Kamis, 02 Maret 2017

Tujuan Pendidikan Sejati adalah Penyucian Hati

Dewasa ini semakin banyak orang yang akhirnya menyadari bahwa kecerdasan intelektual seseorang tidak bisi dijakikan tolak ukur keberhasilannya dalam pendidikan. Terbukti begitu banyak orang menderita, mengeluh, dan mencibir orang-orang yang notabene cerdas dan berpendidikan tinggi namun tingkah lakunya banyak yang tidak terpuji, seperti korupsi, gratifikasi, dan masih banyak lagi. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena ilmunya hanya sebatas informasi yang tersimpan di otak, tidak menyentuh hati. Maka sesungguhnya, orientasi pendidikan sejatinya adalah pembersihan hati dengan penanaman nilai-nilai terpuji.

Tujuan pendidikan adalah memperbaiki kualitas hati. Sebab hati ibarat software sistem operasi yang menentukan baik buruknya kerja perangkat fisik manusia. Segala perbuatan yang dilakukan oleh anggota fisik, merupakan manifestasi dari kondisi di dalam hati. Kita akan sulit untuk mendeteksi dan membedakan apakah manifestasi tersebut palsu ataukah asli, sebab kita tidak dapat menyaksikan secara kasat mata keadaan dari hati. Begitu banyak orang yang pandai memanipulasi, menampakkan perilaku yang seakan-akan asli dari hati, namun sebenarnya palsu.


Dua orang yang sama-sama menulis, bisa memiliki niat yang ada di dalam hati keduanya jauh sekali berbeda. Penulis yang satu berniat ibadah dan menyebarluaskan ilmu Allah yang dititipkan kepadanya melalui tulisan agar bisa dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang. Sedangkan penulis yang satunya menulis dengan niat memanipulasi data dan fakta untuk menyerang pihak yang tidak dia sukai dengan berita atau informasi bohong. Hal seperti ini sekarang begitu mudah kita jumpai, terutama di media sosial dan situs-situs internet.

Pendidikan tidak hanya sekedar tau banyak informasi. Namun pendidikan lebih kepada kesucian hati dan keinsyafan diri dari akhlak yang tidak terpuji. Dalam lintasan sejarah islam, sebagian orang Yahudi yang mengetahui isi dari kitab suci mereka, benar-benar yakin bahwa kelak akan lahir nabi akhir zaman bernama Muhammad. Informasi tersebut tertuang dalam Taurat. Namun kemudian, ketika informasi itu terbukti dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW. di tengah-tengah kaum Yahudi, merekapun menolak kehadiran Nabi. Penolakan tersebut dikarenakan kekotoran hati yang diliputi debu-debu kesombongan dan kedengkian.

Maka sejatinya tujuan pendidikan adalah meluruskan hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia melalui kejernihan yang ada di dalam hati. Sama seperti virus yang ada di komputer, hati pun juga bisa terjangkiti virus berupa penyakit-penyakit hati seperti sombong, iri, dengki, riya’, dan sebagainya. Penyakit-penyakit hati tersebut kadang tumbuh subur dan kemudian menyebabkan hati menjadi kotor dan gelap, sehingga sulit menerima hidayah dan pancaran kebenaran ilahi. Akibatnya, yang nampak dalam perilaku lahiriah adalah perilaku-perilaku menyimpang dan tercela yang merugikan serta merusak diri dan orang lain.

Oleh sebab itu para tokoh pendidikan, terutama yang menaruh perhatian dalam dunia sufi seperti Al-Ghazali, orientasi pendidikannya lebih banyak diarahkan pada pembersihan penyakit-penyakit hati. Metode yang digunakan adalah dengan riyadhah memerangi hawa nafsu dan mujahadah, yaitu berjuang sekuat-kuatnya meninggalkan kemaksiatan dan melakukan amal-amal kebaikan. Juga dengan membekali para murid dengan nasehat-nasehat kerohanian serta pengetahuan tentang rahasia hati.

Pendidikan tentang penyucian hati dengan terapi seperti di atas lebih mereka dahulukan daripada pengetahuan-pengetahuan lain. Sebab ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi dengan pendidikan hati yang benar hanya akan menjadikan hati seseorang semakin kotor dan jauh dari Allah.

Kesadaran kita akan kelemahan diri adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan hati. Tanpa hal ini, sebanyak apapun nasehat baik yang kita dengar tidak akan terlalu memberi dampak yang berarti. Kita harus senantiasa intropeksi diri dan waspada dengan penyakit-penyakit hati yang setiap saat mengotori dengan upaya membiasakan menanamkan sifat-sifat yang terpuji.

Kita harus selalu membuka hati untuk menerima apa saja yang bisa menjadikan diri kita lebih baik. Senantiasa merasa butuh akan selalu melihat kebutuhan akan hal-hal yang dapat menghilangkan penyakit-penyakit hati sebagai bagian dari pendidikan sejati yang berorientasi pada penyucian hati.
Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top