Jumat, 17 Maret 2017

Transmodernisme dan Transmodernitas

Transmodernisme merupakan gerakan filsafat dan budaya yang dipelopori oleh Enrique Dussel [seorang filosof Argentina-Meksiko], sedang transmodernitas merupakan konsep filosofis yang ditawarkan oleh Rosa Maria Rodrigues Magda [seorang filosof dan feminis Spanyol]. Baik transmodernisme maupun transmodernitas kemudian memperoleh sambutan luas di kalangan akademisi, cendekiawan, dan aktivitas dari gugusan Hispanik meskipun kurang bergaung di gugusan filsafat dan budaya Anglo-Saxon, Eropa Kontinental, dan Amerika Serikat.

Selain diterbitkan buku tentang transmodernisme [oleh Enrique Dussel] dan transmodernitas [oleh Rosa Maria Rodriques], diselenggarakan pula seminar, diskusi, dan pertemuan ilmiah untuk mengeksplorasi dan mengelaborasi sosok transmodernisme dan transmodernitas. Bahkan kemudian diterbitkan jurnal Transmodernity: Journal of Peripheral Cultural Production of the Luso Hispanic World yang secara ajek memuat tulisan-tulisan seputar transmodernisme dan transmodernitas. Tak mengherankan, transmodernisme dan transmodernitas anti-Eurosentris dan anti-imperalis. Gema dan gairah transmodern(isme/itas) juga tak tampak di belahan wilayah kontinental Eropa, Anglo-Saxon, dan Amerika Serikat. Spanyol, Amerika Latin, dan gugusan wilayah Hispanik lain menjadi tanah subur bagi gerakan transmodernisme/transmodernitas.

gaya hidup modern, wanita modern, modernitas

Transmodernisme/transmodernitas menimba inspirasi pemikiran dari gerakan-gerakan filosofis besar [mulai gerakan pemikiran Renaisans sampai teologi pembebasan]. Sebab itu, transmodernisme/transmodernitas berkembang dari modernisme dan pascamodernisme: bukan mengamini, tetapi mengkritik dan menyiangi serta memanfaatkan unsur-unsur tertentu pemikiran modernisme dan pascamodernisme. Tak heran, gerakan transmodernisme/transmodernitas berbeda gerakan modernisme dan pascamodernisme.

Dalam transmodernisme spiritualitas, keesoterisan, transendentalitas, psikologi transpersonal, dan idealitas ditekankan, sedangkan pesimisme, nihilisme, relativisme, dan pencerahan akal yang menjadi watak dasar modernisme atau pascamodernisme dikritik. Selain itu, dalam transmodernisme/transmodernitas baik tradisi maupun modernitas diberi tempat; gaya hidup antik dan tradisional sama-sama diapresiasi; perbedaan budaya dan apresiasi budaya dipromosikan; enviromentalisme, keberlanjutan, dan ekologi menjadi unsur penting.

Dibandingkan dengan gerakan modernitas dan pascamodernitas, secara garis besar karakteristik gerakan transmodernisme/transmodernitas sebagai berikut:

Pertama, gerakan modernisme/modernitas konon bercirikan dan berkutat pada: realitas, presensi, homogenitas, sentralitas, temporalitas, nalar, pengetahuan, nasional, global, imperialisme, monokultur, telos, hierarki, inovasi, ekonomi industrial, teritori, kota, ras, aktivitas, publik, gairah pribadi, spirit, atom, seks, maskulin, budaya tinggi, kelompok kreatif, kelisanan, karya, naratif, sinema, pers, galaksi gutenberg, dan kemajuan.

Kedua, gerakan pascamodernisme/pascamodernitas kerap dianggap memiliki ciri dan berkutat pada: simulakrum, absensi, heterogenitas, diseminasi, akhir sejarah, dekonstruksi, informasi skeptis, pascanasional, lokal, pascakolonialisme, trans-etnik, multikultur, permainan, anarki, keamanan, ekonomi pascaindustrial, ekstrateritori, suburban, kelas, ketuntasan, pribadi, hedonisme, tubuh, kuantum, erotisme, feminin, budaya massa, melampaui kelompok kreatif, tulisan, teks, visual, televisi, media massa, galaksi mcluhan, dan kembali masa lampau. Secara komparatif, ketiga puluh lima ciri pokok pascamodernisme/pascamodernitas tersebut berbeda dengan ciri pokok modernisme/modernitas.


Sementara itu, ketiga, transmodernisme/transmodernitas diidentifikasi pakarnya bercirikan dan berkutat pada: virtualitas, telepresensi, diversitas, jaringan, kualitas hidup, keunikan diri manusia, antifundamentalisme, transnasional, glokal, kosmopolitanisme, transkultur, strategi, kekacauan terpadu, masyarakat risiko, ekonomi pengetahuan, lintas batas, megalopolis, jaring individu, konektivitas statis, keakraban, kerjasama individu, cyborg, bit, sek siber (cybersex), transeksual, budaya massa terpaket, lintas kelompok kreatif, monitor, hiperteks, multimedia, komputer, internet, galaksi microsoft, dan fantasi akhir. Secara komparatif, ketiga puluh lima ciri pokok transmodernisme/transmodernitas tersebut berbeda dengan modernisme/modernitas dan pascamodernisme/pascamodernitas.

Modernisme/modernitas telah melayarkan bahtera kehidupan kita kepada pelbagai patologi modernitas yang menyakitkan dan menyesakkan kehidupan selain memberi janji-janji kemajuan dan kebahagiaan yang dikecap segelintir orang di muka bumi. Pascamodernisme/pascamodernitas sudah mengarungkan perahu kehidupan kita kepada pelbagai labirin (lorong) panjang yang serba remang-gamang dan riuh-rendah di samping panji-panji kebebasan yang kerap malah menjerumuskan. Akan membawa kita kemanakah transmodernisme dan transmodernitas? Ke dermaga kemajuan dan kebahagiaan atau fatamorgana baru? Mari kita saksikan atau bahkan kita nikmati sembari menikmati hari di tepian-tepian waktu.

Penulis: Prof. Djoko Saryono

0 Komentar Transmodernisme dan Transmodernitas

Posting Komentar

Wikipendidikan - Maha Templates
Back To Top