengorbanan pasangannya.

Andaikata kita memahami agama sebagai ajaran tentang cinta, maka kita tidak hanya tidak akan menyalahkan dan memperlakukan secara tidak adil pihak lain yang berbeda dengan kita kendati dia berlaku tidak adil pada kita dan seringkali melakukan kesalahan, baik mereka berbeda dari segi etnis, agama maupun organisasi dan politik. Sebaliknya, demi kebahagian mereka yang kita cintai, kita tidak hanya siap untuk diperlakukan tidak adil oleh mereka. Tetapi, kita sendiri yang akan memperlakukan tidak adil dan tidak benar terhadap diri kita sendiri, jika tindakan itu menjadi syarat hadirnya kebahagiaan bagi mereka yang kita cintai.

Oleh karena Nabi Muhammad mencintai ummatnya, dia tidak pernah mengutuk mereka yang melakukam kesalahan dan memperlakukam tidak adil terhadapnya. Nabi agung umat islam ini malah berdoa "ampuni dia ya Allah, karena dia tidak tahu bahwa perbuatan nya itu adalah perbuatan yang salah. Beliau melanjutkan, agar dia diberi petunjuk menjadi manusia yang bertaqwa". Para sufi besar semacam ibnu arobi, alhallaj dll. berkorban dengan menyediakan dirinya dibunuh oleh para penganut agama yang "bersumbu pendek" demi dahaga cintanya pada Yang Maha Kasih.

Benarkah agama membuat seseorang menjadi baik?

Inilah pertanyaan yang menghantui saya setiap kali membaca postingan status para pengguna medsos. Karena masing-masing dari mereka mengklaim sebagai yang paling benar dan menuduh yang lain salah, sesat dan menyesatkan dengan menggunakan bahasa agama.

Sebenarnya, agama pada dirinya adalah baik dan memberikan kebaikan. Akan tetapi, baik dan kebaikan agama itu menghilang ketika agama berada di tangan seseorang yang aktif dalam sebuah organisasi dan partai politik. Sebab, seseorang yang berada dalam sebuah organisasi dan partai politik, dia biasanya berfikir dalam kerangka ideologi organisasi dan partai politiknya yang penuh dengan kepentingan. Ketika memahami agamapun, dia menempatkan agama dalam kepentingan ideologinya, baik sebagai pembenar dirinya maupun alat penyesat pihak lain.

Karena itu, kita harus membedakan dan menyadari perbedaan antara agama dengan wacana agama. Jika agama pada dirinya adalah baik dam memberikan kebaikan bagi semua manusia, sebaliknya wacana agama biasanya membawa kebaikan hanya bagi pihak yang mempunyai kepentingan. Atas dasar itu wahai sahabat-sahabat, engkau boleh mengklaim diri sebagai yang benar sesuai kepentingan engkau, tetapi janganlah engkau menuduh pihak lain salah dan sesat karena mereka juga mempunyai kepentingan dengan agama.

Penulis: Dr. Aksin Wijaya, Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top